Cerita Bersambung

Negarabatin (33)

Mungkin sekitar lima kilometer dari repong kopi dari Selipas ke pekon. Lumayan jauh. Berjalan kaki. Tak ada mobil, tak ada motor. Walaupun ada ya tidak bisa karena jalannya hanya jalan setapak cukup untuk orang berjalan. Dari rumah Uyung menuruni tebing yang dibuat tanahnya dibuat bertangga, melewati sawah-sawah di Setiwang, naik tebing lagi, tibalah di Seranggas. Belok kanan ke Tebakandis dan Sebidak. Ambil jalan ke kiri kea rah Selipas. Itu pula jangan salah belok jika ada persimpangan. Jika salah sudah tentu tersesat.

Jika jalan yang ditempuh sudah benar, harus melewati Halian Rubok. Ada sawah-sawah tua juga di tepi Halian Rubok itu. Menyeberangi titi[1] dari bambu. Titi ini terdiri dari beberapa bamboo yang ditumpuk-tumpuk. Mesti berhati-hati dan menjaga keseimbangan badan saat melewatinya karena titi akan bergoyang-goyang saat diinjak dan dilewati. Jika tidak terlatih, sering dikira titi hendak roboh atau orang yang akan jatuh ke halian. Jika kemarau tidak terlalu masalah, air sungai tidak seberapa, paling hanya basah kuyup – asal tidak terkena batu atau kayu yang ada di halian. Tapi, jika musim penghujan, halian sering banjir. Walau tidak hujan di Selipas, halian sering meluap karena hujan di pematang yang menjadi hulu sungai. Jatuh dari titi, jika tidak bisa berenang, tentu akan dibawa arus halian.

Tapi tidak kuingat ada yang jatuh dari titi di halian. Orang Negarabatin sepertinya sudah biasa menyeberangi sungai dengan titi ginjit-ginjit[2] ini.  

Saat ke ladang, jangan terlalu sore pulang jika tidak ingin nanti jalan sudah gelap. Biasanya sebagai pertanda harus segera kembali ke pekon, burung sapsada sudah berbunyi. “Saap sa da…, saap sa da….” Begitu bunyinya berulang-ulang. Entah oleh siapa bunyi burung ini dilanjutkan menjadi, “Saap sa da… mulang geta[3]”. Sudah hampir malam artinya. Yang sedang bekerja di ladang atau kebun mesti bergegas jika hendak pulang. Tapi, jika ingin menunggu ladang lain hal.

Jika sudah senja, peladang muncul satu-satu dari kebun atau ladang di jalan, ngebabai sai ngebabai, nyuncun sai nyuncun, nyerdang sai nyerdang hasil ngunduh kahwa. Berjalan arah pulang ke pekon. Asyik. Melewati jalan setapak, berbelok-belok, beriring-iring bersamaan dengan bunyi semua binatang: wir-wir, jangkrik, nyamuk, burung hantu, bermacam-macam… Itulah orchestra senja yang dimainkan musikus alam.

***

Pulang sekolah, meskipun tidak musim kahwa, Uyung sering diminta bak-mak dan tamong-kajjong ke ladang. Uyung lebih sering ogah jika hendak keraj seperti mengoret atau mencangkul membersihkan kebun atau ladang. Karena itu Uyung selelayuh[4] berangkat ke kebun. Jika menjelang sore barulah ia berangkat ke ladang.

Jong, duma yu kanah. Ngusung labu jepang[5],” kata Kajjong Menah.

Jika begitu, Uyung suka. Kajjong-nya memang sering meminta Uyung membawa pulang pisang, alpukat, jagung atau macam-macam sayuran.  Kajjong menyuruhnya karena tidak kuat lagi dengan serdangan dan cuncunan-nya. Bawaan dari ladang ini untuk berjualan di pecan Senin, Selasa, dan Jumat. Yang paling ramai Pekan Selasa.

Senang Uyung membantu Kajjong-nya membawakan beban karena ia mendapat persen[6] dari bawaan yang laku terjual. Labu siam dijual Rp25 sekilogram, Uyung mendapatkan Rp10-nya. Lumayan untuk jajan, kata Uyung.

>> BERSAMBUNG


[1] jembatan kecil

[2] jembatan goyang-goyang

[3] “Saap sa da… pulang segera”

[4] lambat, suka-suka, tidak menyegerakan pekerjaan

[5] “Cu, nanti ke ladang ya. Bawa labu siam”

[6] komisi, upah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top