Negarabatin (61)

“Mau ke mana?” tanya kenek.

“Karang,” ujar Uyung takut-takut.

“Sekalian…,” kata kenek.

“Sekalian apa?” sahut Uyung.

“Ongkosnya,” ucap kenek.

“Bang, maaf… saya tak punya uang. Cuma ada ini,” Uyung memberikan uang Rp5.000.

“Waduh, kurang. Ongkosnya Rp8.000,” kata kenek.

“Tak punya lagi, Bang…,” ujar Uyung.

“Kalau tak punya uang jangan naik mobil…,” kenek mulai marah.

“Saya minta tolong, Bang. Saya perlu benar mau ke Karang,” Uyung menghiba.

“Aih kamu…,” omel kenek.

Uyung diam saja. Kenek maju menagih ongkas pada penumpang lai n. 

Sejak keberangkatan awal dari pasar Negarabatin, hati Uyung tidak menentu. Ditambah lagi dingin menyengat. Jaket tidak cukup. Ia tidak membawa apa-apa. Hanya kantong plastik berisi sarung dan sehelai kaos. Dibukanya plastik, ia me ngambil sarung untuk menutupi sekujur tubuhnya di bus. Kaki ia naikkan ke jok semua. Sarung menutupi seluruh badan kecuali muka seperti orang Negarabatin pada umumnya jika kedinginan. Sarung ini lumayan juga untuk menutupi sekujur badan dan kepala , bersembunyi dari kemungkinan ada yang kenal di bus.

Bus berhenti di rumah makan Sumberjaya. Uyung tidak turun. Takut ada yang tahu dan uang di sakunya sedikit sekali. Itu pun mengambil simpanan maknya. ‘Maaf saya, Mak. Uangmu saya ambil sedikit untuk ongkos dan lainnhya,’ kata hati Uyung.

Kenek tadi  mendekati Uyung kembali. Ditowelnya Uyung yang tetiduran tetapi tidak terlelap di bangku tengah bus.

“Mana kekurangan ongkosnya?” kenek tadi menagih lagi.

“Tidak ada lagi, Bang. Ada sedikit untuk saya kalau sudah sampai di Karang nanti. Saya minta tolong benar,” Uyung menghiba.

Dan, Uyung tidak berbohong.

“Kenapa naik mobil kalau tidak punya uang,” kenek heran juga sebenarnya karena ia bicara dengan anak kecil. “Mau ngapain di Karang?”

Bingung Uyung hendak menjawab. Tapi, stil yakin, ia bilang, “Disuruh bak. Ada yang mau diambil.”

“Oo…”

Kenek masih curiga sebenarnya, tetapi ia tidak bertanya-tanya lagi. Sejurus kemudian sopir menghidupkan mesin mobil. Kenek menuju pintu belakang, turun, dan berteriak, “Ayo… ayo… berangkat. Cepat naik…. Siapa yang belum naik?”

“Ini teman saya di sebelah saya belum naik,” penumpang di depan bicara.

“Di mana dia?”

“Lagi kencing.”

Seorang penumpang masuk bus.

“Sudah semua ya?” tanya kenek lagi.

Karena tidak ada yang menyahut, ia berteriak lagi, “Yuu, tariiik…”

Bus bergerak perlahan. Dari Sumberjaya menuju Bukitkemuning. Dingin sudah mulai berkurang, tetapi Uyung masih menutupi sekujur tubuhnya dengan sarung. Bukitkemuning lewat, Kotabumi, terus Bandarjaya. Sampai di Rajabasa sekitar jam empat mendekati Subuh.

“Sampai… Kita tidak masuk terminal. Di sini saja di pull Sempana Lima,” itu yang didengar Uyung dari mulut kenek tadi.

“Di mana ini?” tanya seorang penumpang.

“Di pull bus. Terminal Rajabasa sudah dekat… Di  sana,” ada yang menunjuk ke arah terminal.

Sepi. Uyung meringkas sarungnya, ia masukkan ke kantong plastik. Tidak lama terdengar suara azan dari masjid. Tidak lama pula, ada angkot.

“Karang, Karang…,” kenek menawarkan angkotnya.

>> BERSAMBUNG