Cerita Bersambung

Negarabatin (36)

Menangis terisak-isaklah Uyung. Dibiarkan Kajjong Usanah saja. Tak lama, sesegukan Uyung berhenti sendiri. Sudah pula.

“Sudah menangisnya?” Kajjongnya bertanya lagi.

“Sudah….,” jawab Uyung.

Uyung, Uyung… wat-wat gawoh[1].

***

Kajjong Usanah sangat lincah dan gesit. Kata Zanaha, Mak Uyung, Kajjong Usanah cakap membaca huruf Arab gundul.

Kajjong-mu dulu sekolah agama,” kisah Zanaha kepada Uyung. “Jika hendak belajar agama, tanya dengan Kajjong-mu.”

Ceritanya, Minan Anis, adik Zanaha sai nomor lima diberi jimat.

“Untuk berjaga-jaga. Agar tidak terkena gangguan. Yang penting, agar mudah menghapalkan pelajaran,” pesan pemberi jimat.

Siapa pula yang tidak ingin pintar dan merasa aman dari berbagai gangguan, baik dari manusia maupun dari makhluk halus. Oleh karena itu, jimat tersebut dipakailah oleh Minan Anis. Walaupun dipakainya, Minan Anis menyumput-nyumputkan jimatnya agar tidak terlihat dan diketahui orang lain. Tapi, tetap saja diketemukan Kajjong Usanah di kamar Minan Anis jimat itu.

Jimat namanya. Bungkusan kecil menggunakan kain hitam. Entah isinhya. Dibukalah oleh Kajjong Usanah si jimat. Berlapis-lapis kertas isi jimat di dalam kain hitam. Yang paling dalam, ditemukan Kajjong Usanah ada bacaan tulisan Arab gundul. Kajjong Usanah lalu memanggil Minan Anis.

“Apa ini?” Kajjong Usanah bertanya.

Minan Anis diam saja.

 “Jimat?”

Minan Anis tidak berani bicara.

“Ini sudah saya buka jimatmu. Sudah saya baca.  Bunyinya: ‘Al ilmu billa amali katsajari billa tsamari’. Tahu kamu artinya?”

Minan Anis menggelengkan kepala tidak tahu.

“Artinya, ilmu yang tidak diamalkan ibarat kayu tak berbuah… Nah, itulah jimat yang benar. Memang ilmu itu untuk beribadah, untuk bekerja, untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Tapi bukan pula dibungkus kain hitam kemudian diikatkan di pinggang atau dikantongkan. Ilmu itu diamalkan, dilakukan, dipraktikkan… Jika mau pintar sekolah, rajin-rajinlah belajar. Membaca buku pelajaran…,” kata Kajjong Usanah.

Diam saja Minan Anis, mengaku salah.

“Bukan pula catatannya dibakar, dimasukkan ke gelas. Lalu, airnya diminum agar mudah hapal. Tidaklah bisa hapal jika tidak dihapalkan. Hapal tidak, malah jika minum air bercampur abu kertas yang dibakar. Itu namanya makan arang. Bikin penyakit saja,” tambah Kajjong Usanah.

Minan Anis masih diam. Mau bagaimana. Memang benar sekali apa yang dikatakan Kajjong Usanah tersebut. Ibunya sangat paham ilmu agama.

>> BERSAMBUNG


[1] ada-ada saja.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top