Cerita Bersambung

Negarabatin (32)

Dari kopi inilah, kami anak-anak di Negarabatin bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. JIka memang ingin. Tapi kalau tidak mau, lebih baik pula ngajong mengura[1]. Hahai… Banyak juga yang naik haji karena kopi. Kopi ini dapat menjadi tabungan hendak membuat rencana seperti sunat anak-anak, masuk sekolah, nayuh, membangun rumah, berbagai keperluan. Kopi kering yang masih di dalam kulit dapat disimpan di panggar[2], di bawah atap bertahun-tahun. Tidak diturunkan jika tidak ada keperluan.

Negarabatin[3] namanya. Sudah jelas yang kaya-kaya orang Negarabatin ini. Mungkin…

***

“Pulang sekolah, langsung ke kebun, Yung,” pesan Jahri.

Ai kidah, sering timbul rasa enggan Uyung pergi ke ladang atau ke kebun. Jika musim kopi, hendak membantu ngunduh. Sebenarnya senang memetik kopi yang sudah merah-merah. Tapi namanya anak-anak, lebih suka bermain kelereng bersama teman-temannya. Apa lagi kalau gebuk. Namun, jika tidak duma, jelas mendapatkan bentakan. 

“Dari mana? Semua bekerja, kamu sama sekali tidak membantu. Apalah yang membuatmu enggan ngunduh? Unduhanmu kan buatmu sendiri. Untuk membeli alat-alat sekolah. Saat Buka, kalian tidak akan dibelikan baju Lebaran kalau tidak mencari sendiri. Ngunduh… Besok jangan sampai tidak ke ladang,” Jahri memarahi Uyung yang tidak ke kebun tadi. 

Payu, duma. Mana berani Uyung melawan orangtuanya. Ke kebunlah Uyung. Langsung membawa bakul, diletakkannya bahunya, mencari batang-batang kahwa yang buahnya sudah banyak  yang merah. Memetiknya perlahan, jarang di-rupu[4]-nya, kecuali yang timpui[5]­ yang sudah merah semua. Padahal pesan Zanaha, maknya, “Yang sudah tua ambil saja. Tidak lama lagi yang sudah tua itu sudah merah pula.”

Hasil mutil atau ngerupu buah kopi, langsung dimasukkan ke bakul yang di-serdang[6]-nya tadi. Jika bakul sudah penuh atau hampir penuh, biasanya sudah berat, isi baku tadi dipindahkan ke karung yang sudah disiapkan.

Adik-adik Uyung yang sudah bisa, mak-bak, tamong-kajjong, dan Minan Nalom begitu juga kerja mereka ketika musim kopi.

Tapi dasar Uyung. Jika sudah penuh karung kecil, Uyung biasanya macet kerjanya. ‘Sudah ah. Tidak kuat membawa kopi ini kalau terlalu berat pulang ke pekon,’ begitu kata hatinya.

Kahwa-kahwa hasil unduhan sebagian dibawa pulang. Sebagian pula, malah lebih banyak, ditinggal di kebun, disimpan di sapu. Sapu kadang ditunggu, kadang tidak. Yang minap di kebun jika tidak Tamong Hakim dan Kajjong Menah, terkadang Jahri.

Jika terpaksa tidak ada yang menungguinya bisa dipercayakan saja kepada anjing. Benar, Uyung sekeluarga memelihari anjing pula untuk menjaga kebun dan ladang. Walau tidak menggigit, menggonggong saja anjing, sudah ketahuan ada yang datang. Tapi, jangan coba-coba pula hendak melakukan sesuatu yang mencurigakan di bawah tatapan nanar si anjing, sudah jelas anjing akan menyerang dan menggigitnya tanpa ampun.

Ketika sore-sore sekitam jam lima hendak kembali ke pekon uleh karena mau sekolah untuk Uyung dan adik-adiknya atau hendak ngantor bagi Jahri. Setiap orang membawa kopi. Jahri biasanya memakai bebalang[7]. Kalau mamang, tak bisa ditiru, ia membawa karung besar yang diletakkan di kepalanya. Uyung paling membawa karung kecil… tidak pula penuh yang diletakkannya di bahu. Beberapa kali mau meniru mamang yang diletakkan di kepala, tetapi Uyung tidak tahan – seperti mau patah rasanya kepalanya dari lehernya. Yang sengsara, perempuan seperti Zanaha yang nyerdang-nyuncun-ngebabai[8] sekaligus. Jadi, kiri-kanan bakul, kepala nyuncun jeruwan[9], di belakang menggendong anak. Lelawa… tak bisa ditiru laki-laki kerja perempuan seperti itu.

>> BERSAMBUNG


[1] menikah muda

[2] loteng rumah

[3]batin” secara harfiah berarti kaya, selain juga nama satu tingkat dalam stratifikasi sosial adat Lampung di bawah suntan dan raja.

[4] menarik semua buah kopi dari himpunan di tangkainya.

[5] sehimpun buah kopi yang saling berdempetan di tangkai. Satu tangkai biasa terdiri dari 7-12 timpui.

[6] membawa bakul dengan cara diletakkan di bahu.

[7] alat pengangkut terbuat dari rotan, yang memakainya seperti ransel.

[8] membawa beban yang gantung di bahu, di atas kepala, menggendong (anak)

[9] jeruwan: kayu bakar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top