Cerita Bersambung

Negarabatin (34)

Tamong Hakim, Jahri, dan Zanaha sering pula meminta Uyung ke ladang dan membantu membawa beban. Walau kadang enggan, dikerjakan Uyung membantu. Dengan Tamong Hakim memang tidak langsung mendapatkan upah, tetapi Tamongnya sangat sayang dengan Uyung, sering memberi jajan Uyung. Kalau dengan maknya, memang tempat Uyung dan adik-adiknya merengek-rengek minta uang untuk bermacam-macam keperluan. Jika kebutuhan uangnya besar barulah meminta kepada Bak-nya.

Alhasil, semua mesti dibantu jangan sampai ada omongan, “Jika ada perlu tidak bisa tidak. Membantu tidak mau.”

Sering Uyung ke ladang sendirian. Jam-jam tanggung jalan sering sepi. Sudah beberapa kali tersesat karena jalan banyak bercabang. Jika tersesat seperti itu, tidak ada tempat bertanya, terpaksa Uyung kembali dari pangkal jalan bercabang. O, tadi salah belok. Jadi, simpang yang satunya yang benar.

Jika tidak tersesat, sering pula bulu kuduk Uyung berdiri ketika ada suara-suara binatang yang aneh-aneh. Apalagi jika bersua babi, cecah[1], benatat[2], siamang, kaki seribu, tupai… macam-macam. Yang paling ia takuti ular. Beberapa kali saat sedang berjalan ada ular lewat di jalan. Ada yang sampai sebesar paha laki-laki dewasa, bermacam-macam warnanya. Kala terpergok ular, berdegub-degub dada Uyung. Semua anggota tubuhnya lemas seperti tak bertulang dan tak bisa digerakkan. Gemetaran. Terpaksa ia dia diam saja di tempatnya berdiri. Menunggu ular berlalu, menghilang di balik semak, ladang, kebun atau hutan. Setelah ular tak terlihat barulah ia berlari kencang melewati jalan yang tadi dilintasi ular tadi.

Pernah pula ia bersua ular ketika sedang ngunduh kahwa. Ular merah, kuning atau hijau di atas batang di antara rimbunnya daun-daun dan buah kopi. Jika di tanah biasanya ular hitam. Jika sedang mengoret atau menebas rumbut di ladang bertemu ular, Uyung langsung berhenti kerja dan kabur.

Rabai, Mong. Wat ulai[3],” kata dia kepada Tamong Hakim.

Tamong Hakim hanya tertawa.

Ia malah berkata dengan santai sambil meledek cucunya, “Ai, ulai goh rabai. Sangon rang ni tian.[4]

Entah mengapa, Uyung paling takut dengan ular. Padahal beberapa temannya biasa menangkap ular. Malah memelihara ular. Tapi, jangan sekali-kali didekatkan pada Uyung, sudah tentu dia akan berteriak-teriak tak menentu.

Takutnya Uyung bukan hanya pada bebunyian dan binatang saja. Terkadang, oleh cerita-cerita orang seperti perkataan, “Di sana memang ada penunggunya[5].”

“Di situ metengi,” ujar yang lainnya.

“Di sini si anu kena tenggemor[6].”

“Di tempat itu ada yang diterkam dan dimakan alimawong[7].”

“Konon, di kawasan ini si B hilang tak pulang-pulang sampai berbulan-bulan.”

Bermacam-macamlah warahan orang, entah benar entah tidaknya, yang jelas semakin menambah rasa takut anak-anak seperti Uyung. Terkadang pohon atau rerumputan yang bergoyang-goyang tertiup angin pun dikira hantu atau setan yang menjadi penunggu ladang.

Ah, Negarabatin di kaki Gunung Pesagi.

>> BERSAMBUNG


[1] kera putih

[2] salah satu jenis monyet

[3] “Takut, Mong. Ada ular”

[4] Aih, ular saja takut. Memang tempat mereka.

[5] Penunggu, maksudnya makhluk halus, makhluk astral.

[6] Tersesat jalan, hanya berputar-putar sekitar situ, tetapi tidak menemukan tempat yang dituju sampai ia ditemukan orang dalam keadaan hidup atau mati.

[7] harimau

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top