Cerita Bersambung

Negarabatin (65)

Uyung bercerita, lepas tepatnya mengarang cerita. Bahwa ia baru saja tiba dari pekon. Keluarga di pekonnya melarat. Adiknya banyak. Jadi, ia disuruh orang tuanya mencari kerja ke kota. Ditanya sekolah, ia mengatakan tamat SD, tetapi ia tidak melanjutkan pendidikan karena ketiadaan biaya. Karena itu, ia meminta harap agar bisa bekerja di rumah ini.

“Apa pun kerjaan, saya mau,” Uyung meyakinkan perempuan tadi.

Jika melihat kondisi Uyung sulit untuk tidak percaya bahwa Uyung memang miskin. Bajunya tidak baru. Meskipun tidak sobek, warnanya sudah mulai pudar. Rambutnya agak panjang walau tidak kusut-masai. Perempuan tadu melihat ke luar rumah di depan pintu, Uyung rupanya hanya memakai sandal jepit burukan. Sudah bolong pula tepat di tempat tumitnya menapak karena terlalu lama berjalan sejak Subuh sampai Magrib seharian di kota ini. Tapi, Uyung tidak bercerita seharian ia berjalan mengelilingi Bandar Lampung.

Hanya, barangkali, kulit putihnya yang sulit mengelabui bahwa Uyung memang orang melarat. Khawatir juga ibu tadi kalau-kalau Uyung hanya pura-pura miskin untuk menipu. Jadi, ditanyainya Uyung macam-macam seperti salah, berapa rakaat Subuh, Zuhur, Asyar, Magrib, dan Isya, apa bacaannya, dan bisa membaca Alquran tidak. Oleh karena Uyung memang belajar agama dan mengaji di rumah, di surau, dan di sekolah, tidak terlalu sulit ia menjawabnya.

“Benar kamu mau bekerja di sini?”

“Iya, Bu,” Uyung cepat menjawab.

“Ya, sudah kalau begitu. Boleh kamu membantu-bantu Tinah. Nanti saya kasih tahu suami saya. Tapi, jangan macam-macam ya. Suami saya polisi. Kantornya dekat dari sini, itu di belakang situ,” ujar Ibu tadi.

Gemetar juga Uyung. Tapi, tidak apa-apa. Yang penting sekarang ada tempat menumpang. Ditambah pula dia memang tidak hendak berbuat jahat ke rumah ini.

Untung benar Uyung bertemu orang baik yang mau menerima dia. Oleh pemilik rumah ia diberi kamar kecil di belakang dekat dapur yang kebetulan tidak dipakai ada katilnya. Ia diberi pula sarung dan kaos bersih. Begitulah malam ini bisa tidur lebih baik di rumah juga. Bukan menggelandang seperti yang ia saksika subuh tadi.

Mujur benar Uyung ini.

***

Negarabatin heboh. Uyung hilang, begitu cerita dari mulut ke mulut. Bermacam-macam cerita timbul setelah Uyung minggat dari rumah.

Sejak malam ketika Uyung dimarahi Jahri hati Zanaha tidak enak sebenarnya. Zanaha tambah cemas karena Uyung tidak juga pulang sampai tengah malam. Biasanya Uyung pulang malam paling lambat jam 12. Dikatakannya kepada Jahri, tetapi Jahri hanya bilang, “Biarkan saja. Paling sebentar lagi pulang.”

Tapi, Uyung tidak pulang juga sampai pagi, sampai anak-anak bersiap berangkat sekolah. Jika minao di tempat temannya biasanya Uyung bilang. Tapi, semalam Uyung sama sekali tidak mengatakan akan minap. Satu rumah mulai khawatir. Bertanya-tanya ke siapa saja. Kifli yang ditanya mengatakan tidak tahu.

“Tidak tahu. Semalam Uyung memang datang ke sini. Tapi, hanya sebentar sampai jam delapan kurang. Kemudian ia pamit pulang. Entah kalau…. Semalam ia membawa kantong pelastik. Apa isinya, dia tidak member tahu…,” kata Kifli.

Begitu juga temannya yang lain. Tetangga begitu pula, tidak mengetahui. Tapi, ada yang mengatakan Uyung semalam sempat berdiri-berdiri di dekat tugu pasar di depan Toko Sarbini.

Tidak terlalu jelas. Zanaha sudah meraung, “Salahmu, Udo. Uyung dimarah-marahi terus. Dia singkuh[1]….”

Tamong Hakim marah pula pada Jahri. “Manalah tamong ini. Kenapa pula kok diomel-omeli terus tamong ini. Namanya juga anak-anak belumlah apa yang dikerjakannya sesua dengan apa kehendak yang tua. Sekarang, mau dicari ke mana tamong ini?”

>> BERSAMBUNG


[1] ngambek, lebih mengarah ke perasaan sakit hati merasa tak berguna, tidak disayangi lagi oleh orang yang selama ini dekat.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top