Cerita Bersambung

Negarabatin (66)

Jahri tak bisa bicara. Hanya matanya yang merah sulit menahan air matanya agar tidak keluar. Ada sesal di dalam hatinya. Ia terlalu keras terhadap anak tertuanya ini.

Orang-orang berkumpul di rumah keluarga Jahri. Membicarakan bagaimana mencari Uyung. Berbag­­­­ai cara. Ada yang mencari ke ladang-ladang, kebun, sawah, gubuk, ham, hutan… semua tempat yang mungkin dikunjungi Uyung dan menjadi tempatnya bersembunyi, Ada yang sampai ke dukun. Malamnya diputuskan membaca Surat Yassin beramai-ramai agar sampai ke hati Uyung dan tergerak hatinya mengingat rumah, orang tua, tamong-kajjong, adik-adik, dan handai tolannya.

Tidak juga ada pertanda Uyung hendak diketemukan.

Diputuskan Jahri dan beberapa orang akan mencari di Tanjungkarang karena ada kabar dan begitu pula kata orang pintar bahwa Uyung masih di Tanjungkarang.

“Boleh dicari di Tanjungkarang. Ia masih di sana. Ada yang menghalanginya mengapa ia tidak sampai ke Jawa. Kalau dia sudah menyeberang ke Jawa, sudah lebih sulit. Tidak bakal kembali. Tidak mungkin bisa bertemu…” Begitu kata orang pintar yang makin menambah tak menentunya hati Zanaha, Jahri, tamong dan kajjong-nya, dan minak-muari semuanya.

***

Kembali ke Uyung lagi. Subuh-subuh Uyung sudah dibangunkan azan dari Masjid Taqwa Bhayangkara di dekat Maporesta Bandar Lampung Jalan MT Haryono, Gotongrotong, Tanjungkarang. Masjid ini rupanya di belakang rumah tempat Uyung menumpang di Jalan A. Yani. Tapi, tidak Uyung ketahatui nama-nama jalan tersebut sebelumnya.

Tidak pula ia ketahui jika serumah di tempatnya menumpang sedang bertanya-tanhya siapa benar Uyung ini. Mereka masih berpikir-pikir hendak memberi tahu wartawan Lampung Post yang kantornya tinggal menyeberang jalan di depan rumah. Berita Anak Hilang! Atau, kalau mau melapor ke kantor polisi, Pak Nikman memang bekerja di Polresta.

Bangun tidur, Uyung tidak langsung bangkit. Semalam ia sebenarnya tidak lelap tidur. Badannya terasa pegal semua. Bagaimana tidak, berjalan kaki keliling kota seharian kemarin. Tak bisa tidak, sejak semalam mulai terasa…  Mengingat orangtuanya, adik-adiknhya, tamong, kajjong, dan teman-temannya hanya membuat hatinya resah. Air matanya tak bisa ia tahan sepanjang malam. Ia tertidur karena capai menangis tanpa suara. Dan, memang capek secara fisik setelah berjalan jauh. Tapi, baru saja tertidur, ia terperanjat bangun, terus menangis tanpa suara. Ia bermimpi mak-bak-nya.

“Sudah bangun, Sir?” sapa Tinah.

O iya, Uyung mengaku bernama Yasir Irawan ketika baru tiba di rumah ini kemarin sore.

“Sudah,” jawan Yasir Irawan.

“Salat Subuh dulu. Itu musalanya,” Tinah menunjukkan tempat salat.

“Ya.”

Setelah sembahyang, Uyung alias Yasir Irawan seperti sempoyongan. Semua dalam penglihatannya seperi berputar-putar.

“Kenapa?”

“Entah, kepala saya sakit,” ujar Yasir.

Dipegang Tinah kening Yasir. Ya, memang agak panas.

“Coba saya tanya Ibu. Ada obatnya tidak,” kata Tinah.

Yang datang malah Ibu Chairani yang kemarin menerima Yasir. Sama, ia raba kening Yasir. Lalu, diberinya obat.

“Masuk angin. Ini makan obat ini. Kamu istirahat saja dulu,” saran Chairani.

Aduh Uyung, katanya hendak bekerja di rumah ini kok malah membuat susah pemilik rumah. Ia tidur-tiduran sebenar. Tapi, dia tak bisa lelap. Kemudian, tak lama, dikuat-kuatkannya badannya untuk membantu mereka yang di rumah. Seperti memarut kelapa. Membantu pula Oom Herman, adik Chairani yang kebetulan tinggal pula di rumah ini merapikan tanaman pagar hidup di depan rumah dan tanaman-tanaman lain.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top