Cerita Bersambung

Negarabatin (35)

#10
CUCU TERSAYANG KAJJONG

Uyung merawan[1]. Banyak sayang dengannya. Selain Tamong Hakim-Kajjong Menah dari bak-nya, ada Tamong-Kajjong dari mak-nya. Kajjong terutama yang sangat sayang dengan umpu banyaknya – tidak hanya Uyung. Memang banyak umpu Tamong Muhari-Kajjong Usanah yang tinggal di lumpak[2]¸ Pekon Way Mengaku. Zanaha, mak Uyung anak ketiga dari tujuh bersaudara. Adik-adik Uyung ada empat. Jadi umpu-nya yang di Negarabatin ada lima. Umpu lainnya ada di Tanjungkarang, ada di Pekon Tengah, dan ada yang memang di Way Mengaku itulah.  

Selain sayang, yang membuat Uyung dekat dengan Tamong-Kajjong yang di Way Mengaku adalah mereka berkebun jeruk di pinggir jalan raya. Di samping jeruk, ada tanaman lain seperti jambu klutuk, alpukat, dan sedikit kopi. Kebun jeruk Tamong-Kajjong dipagar keliling agar tidak mudah orang yang lewat mengambil buah jeruk. Sebab, jika begitu kebun jeruknya tidak berhasil.

Itulah yang membuat Uyung sering mengunjungi Tamong-Kajjongnya. Selain itu, Tamong-Kajjong-nya sering pula mampir ke rumah Uyung di Negarabatin. Sering pulang sekolah – sering belum lagi ganti  seragam – langsung pergi ke kebun jeruk Tamong-Kajjong-nya di lumpak. Dari sekolah ke kebun tersebut mungkin sekira tiga kilometer. Empat kilo jika terus ke Pekon Way Mengaku. Kebun ini berada di antara Way Mengaku dan Negarabatin.

Tamong-Kajjongnya lebih sering tinggal di kebun jeruk. Meskipun begitu, ketika sampai di kebun, Uyung tak bisa langsung masuk. Ia harus berteriak-teriak di pintu pagar.  

Among… Ajjong… Mong… Jong… Tamong… Jong…,” gentian saja yang dipanggil Uyung saat tiba di kebun.

Guk, guuk, guuk… Anjing yang duluan menyambutnya. Awal-awalnya Uyung selalu ketakutan. Apalagi jika didekati anjing. Tapi, lama-lama ia biasa. Anjingnya juga mungkin sudah kenal dengan Uyung. Jika menggonggong, menggonggong saja member tahu bahwa Uyung datang.
Tamong Muhari atau Kajjong Usanah atau minan yang biasanya dalam kebun tidak lama kemudian menyahut, “Ya, sebentar….”

Pintu kebun dibuka. Uyung masuk. Biasanya sudah ada anak-anak lain puari Uyung yang duluan atau datang setelah Uyung. Sudah hampir setiap hari pula Uyung dan puari-puari mengambil jeruk, jika tidak naik jambu klutuk. Dipilih yang sudah sangat matang. Tandanya sudah kuning.

Dibiarkan Tamong-Kajjong mereka saja. Asal tidak merusak batangnya, begitu kata mereka.

“Buah jeruk dan jambu yang sudah dipetik dimakan. Jangan  dibuang-buang. Tidak boleh,” pesan Kajjong Usanah.

***

Ketika di kebun atau di pekon, Uyung minta tidur dekat Kajjong Usanah. Bebujukan[3]Kajjong Usanah memang disukai cucu-cucunya, termasuk Uyung. Entah, Kajjong selalu bisa membuat senang cucunya.

Suatu malam, Uyung berkata kepada Kajjongnya, “Jong, nyak terok miwang[4].”

Entah apa maksud Uyung, apakah ia rindu dengan mak-nya atau adik-adiknya, entah pula jika ia sedang tidak enak badan, entahlah tiba-tiba kok ia bicara ‘mau menangis’. Kajjong Usanah agak bingung juga.

“Mengapa kok mau menangis, Tuah?” tanya Kajjong Usanah.

Nyak terok miwang riya[5],” sahut Uyung.

Ada saja. Tertawa Kajjong-nya.

Na, miwang do kidah[6],” ujar Kajjong.

>> BERSAMBUNG


[1] beruntung, bernasib baik

[2] kampung sebelah

[3] bermanja-manja

[4] Jong, saya ingin menangis.

[5] Saya pengin menangis saja.

[6] Nah, menangislah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top