Cerita Bersambung

Negarabatin (25)

Di lain hari pula, gilaran Pak Baswan yang marah di kelas. Waktu itu  Pak Baswan mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Ia menerangkan dua musim di Indonesia.

“Dua musim di Indonesia dipengaruhi angon muson. Ketika muson barat dari Oktober sampai Maret, negara kita musim penghujan. Tapi, saat angin muson timur, kita musim kemarau…,” Pak Baswan menjelaskan.

“Siapa yang tahu angin muson?” tanya Pak Baswan.

“Angin ngison[1], Pak!” Jaya asal jawab saja membuat kami sekelas tertawa semua.

Namun, Pak Baswan marah, “Angin ngison… nenek moyang kamu!”

Terdiam semua melihat muka Pak Baswan memerah. Untung hanya bicara. Jaya sedang beruntung. Kalau tidak, paling tidak dijewer atau tegak di depan kelas.  Kalau lagi sial bisa-bisa kena tempeleng dan kena tendang. Ada juga yang mendapat hadiah kapur yang terbang ke murid. Lumayan. Kalau kening terkena kapur, bisa benjol sebesar telur burung puyuh.

Tapi, itulah hebatnya guru kami. Meskipu baru saja emosi, marah-marahnya hanya sebentar. Setelah itu biasa lagi.

Dari Pak Baswan juga kami mulai belajar peta, menggambarnya, sampai melihat peta buta. MUlai dari mengenali pekon dan membuat peta Pekon Negarabatin, mengenal Kecamatan Balik Bukit, seterusnya Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, pulau-pulau lain, dan Indonesia.

Sekali waktu, Pak Baswan menggambar peta Kecamatan Balik Bukit di papan tulis dengan kapur berwarna. Kami menirunya di karton. Oleh karena Pak Baswan belum selesai gambar peta, ia meminta temanku membalikkan papan. Tapi, bukannya papannya yang dibalikkan, ia malah menghapus gambar dengan penghapus. 

“Aduh, kok dihapus? Kan yang minta dibalikkan papan tulisnya. Gambar itu kab belum selesai. Nanti kalau ada pelajaran IPS lagi mau diteruskan agar selesai. Aih, kamu ini,” omel Pak Baswan.

Memang papan tulis kami bisa bolak balik, dua muka bisa dipakai semua. Jadi, jika ada catatan atau seperti peta tadi yang belum selesai, papan tulis dibalik agar tidah hilang, yang dipakai muka sebelahnya. Di hari lain, ketika catatan/peta tadi hendak dipergunakan lagi ketika ada pelajaran yang sama, tinggal dibalikka kembali muka papan tulis tadi.

Untungnya teman tadu belum menghapus semuanya. Tapi jadi kerjaan Pak Baswan pula menggambar lagi yang sudah telanjur dihapus teman tadi. Benar sabar, sabar sekali Pak Baswan. Jika di depan murid, Pak Baswan seperti angker. Tapi sebenarnya jika di luar kelas, Pak Baswan suka terbahak dan sering bergurau.

Memang beda jika di hadapan siswa.

Gaya Pak Johan lain lagi. Yang kuingat, ia mengajar matematika. Ia biasanya mengajar sangat jelas. Jika ada yang tidak mengerti apa yang diajarkannya, aku rasa benarlah seperti kata bak-ku, “Ai, mak pandai-pandai juga. Ugu tegolan niku ajo![2]

Jika ada yang belum tahu, diulangnya bagian yang belum diketahui.

Namun, jika jawab kami belum mengerti semuanya, Pak Johan nyeletuk, “Ai, dipikko dipa mata rik cuping keti?”[3] sambil mengulang penjelasan.

“Sudah ya. Sudah mengerti semua?”

“Sudaah…,” kami menjawab bersama.

“Kalau begitu, saya beri kalian 10 soal. Kerjakan. Harus benar semua. Salah satu… dihukum pukulan di tangannya memakai ini,” kata Pak Johan sambil menimang-nimang penggaris berbentuk tongkat bulat seperti tongkat untuk lari estafet.

“Aduuhh… sakit geh Pak,” kata Netti.

Gemetaran juga dia seperti siswa yang lain.

“Ah, tidak sakit. Makanya mesti betul semua. Sekarang, kerjakan…,” ujar Pak Johan. “Tidak boleh ngepek atau meniru punya teman.”

Sekitar sejam, Pak Johan bicara, “Sudah. Sekarang berikan pekerjaan kalian dengan teman di sebelah. Tukar saja. Kita mulai memeriksa…”

Hasilnya, banyak yang salah. Hanya ada tiga siswa yang betul semua jawaban sepuluh soal.

“Siapa yang betul semua?”

>> BERSAMBUNG


[1] dingin

[2] “Ai tidak bisa-bisa juga. Ugu tegolan (sangking bodohnya, dipukul pun tak juga bisa) kamu ini!”

[3] “Aih, diletakkan di mana mata dan telinga kalian?”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top