Negarabatin (26)
“Maman, Pak!”
“Kifli….”
“Nur….”
“Sekarang, kembalikan buku dengan temanmu,” ucap Pak Johan.
Ai kidah, aku tetap ada yang selip, salah satu.
“Siap, siap… buka tangan kalian.”
Berkelilinglah Pak Johan.
“Kamu salah berapa? Telu? Sai, ruwa, telu…,” ujar Pak Johan sambil memukulkan penggaris tongkat ke tangan murid yang salah jawaban tiga.
“Kamu? Lima… Sai….”
“Ai, salah semua. Royal kamu…”
Begitulah Pak Johan rata memukul tangan kami semua sesuai dengan berapa yang salah kami menjawab soal. Hanya tiga yang tidak terkena pukul tangan. Harusnya empat termasuk aku. Tapi, hari ini aku kurang teliti. Jadinya, salah satu.
Sepertinya sadis cara Pak Johan. Hampir selalu begitu jika Pak Johan memeriksa jawaban jika kami mengerjakan latihan di kelas. Tapi, karena itu kami sekelas sungguh-sungguh berusaha belajar. Sering kami belajar bersama. Ya, belajar kelompok.
Omong-omong belajar kelompok, kami sering pula bukan belajar, tetapi malah menonton televise atau malah kecerma[1] mencuri ikan atau ayam tengah malam. Aha, ini bahan cerita nanti.
***
Itu sudah, keluar sekolah lebih seru kerjaan kami anak-anak. Bukan cuma hendak berkelahi yang janjian bertemu di sawah Setiwang. Sering kami numpang berenang di sawah-sawah di situ. Seperti di sawah Wan Jehar, sawahnya memang luas dan dalam. Apalagi jika airnya penuh, seperti danau pula.
Gebuk namanya.
Gebuk[2] namanya.
Berloncat-loncatan di sawah, berkejar-kejaran, main sumput-sumputan, lalu bermain lumpur pula, betapa nikmatnya kehidupan anak-anak seperti kami. Jika tidak ada tanaman padi, tidak apa-apa, tidak dilarang oleh pemilik sawah. Ya, tidak merusak. Malah menambah halusnya lumpur yang kami injak-injak.
Saat sedang penanoman[3] sampai padinya mulai besar air sawah dikeringkan agar tanaman padi tidak terendam. Tapi tidak lama, setelah batang padi mulai tumbuh membesar dan tinggi, air sawah mulai banyak dan tinggi pula. Tak boleh langui[4] apalagi gebuk di sawah yang ada batang padinya. Tapi, namanya juga anak-anak. Sering kumat nakalnya. Berenanglah mereka di sawah. Sudah jelas roboh-robohlah batang padi. Tak cuma itu, ada juga kami yang nyaruk[5]. Enak juga. Manis. Belum keras karena padinya belum jadi. Namanya, saruk. Tapi, rusak batangnya, padinya tidak buah jika sudah tisaruk.
Entah sudah berapa kali kami dikejar wan Jehar dan yang lainnya yang padinya rusak oleh karena sawahnya kami pakai untuk gebuk atau nyaruk.
“Nah, kalian rupanya yang gebuk di sini? Roboh semua, rusak semua batang padi saya…,” kata Wan Jehar muncul dari kubu[6]-nya sambil menunjuk-nunjuk pakai kayu bulat.
>> BERSAMBUNG
[1] pesta makan ikan
[2] berenang dengan gaya bebas.
[3] mulai mempersiapkan lahan dan menanam padi.
[4] berenang dengan gaya lebih tertib dan teratur.
[5] mangambil bulir padi yang masih di dalam batangnya, belum keluar, untuk dimakan. rasanya manis-manis seperti umbut.
[6] gubuk