Negarabatin (62)

Tidak banyak bicara, Uyung naik angkot. Hanya dia yang naik dari penumpang bus. Angkot tidak banyak penumpang. Hanya ada tiga orang, empat termusuk Uyung, isi angkot. Tapi walau sedikit penumpang, angkotnya hampir penuh oleh macam-macam barang dan sayuran. Agaknya yang punya bawaan hendak berangkat berjualan ke pasar.

“Mau ke mana?” tanya kenek kepada Uyung.

Iya pula, mau ke mana aku ini, kata hati Uyung. Lama ia diam.

“Ke Peringkuning,  Bang,” ujarnya.

“Peringkuning? Di mana itu? Bambukuning ya?” kenek heran.

“Aih, iya, ke Bambukuning,” Uyung tersipu.

Rupanya hanya itu nama tempat di Tanjungkarang yang ia ingat.

Lama juga angkot berjalan. Sering berhenti pula di setiap mulut gang.

Kenek selalu berteriak-teriak, “Karang, Karang… Karang?… Kosong…”

Angkot berjalan lagi. Uyung bertanya, “Masih jauh ya Bang, Bambukuning?”

“Masih jauh. Nanti kalau sampai, saya kasih tahu,” kata kenet.

Dua tiga kali dia bertanya ke kenet dan hampir sama.

Sampai di hadap Bioskop King dekat Tugu Juang, kenek berkata, “Bambukuning… Bambukuning, di sini.”

Uyung bingung tidak tahu. Jadi, diam saja.

“Bambukuning kan, Dek?” kenek bicara pada Uyung.

“Iya,” sahut Uyung.

“Di sini…”

“Di mana Bambungkuningnya?”

“Adik turun di sini. Terus jalan lurus ke situ. Nanti kelihatan ada bacaannya.”

“Ya, Bang,” Uyung turun dari angkot.

Masih Subuh, Uyung berjalan ke arah Bambukuning. Dia melihat beberapa orang tidur di depan ruko-ruko yang belum buka. Mungkin ini yang namanya gelandangan, pikirnya dan ia ingat cerita novel Oliver Twist karya Charles Dickens yang pernah ia baca bergantian dengan Kifli. Ia melihat mereka tidur saja di atas lantai depan ruko beralas koran, kardus atau ada pula yang tidak memakai alas. Baju yang  mereka pakai kotor sekali karena agaknya berhari-hari tidak pernah dicuci, ada yang sudah sobek di sana-sini.

Ditengoknya baju dan celananya. Meskipun tidak baru, bersih karena sering dicuci maknya. Walau sejak kemarin baju itu ia kenakan, pakaiannya dibaui masih tidak terlalu bau. Belum terkena keringat. Melihat pakaian gelandangan dan lalu pakaiannya. Ia pun membandingkan, mulai terasa olehnya perbedaan antara dirinya dan gelandangan-gelangan itu. Hanya mulai tak enak dan ingat dengan maknya. ‘Sedang apa mak ya? Mak mencariku tidak ya?’ Uyung bicara hanya dalam hati.

Teringat itu, seperti menyesal ia minggat dari rumah dan sekarang sudah sampai di Tanjungkarang. Tapi, sudah telanjur. Entah apa yang membuat hatinya panas sekali terhadap baknya. Ia marah sekali. Sama sekali tak sejuk sampai sekarang.

“Tiiin….,” bunyi panjang klakson mobil hampir saja menabrak Uyung.

Uyun terloncat minggir.

Tapi, tak urung kena damprat juga. “Hei, mau mati kamu ya,” sopir mobil membentaknya.

Tidak dipedulikannya. Uyung melanjutkan langkahnya.

Subur bergeser pagi. Matahari mulai muncul. Jalanan bertambah ramai. Di Bambukuning, Uyung malah bingung. Mau masuk, tetapi ketika dirabanya kantongnya, hanya ada beberapa ribu. Apa yang hendak dibeli? Uyung masuk.

Berputar-putar tidak tentu, ia berjalan ke Terminal Pasar Bawah. Aih, lapar juga. Sejak semalam perutnya tidak terisi. Ia melangkah lagi. Dilihatnya ada warung-warung tenda kecil di pinggir-pinggir terminal. Ramai orang di dalam warung. Dirabanya lagi kantongnya. Cukup tidak ya uangnya kalau makan di sini, kata hatinya. Ah, ia  berani-beranikan duduk di bangku warung. Lama ia hanya melihat orang makan bermacam-macam. Ada pula nasi dan macam-macam lauk tempe, tahu, ikan sampai ayam.

>> BERSAMBUNG