Setiap orang yang membayar, ia perhatikan sambil menaksir-naksir kekuatan keuangannya saat ini dan menimbang-nimbang, apa yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya.
Ah, yang penting makan. Begitu kata hatinya yang membuat tangannya bergerak mencomot bakwan. Sehabis itu mengambil pisang goring. Sudah, cukup dua saja.
“Minta minum,” ujar Uyung pada perempuan yang melayani pembeli.
Makan sudah walau bukan makan nasi. Lumayan untuk mengganjal perutnya.
Melanjutkan perjalanan. Kenet angkot menawarkan jasa terdengar seperti bersaing menawarkan jasa kepada calon penumpang yang hendak ke Rajabasa, Telukbetung, Pahoman, dan tempat lain. Mobil merah lewat di depan Uyung, kenetnya berteriak, “Teluk, Teluk…”
“Ya,” sahut Uyung.
Uyung naik. Sampai terminal pula. Turun sambil memberikan ongkos. Dari Terminal Teluk, ia berjalan kaki mengikuti jalur angkot ke Panjang. Menghemat ongkos. Uang di kantongnya sedikit lagi. Lumayan jauh juga. Tapi, tidak masalah bagi Uyung yang terbiasa berjalan jauh di pekon. Tapi, ia sekarang bukan di pekon di pegunungan yang masih banyak pohon dan tanaman peneduh sehingga tidak terlalu panas. Ia sedang berada di kota yang sepanjang jalannya hampir tak ia temui pepohonan dan penghijauan yang sejuk. Matahari terasa menyengat. Sudah jelas panas sekali. Apalagi dekat laut. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Ia tidak peduli. Ia terus saja berjalan.
Betapa hausnya. Di tengah perjalanan, ia melihat ada warung makan. Sebenarnya ia masih belum kenyang. Tapi, uangnya tidak cukup untuk makan. Tak berani ia meminta makan di warung.
“Maaf Bu, minta air minum,” ujarnya pada yang menjaga warung.
Heran penjaga warung melihat Uyung yang penuh keringat sekujur tubuhnya, pakaiannya basah, dan mukanya merah seperti udang rebus karena kepanasan. Barangkali karena kasihan, cepat-cepat diambil orang tersebut segelas air putih. Glek, glek, glek… Uyung yang masih berdiri tidak duduk sama sekali cepat menghabiskan segelas air. Setelah air di gelas tandar, baru teringat Uyung perkataan mak, kajjong, dan yang lainnya di pekon, “Kalau makan-minum duduk. Jangan berdiri. Tidak boleh.” Tapi, ai kidah, ia haus sekali.
Gelasnya kosong. Ia sodorkan kepada perempuan tadi.
“Terima kasih,” ujarnya.
“Kamu mau ke mana?” orang tadi bertanya.
“Ah, jalan-jalan saja,” Uyung berbohong.
“Tidak masuk. Makan-makan dulu?”
Uyung menggelengkan kepala.
“Saya terus, Bu,” pamit Uyung sambil mengangkat kakinya mulai berjalan kembali.
Uyung pun sampai di jalan di depan Pelabuhan Panjang. Ia melihat beberapa kapal berhenti di pinggir laut. Beberapa mobil lewat di dekat kapal membawa peti-peti besar. Ada juga yang sedang mengisi muatan. Uyung penasaran. Bagaimana caranya masuk, pikirnya. Di gerbang tempat truk-truk besar lewat, ia mencoba masuk. Tapi dilarang penjaga.
“Eee… mau ke mana kamu?” tanya penjaga sambil memegang baru Uyung.
“Masuuk,” Uyung menjawan ketakutan.
“Aih… tidak boleh… Ini tempat bongkar-muat barang,” ujar penjaga lagi.
“Jalan mana masuk?” Uyung bertanya masih takut-takut.
“Kan sudah saya bilang, tidak boleh. Sudah, menjauh dari sini,” intonasi suara penjaga naik.
Terpaksa Uyung menjauh dari Pelabuhan Panjang. Duduk di lapangan dekat Pelabuhan Panjang pinggir jalan. Ia lihat-lihat kapal-kapal, mobil-mobil besar, dan barang-barang diturun-naikkan dari dan ke kapal.
Bagaimana caranya naik kapal mau menyeberang ke Pulau Jawa, kata hati Uyung. Kenapa masuk saja tidak boleh. Aduh, Uyung tidak tahu bahwa Pelabuhan Panjang pelabuhan peti kemas. Bukan pelabuhan penumpang seperti Bakauheni. Jika hendak ke Bakauheni perlu naik bus lagi. Uyung, Uyung… namanya juga anak kecil.
>> BERSAMBUNG