Negarabatin (60)

Uyung diam saja. Berjalan ke kamarnya lagi. Yang lain tida tahu bagaimana rasa hatinya. Dadanya panas membara. Ia tidak terima dimarah-marahi seperti itu walaupun oleh baknya sendiri. Dua hari sebelum Mamak Hardi datang, Uyung dimaki baknya pula karena tidak melakukan apa yang dipesankan maknya agar ke ladang membantu membawa beban maknya.

“Yung, kamu ke ladang, tolong saya membawa beban. Bawaan saya banyak,” begitu pesan Zanaha pada Uyung.

Tapi, tidak dilakukan Uyung. Ia tidak ke ladang. Baknya yang tahu, memarahi Uyung.

Sekarang, belum lagi sembuh sakit hatinya dimarahi, Jahri, baknya mengomeli dia lagi. Uyung memang diam saja, tidak berkata apa-apa, tidak menjawab… Benci Uyung pada baknya. Maknya ikut-ikutan pula tidak peduli dengannya. Tapi, semuanya ia simpan dalam hatinya saja. Tidak dikatakan apa perasaannya kepada siapa-siapa. Dengan Kifli, karibnya pun tidak. Apalagi dia sedang kesal pula dengan Kifli.

Masuk kamar, ia tidur-tiduran saja, membaca-baca apa yang bisa dibaca di dalam kamarnya saja. Tidak konsentrasi. Pikirannya dan hatinya tidak tenang. Kata-kata baknya yang sesungguhnya benar sulit berterima dengannya karena hatinya sedang terluka. Perasaan Uyung hidupnya tidak berguna, orang tuanya tidak sayang lagi dengannya… Buktinya, ia disalah-salahkan terus. Sering serbasalah apa yang ia kerjakan dibuat baknya.

‘Saya sudah besar, masa semua kerja saya dicaci. Semua tidak ada yang ada yang benar,’ Uyung berbicara dalam hati.

Keluar dari kamarnya… ia melangut. Hatinya tidak menentu. Jika ada yang memperhatikan Uyung bolak-balik ke kamarnya, lalu keluar, masuk kamar mak-baknya, ke dapur, setelah itu keluar pula… kotak-katik entah apa yang dikerjakannnya; mestilah curiga, kenapa benar Uyung ini.

Pulang sekolah tadi Uyung di rumah saja. Tidak pula ada yang mempertanyakannya. Seperti tidak apa-apa.

Tidak lama setelah Magrib, Uyung pamit dengan Zanaha, “Mak saya main.”

“Ya, jangan malam-malam pulangnya,” kata maknya.

Uyung bertemu karibnya, Kifli. Mereka berdua ngobrol sampai pukul delapan kurang. Uyuk tak mengatakan kekusutan hatinya. Tidak diceritakan apa rencananya malam ini.

Mendekati jam delapan, Uyung pamit kepada Kifli hendak pulang. Namun, bukannya pulang, melainkan ke pasar dekat terminal. Ia sudah hapal sekira jam delapan ada bus Sempana Lima dari Krui menuju Tanjungkarang.

“Karang, Karang…,” teriak kenek.

Bus berhenti sebentar di terminal, barangkali ada tambahan penumpang.

Tidak bicara, Uyung naik saja ke bus. Kebetulan ada bangku kosong di tengah. Tidak terlalu diperhatikan kondektur siapa yang naik bus. Ai, siapa saja yang naik. Yang penting membayar ongkos, barangkali begitu pikir kondektur.

Uyung merapikan kancing jaketnya. Negarabatin sangat dingin jika malam. Jadi tidak diherankan oleh yang lain jika Uyung berjaket. Sengaja ia mengambil tempat duduk di tengah. Dia melihat ke kiri-kanan khawatir ada yang ia kenal. Sepertinya tidak. Orang Krui semua. Aman, dia pikir.

Tidak lama, kenek berteriak, “Ayo, penumpang… naik,  naik… mobil kita berangkat.”k

Bus mulai bergerak meninggalkan Negarabatin.

Uyung memegang kantong celananya. Ada uang tetapi sedikit. Cukup mungkin hendak membayar ongkos bus Negarabatin-Tanjungkarang. Tapi, jika diserahkan semua kepada keneknya, bagaimana jika sampai nanti. Ah, semoga keneknya tidak tahu ia naik mobil ini. Ia pura-pura tidur saja.

Namun, baru sampai Batukebayan, Uyung ditowel kenek. Uyung mengangkat mukanya dari jok dan melihat ke kenek.

>> BERSAMBUNG