Cerita Bersambung

Negarabatin (67)

“Ini antarkan rumput-rumput dan ranting pohon yang saya potong ini ke sana,” kata Om Herman menunjukkan bak sampah di sudut jalan.

Malamnya, Uyung diminta Ibu Chairani mengurut Pak Nikman. Selama mengurut, ia malah mengingat mengurut Tamong Hakim atau bak-nya.

Tidak banyak pekerjaan sebenarnya karena sudah banyak yang membantu di rumah ini. Anak Pak Nikman dan Ibu Chairani ada dua lelaki-perempuanumurnya kira-kira sembilan dan lima tahun.

Dua malam Uyung sudah di rumah ini. Di pekon, sudah jelas Yasir Irawan, eehh… Uyung, bersekolah, ke ladang, sawah atau bermain dengan adik-adik atau teman-temannya, bermacam-macam kegiatan yang suka mereka lakukan. Ini sekarang di rumah orang lain. Semua pekerjaan sebenarnya tidak berkenan dalam hatinya. Tapi, apa boleh buat. Bukankah ini mau dia sendiri. Dia sendiri yang meminta pekerjaan di sini.

Tapi, malam ketiga, selepas Magrib, tidak tertahan hati Uyung. Berbagai perasaan dan rasa cemas menghinggapinya.

Ia bicara dengan Ibu Chairani, “Bu, sebenarnya saya punya famili di sini?”

“Famili?”

“Iya, Paman. Tempatnya…. di Jalan Sekala Brak, Bu.”

“Di mana itu Jalan Sekala Brak?”

“Saya pernah ke ketika masih kelas dua SD.”

Chairani memanggil Herman. “Man, kamu tahu di mana Jalan Sekala Brak?”

“Di mana ya?” Herman mencoba mengingat-ingat. “Sepertinya tidak ada yang namanya Jalan Sekala Brak.”

“Kamu masih ingat tidak tempatnya, Sir?” tanya Chairani.

“Jalan raya dari Karang sebelah kiri ada lapangan dan gereja. Nah, di antara lapangan dan gereja ada tanjakan namanya Jalan Sekala Brak,” ujar Uyung.

“Cari, Man. Coba bonceng Yasir. Kalian berdua mencarinya bersama.”

“Ya, Kak,” ujar Herman.

Herman berjalan mengambil motor Vesvanya. Ia mengengkol motornya.

Ketika sudah hidup, ia bicara, “Ayo Sir. Naikk!”

Keluar dari halaman rumah. Melawan arus sedikit di Jalan Ahmad Yani, motor berbelok ke Jalan MT Haryono, melewati Jalan MH Thamrin, terus di Jalan Pangeran Diponegoro, terus belok kiri menanjak di Jalan Nusa Indah.

“Ini lapangan. Sebelah kanan itu Gereja HKBP. Tapi ini Jalan Nusa Indah, bukan Jalan Sekala Brak. Coba ingat-ingat yang mana rumahnya,” kata Herman sambil tetap konsentrasi membawa skuternya.

“Ya, Oom,” sahut Yasir.

“Ini saya pelan-pelan. Lihat-lihat yang mana rumahnya,” ujar Herman lagi.

Diingat Uyung rumahnya sebelah kanan dari bawah. Satu per satu ia perhatikan.

Nah, Uyung berkata, “Mundur, Oom. Sudah kelewatan.”

Herman menghentikan motornya.

“Mana?” tanya Herman.

“Itu!” Uyung menunjukkan rumah bercat hijau. Nomor 14.

Uyung langsung masuk gerbang. Ramai. Diperhatikannya benar-benar. Betul ini rumahnya…. Uyung keluar lagi hendak member tahu Herman, rumahnya sudah ketemu. Tapi, langsung ada yang memegangnya.

“Ini dia Uyung,” kata Pakbalak Sakwan yang memegang Uyung. Cukup keras suaranya.

Ya, benar. Ini kediaman Pakbatin Yusri. Sudah banyak perubahan rumah ini jika dibandingkan ketika Uyung ke rumah ini terakhir 1981. Kala itu Uyung bersama Jahri, bak-nya mengambil beasiswa karena ia mendapat rangking kelas di Kotabumi, lanjut ke Tanjungkarang. Menumpang minap walau semalam.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top