Penulis

Ali Rukman
Pelaku pemberdayaan masyarakat, tinggal di Bandar Lampung. Penulis buku Saya Belajar dari Sini: Pengalaman Mendampingi Masyarakat Lampung Barat (2015).

Christian Heru Cahyo Saputro
Jurnalis bergiat di SEKELEK Institute Publishing House, Jung Foundation Lampung Heritage dan Jaringan Sumatera untuk Pelestarian (Pan Sumatera Network). Menulis buku: Piil Pesenggiri: Etos dan Semangat Kelampungan (2011).

Diandra Natakembahang
Penggiat Budaya dan Bahasa Lampung Gamolan Institute Lampung.

Edy Samudra Kertagama
Lahir di Tanjungkarang, Lampung, 12 Agustus 1961. Menulis sajak sejak 1987. Buku puisinya: Kering (1997), Nyanyian Sunyi (2002), Sajak-sajak Pendek Embun Putih (2004), dan Mantra Sang Nabi (2014). Karya-karya yang lain dimuat di berbagai media dan antologi bersama. Ia diundang dalam beberapa pertemuan sastrawan nasional dan internasional. Saat ini ia Direktur Artistik di Rumah Sastra Mata Dunia dan pengurus Dewan Kesenian Lampung (DKL).

Endri Kalianda
Lahir di Kalianda, 13 Juni 1982. Lulusan STIE Muhammadiyah Kalianda, Lampung Selatan (2011). Mantan Pemimpin Redaksi Koran Editor ini menerima Penghargaan Saidatul Fitriah 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung untuk karya jurnalistik berjudul Bersenyum Manis dari Pringsewu. Sejak pelajar hingga mahasiswa aktif mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi Ikatan Remaja Muhammadiyah.. Hingga sekarang masih menggemari aktivitas tulis-menulis.

Rilda A Oe Taneko
Berasal dari Lampung dan sejak 2005 menetap di Eropa. Ia menyelesaikan Sarjana Sosiologi (Cum Laude) sebagai lulusan terbaik Universitas Lampung. Lalu, melanjutkan studi di Institute of Social Studies of Erasmus University, Belanda. Tahun 2006, ia diundang untuk menghadiri Leadership for Social Justice Institute di Washington DC. Tulisan-tulisannya tersiar di berbagai media dan antologi bersama. Cerita-cerita yang ia tulis ikut dipamerkan di pameran cerita pendek: ‘100 Faces, 100 Stories’ di Newcastle upon Tyne (2010), dan ‘Castle Park Stories: An Exhibition’ di Lancaster (2013), Inggris. Buku-bukunya: Kereta Pagi Menuju Den Haag (kumpulan cerpen, 2010), Anomie (novel, 2017), dan  Seekor Capung Merah (kumpulan cerpen, 2019).


Semacca Andanant
Sastrawan Lampung kelahiran Kotaagung, Tanggamus, 29 Desember 1974. Penulis buku Lapah Kidah Sangu Bismillah: Bandung & Hahiwang (2018).

Udo Z Karzi, Ketua Redaksi 
Lahir 12 Juni 1970 di Liwa, Lampung. Ia lulusan Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (1996). Penerima Penghargaan Kamaroeddin 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung ini menulis dalam bahasa Indonesia dan Lampung. Buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) meraih Hadiah Sastra Rancage 2008 dan novelnya Negarabatin (2016) memenangkan Hadiah Sastra Rancage 2017. Buku-bukunya yang lain – siapa tahu ada yang mau beli, hehee…: Momentum (kumpulan sajak, 2002),  Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh (2012), Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (2013), Tumi Mit Kota (kumpulan cerbun bersama Elly Dharmawanti, 2013), Menulis Asyik (2014), Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali (2016), Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung (2019), dan Lunik-Lunik Cabi Lunik (kumpulan cerpen bahasa Lampung, 2019).

Y Wibowo, Ketua Umum/Bisnis 
Lahir di Lampung, 3 Desember 1974. Menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian berlanjut ketika memutuskan hijrah ke Yogyakarta tahun 1994 untuk melanjutkan studi di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram yogyakarta, sambil tetap aktif pada proses kepenulisan di beberapa komunitas seni dan selebihnya belajar sendiri. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat di berbagai media. Sehari-hari aktif dan bergiat di Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL), dan pimpinan Penerbit BE Press, Lampung. Pemenang Pertama Krakatau Award 2004 untuk sajaknya Narasi dari Pesisir dan terhimpun dalam buku berjudul sama (2014). Buku puisinya:  Opera Kebun Lada (2005).

Zabidi Yakub
Lahir di Bandingagung, Ranau, Sumatera Selatan, 28 Oktober 1961. Bermukim di Bandar Lampung sejak 1994, mengabdi di Harian Lampung Ekspres Plus sejak masih Surat Kabar Mingguan Tamtama hingga kini. Tahun 1998, dan 2004—2010 sebagian puisinya sesekali muncul di koran tersebut, juga beberapa artikel dan  kolom pada rubrik “Kacamata Zabidi”. Sebagian puisi dan catatannya terhimpun dalam Sehirup Sekopi (2018).  Sajak-sajaknya yang lain termuat dalam Negeri Para Penyair: Antologi Puisi Mutakhir Lampung (2018).

To Top