Negarabatin (33)
Mungkin sekitar lima kilometer dari repong kopi dari Selipas ke pekon. Lumayan jauh. Berjalan kaki. Tak ada mobil, tak ada motor. Walaupun ada ya tidak…
Mungkin sekitar lima kilometer dari repong kopi dari Selipas ke pekon. Lumayan jauh. Berjalan kaki. Tak ada mobil, tak ada motor. Walaupun ada ya tidak…
Dari kopi inilah, kami anak-anak di Negarabatin bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. JIka memang ingin. Tapi kalau tidak mau, lebih baik pula ngajong mengura[1]. Hahai……
Di Negarabatin sepertinya ada perhitungan kapan mulai musim tanam sehingga nanti saat panen bersamaan pula. Kesepakatan tidak tertulis ini tidak ada yang berani mengingkarinya. Tidak…
Biasanya, ngusi ini saat kemarau. Jika hendak nyuwah[1] tidak lagi susah karena rumput dan pohon-pohon cepat kering terkena matahari. Dua tiga hari setelah ngusi sudah…
Kuteliti pohon aren. Oh, ini buah anau. Yang tisebak gagang buahnya yang belum tua. Jika sudah tua sudah menjadi kolang-kaling, tangkainya sudah kering tak bernira.…
#9 SAPSADA[1] BERBUNYI SORE Kehidupan kami seperti kebanyakan orang Negarabatin, yaitu hidup dari bercocok tanam. Pekerjaan tamong-kajjong, bak-mak yaitu bedarak, ngebun kahwa, dan nyabah. Sebenarnya…
Kami yang baru saja datang kaget. Berlari kencang kami semua. Ada pula yang sampai jatuh-jatuh dan masuk sawah karena kesandung. Basah semua bajunya. Tapi, segera…
“Maman, Pak!” “Kifli….” “Nur….” “Sekarang, kembalikan buku dengan temanmu,” ucap Pak Johan. Ai kidah, aku tetap ada yang selip, salah satu. “Siap, siap… buka tangan…
Di lain hari pula, gilaran Pak Baswan yang marah di kelas. Waktu itu Pak Baswan mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ia menerangkan dua musim di…
“Kalian berdua, tutup mata kalian,” kata Pak Irsan lagi. Beberapa orang dari kami ada yang diminta Pak Irsan mencari dua ember besar dan gayungnya. “Isi…