Cerita Bersambung

Negarabatin (31)

Di Negarabatin sepertinya ada perhitungan kapan mulai musim tanam sehingga nanti saat panen bersamaan pula. Kesepakatan tidak tertulis ini tidak ada yang berani mengingkarinya. Tidak ada hukuman jika ada yang beda bulan menanam padi, hanya bala menanam padi sendiri yang akan ditanggung oleh yang menanam beda bulan tersebut. Hama padi seperti burung dan tikus jelas berkumpul di ladang yang menanam padi sendiri. Berbeda dengan menanam padi bersamaan, hama padi dihadapi bersama dengan luasnya areal tanaman padi.

***

Padi ladang dan tanaman muda biasanya hanya tanaman antara sebelum ladang ditanami kopi. Tanaman padi yang setiap tahun tidak putus yang di sawah.

Benar, tamong-kajjong, mak-bak-ku bersawah pula. Musim tanam sawah dekat dengan musim tanah padi ladang juga. Sawah di pekonku dalam-dalam karena airnya selalu ada dari halian. Rata-rata jika sawah dikeringkan lumpurnya sampai pinggang anak-anak. Malah ada yang sampai dadanya. Sawah tua seperti ini tidak sulit menggarapnya. Tidak perlu dicangkul. Jika sudah mulai menanam padi, sawah dibersihkan dari rumput. Caranya ngelilik[1] saja. Rumput-rumput dicabut pakai tangan atau koret, dililit-lilitkan, kemudian dikuburkan dalam lumpur. Supaya lebih dalam terbenam, rumput tadi diinjak keras-keras dengan kaki. Rumput-rumput ditanam dalam-dalam ke lumpur bisa menjadi pupuk alam untum menambah subur padi.

Sampai ngelilik semua petak sawah. Kilihatan sawah sudah siap ditanami padi.

Di sudut sawah, paling tidak sebulan sebelum musim tanam padi, sudah ada buni[2]-nya. Buni ini menjadi bibit padi yang ditanam dari padi sampai batangnya setinggi 15 cm—20 cm hingga siap dipindahkan ke sawah.

Saat musim tanam padi di sawah, memberitukan kepada tetangga dan sanak-famili . Bekerja bersama. Hari ini bebatok[3] menanam padi di sawah si A, besok di sawah yang lain, besok lagi tempat lain lagi.  Begitu terus bergilir sampai semua sawah ditanami dalam beberapa minggu.

Biasanya jika hari Minggu dimulai menanam padi agar kami anak sekolah dapat pula menolong menanam padi. Jika tidak libur, sepulang sekolah kami tetap membantu orang tua di sawah, ladang atau kebun. Ada saja yang hendak dilakukan di sawah, ladang atau kebun.  

***

Yang aku ingat kala musim kopi. Betapa harum aroma kembang kopi dan buah kopi yang sudah matang dari pohon-pohonnya. Betapa riang  melihat kembang kopi, buahnya yang hijau, dan merah yang sudah matang. Sudah siap tiunduh[4].

Kata mak, “Petik yang sudah tua. Coba gigit. Jika sudah keras, sudah tua. Tapi,  jika buahnya masih lembut, artinya masih muda.”

Tapi aku lebih sering tidak menurut. Lebih enak melihat kupi suluh[5], yang sudah matang. Kalau aku ngunduh lambat sekali karena aku petik yang merah-merah saja.

Mesak unyin kahwamu[6],” kata Tamong Hakim.

Tapi dia tidak mengomeli, ia membiarkan saja caraku ngunduh.

Ah, sebelum kuceritakan, aku ingin membincang-bincang terlebih dahulu apa arti kebun kopi bagi orang Negarabatin. Rata-rata orang di pekonku ini berkebun kopi. Tidak afdol bercocok tanam jika tidak menanam kahwa. Maka Seranggas, Selipas, Pantau, Heru, Tebakandis, Sebidak, Kidupan, dan Uncuk menjadi kawasan kebun kopi. Sepanjang jalan dan seleluas umbul-umbul tersebut yang ada kebun kopi semua. Hanya beberapa lahan yang baru dibuka masih ladang yang berisi tanaman muda. Perlu lima tahun menunggu sampai kopi mulai berbuah.

>> BERSAMBUNG


[1] membersihkan rumput dengan mencabutnya, lalu menguburkannya dalam lumpur.

[2] bibit padi.

[3] gotong-royong

[4] dipanen

[5] kopi merah

[6] “Matang (merah) semua kopimu.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top