“Ini antarkan rumput-rumput dan ranting pohon yang saya potong ini ke sana,” kata Om Herman menunjukkan bak sampah di sudut jalan. Malamnya,...
Jahri tak bisa bicara. Hanya matanya yang merah sulit menahan air matanya agar tidak keluar. Ada sesal di dalam hatinya. Ia terlalu...
Uyung bercerita, lepas tepatnya mengarang cerita. Bahwa ia baru saja tiba dari pekon. Keluarga di pekonnya melarat. Adiknya banyak. Jadi, ia disuruh...
Oleh Eddy Rifai WAKTU saya kuliah antara tahun 1980-1985, saya pernah menulis di Harian Umum Lampung Post tentang “Orang Lampung dan Budaya...
Sudah tengah hari. Uyung lapar-haus. Dirabanya lagi kantongnya. Dimasukkannya tangannya mengambil yang ada di dalamnya, ia menghitung uangnya. Cuma ada seribu lebih...
Setiap orang yang membayar, ia perhatikan sambil menaksir-naksir kekuatan keuangannya saat ini dan menimbang-nimbang, apa yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya....
Tidak banyak bicara, Uyung naik angkot. Hanya dia yang naik dari penumpang bus. Angkot tidak banyak penumpang. Hanya ada tiga orang, empat...
Oleh Hermansyah GA AWALNYA saya ragu untuk menuangkan secangkir cerita tentang jalan budaya secara empirik. Sebab, saya bukan siapa siapa dibanding para...
“Mau ke mana?” tanya kenek. “Karang,” ujar Uyung takut-takut. “Sekalian…,” kata kenek. “Sekalian apa?” sahut Uyung. “Ongkosnya,” ucap kenek. “Bang, maaf… saya...
Uyung diam saja. Berjalan ke kamarnya lagi. Yang lain tida tahu bagaimana rasa hatinya. Dadanya panas membara. Ia tidak terima dimarah-marahi seperti...