Fiksi

Negarabatin (33)

Mungkin sekitar lima kilometer dari repong kopi dari Selipas ke pekon. Lumayan jauh. Berjalan kaki. Tak ada mobil, tak ada motor. Walaupun ada ya tidak…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (32)

Dari kopi inilah, kami anak-anak di Negarabatin bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. JIka memang ingin. Tapi kalau tidak mau, lebih baik pula ngajong mengura[1]. Hahai……

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (31)

Di Negarabatin sepertinya ada perhitungan kapan mulai musim tanam sehingga nanti saat panen bersamaan pula. Kesepakatan tidak tertulis ini tidak ada yang berani mengingkarinya. Tidak…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (30)

Biasanya, ngusi ini saat kemarau. Jika hendak nyuwah[1] tidak lagi susah karena rumput dan pohon-pohon cepat kering terkena matahari. Dua tiga hari setelah ngusi sudah…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (29)

Kuteliti pohon aren. Oh, ini buah anau. Yang tisebak gagang buahnya yang belum tua. Jika sudah tua sudah menjadi kolang-kaling, tangkainya sudah kering tak bernira.…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (28)

#9 SAPSADA[1] BERBUNYI SORE Kehidupan kami seperti kebanyakan orang Negarabatin, yaitu hidup dari bercocok tanam. Pekerjaan tamong-kajjong, bak-mak yaitu bedarak, ngebun kahwa, dan nyabah. Sebenarnya…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (27)

Kami yang baru saja datang kaget. Berlari kencang kami semua. Ada pula yang sampai jatuh-jatuh dan masuk sawah karena kesandung. Basah semua bajunya. Tapi, segera…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (26)

“Maman, Pak!” “Kifli….” “Nur….” “Sekarang, kembalikan buku dengan temanmu,” ucap Pak Johan. Ai kidah, aku tetap ada yang selip, salah satu. “Siap, siap… buka tangan…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (25)

Di lain hari pula, gilaran Pak Baswan yang marah di kelas. Waktu itu  Pak Baswan mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ia menerangkan dua musim di…

Udo Z Karzi ·

Negarabatin (24)

“Kalian berdua, tutup mata kalian,” kata Pak Irsan lagi. Beberapa orang dari kami ada yang diminta Pak Irsan mencari dua ember besar dan gayungnya. “Isi…

Udo Z Karzi ·