Cerita Bersambung

Negarabatin (64)

Sudah tengah hari. Uyung lapar-haus. Dirabanya lagi kantongnya. Dimasukkannya tangannya mengambil yang ada di dalamnya, ia menghitung uangnya. Cuma ada seribu lebih sedikit. Dicari-carinya kalau-kalau ada tempat orang berjualan makanan. Tidak ada. Jadi, Uyung naik angkot sampai Terminal Teluk. Membayar ongkos Rp250. Sampai di terminal mencari tempat makan. Membayar makan Rp450. Aduuh… berapa lagi tersisa uangnya. Tertingal Rp525 lagi. Naik mobil lagi sampai Tanjungkarang. Ongkos Rp250. Tinggal Rp275. Waduh…

Dari Telukbetung, Uyung sudah di Tanjungkarang lagi. Berjalan kaki berputar-putar tak tentu mengikuti jalan yang lurus, berbelok, dan bercecabang di berbagai sudut. Berhenti sebentar melepas rasa pegal kakinya sambil memperhatikan kerja orang-orang, berjalan lagi, berhenti, jalan … Entah mana-mana jalan yang dilewatinya. Kadang-kadang ia membaca petunjuk jalan, berkali-kali ia mendengar teriak kenet dan mengikuti arah angkot: Pasarbawah, Enggal, Pahoman, Rawalaut, Lungsir, Pakiskawat, Gotongroyong, Durianpayung, Kampungsawah, Bambukuning, Lebakbudi, Gedongair, Langkapura, Kemiling, Kedaton, Rajabasa, … macam-macam tempat didatangi atau dilewatinya.

Seharian Uyung berjalan tidak menentu, tidak tahu mau ke mana. Uangnya ludes juga tak tentu. Lapar, haus, letih ia rasanya.

Sore. Matahari sudah  hampir tenggelam. Artinya, sebentar lagi malam. Azan Magrib sudah berkumandang dari masjid-masjid. Uyung linglung.

‘Inai, mau tidur di mana aku ini. Ogah jika tidur di jalan atau di depan toko-toko seperti yang ia lihat subuh-subuh tadi,’ Uyung berkata dalam hati.

Ia mulai cemas.

Ia berhenti di tengah trotoar. Ia mengedarkan matanya ke kiri-kanan, depan-belakang. Ia tidak tahu jika ia sedang berada di Jalan A. Yani, dekat rumah-rumah dinas polisi. Kalau tadi ia belok kiri, ia akan bertemu dengan Markas Polresta Bandar Lampung. Tapi, ia tidak menyimpang, ia terus sedikit dari pertigaan. Dia melihat empat rumah dua gandeng yang sama modelnya. Satu pasang pas di belokan. Sepasang lagi di sebelahnya. Berdiri di salah satu satu rumah, di atas pintu, ia membaca nama: Nikman Hasan.

Nama yang Islami. Otaknya langsung terhubung dengan guru agama sekolahnya di Negarabatin, Pak Nikman. Sepertinya ini orang baik. Ya sudah, Uyung mau mencoba mengetuk pintu rumah ini.

“Assalamualaikum,” dua-tiga kali mengucap salam dan mengetuk pintu tidak ada yang menyahut.

Berhenti dulu. Ia numpang duduk di teras rumah sembari mengedarkan perhatian ke sekeliling rumah. Rumah yang asri, bersih, dan terawat baik dengan pepohonan peneduh dan bunga-bunga penyegar mata.

Beberapa menit, ia coba lagi mengetuk dan mengucap salam. Belum juga ada yang merespon dari  dalam. Ia hampir putus asa. Tidak salah lagi, ia akan tidur di jalanan malam ini. Tapi, pada ketukan yang kesekian, ada yang menjawab, “Waalaikum salam. Ya, sebentar…”

Seorang perempuan membuka pintu sedikit saja.

“Siapa?” tanya perempuan dari balik pintu dan hanya menongolkan kepalanya.

Uyung diam, sulit ia hendak bicara.

“Mau ketemu siapa?” perempuan tadi bertanya lagi.

“Mau ketemu Pak Nikman,” akhirnya keluar juga suara Uyung.

“Oh, lagi tugas. Belum pulang.”

Uyung resah. Perempuan tadi mulai curiga. Apalagi Uyung terlihat kuyu, lusuh, dan dekil bin kumal.  

Terdengar suara dari dalam, “Siapa, Nah?”

Tidak lama keluar seorang perempuan pula. Ini berbeda dengan perempuan yang tadi. Perempuan ini cantik, putih, dan kulitnya tampak lebih bersih terawat.

“Ini anak-anak. Mau bertemu Bapak?” ujar perempuan yang pertama.

Perempuan yang baru datang memperhatikan benar-benar keadaan Uyung.  

“Ada perlu apa?” ia bertanya.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top