“Kalian berdua, tutup mata kalian,” kata Pak Irsan lagi.
Beberapa orang dari kami ada yang diminta Pak Irsan mencari dua ember besar dan gayungnya.
“Isi air kedua-duanya,” perintah Pak Irsan.
Kemudian yang lain diminta Pak Irsan mencari jukuk usuk[1], pohon jarak, kembang ros, dan kembang… semua ada tujuh macam bunga. Tidak susah mencari kembang karena memang banyak ditanam di sekolah kami. Semua tanaman dan bunga tersebut dimasukkan Pak Irsan di ember yang berisi air tadi.
“Nah, sekarang siap…,” Pak Irsan mengangkat ember ke dekat Irwan dan Islandar yang masih berpelukan dan menutup mata.
“Semuanya berkeliling di sini. Mereka berdua, Irwan dan Iskandar ini mesti tilanger[2]. Agar setan-iblisnya keluar dari tubuh mereka berdua,” Pak Irsan berkata.
Kami masih belum mengerti hendak dibagaimanakan dua teman kami itu.
Mulailah Pak Irsan komat-kami pura-pura membaca memmang: Was wis wus… sitan belis sunyin tindak jak Iskandar, lijung jak Irwan… jawoh-jawoh… Dang redik-redik lagi. Ajo sanak sangon mecukik, ajo sanak sangon menakal, ajo sanak sangon mak nutuk cawa… jadi tilanger, tilanger… nyin muloh buyun, nyin muloh helau…[3]
Sambil membacakan memmang Pak Irsan mulai memegang sebuah gagang bunga, diangkatnya dari ember, lalu mulai memercik-mercikkan air dari bunga ke tubuh Iskandar dan Irwan. Kagetlah mereka berdua, mengapa kon seperti hujan, terbukalah mata mereka.
“Jangan buka mata. Tetap dipejamkan,” Pak Irsan marah.
Nah, tertawa-tawalah, terbahak-bahak kami anak sekolah yang melihat teman kami tersebut basah semua sambil menggaruk-garuk badan mereka. Jelas gatal kalau pohon dan tetumbuhan yang dimasukkan ke air di ember.
“Sekarang gentian yang menyiram. Coba kamu dulu,” ujarnya kepada Ijal.
Bergantianlah kami ngelanger Iskandar dan Irwan berdua.
Air di ember sedikit lagi.
“Sekarang tambah airnya daru ember yang satu lagi,” Pak Irsan menyuruh.
Sampai kering pula seember lagi.
Aku kira malu dan sengsara yang dirasakan Irwan dan Iskandar. Sudah jelas mereka berdua jera. Tidak berani lagi berantam di sekolah. Entah kalau keluar dari sekolah nanti.
Kami memang nakal. Tapi, sebenarnya kami bersahabat baik sekali. Sering pula saling menolong jika ada pekerjaan yang perlu bersama-sama.
#8
GEBUK DI SABAH, LANGUI DI WAI AIS[4]
Guru kami setereng-setereng[5]. Disiplin. Jika kami salah atau melawan aturan sekolah, sudah jelas yang mendapat hukuman. Ketika kelas tiga, kami dihukum tegak[6] semua di depan kelas.
Suatu hari Ibu Rokanah mengajar kami. Tapi, ia agak terlambat masuk kelas. Jadi kami malah ribut, lari sana lari sini, ada juga yang naik meja. Ada pula yang meledek guru dengan menirukan omongan dan gaya bicara guru saat mengajar. Diam-diam Ibu Rokanah masuk kelas. Dicubiti kami satu-satu.
“Sekarang kalian duduk semua. Jangan tidak ada aturah….”
Banyak benar omelan Ibu Rokanah, sampai di ujungnya ia berkata, “Jeraa, anak-anak?”
Satu kelas pun dengan ngawurnya serempak menjawab, “Jeraabuuk…[7]”
Merah padam muka Ibu Rokanah. Bertambah marah dia. “Coba siapa yang bilang seperti itu?”
Akibatnya, semuanya
dihukum tegak di kelas, yang murid laki-laki. >> BERSAMBUNG
[1] secara harfiah berarti rumput busuk, saya tidak tahu nama Indonesia dan Latin rumput ini.
[2] upacara pensucian diri, mengusir setan-iblis yang mengganggu orang.
[3] Was wis wus… setan iblis semua kabur dari Iskandar, pergi dari Irwan… jauh-jauh… Jangan dekat-dekat lagi. Ani anak memang suka usil, ini anak memang anak memang nakal, ini ana memang tidak mau mendengar omongan… jadi tilanger, tilanger… agar kembali baik, agar kembali benar…
[4] Berenang di Sawah, Berenang di Kali Ais.
[5] sangat ketat dengan aturan.
[6] hukuman berdiri di depan kelas.
[7] jerabuk: jembut, rambut di kemaluan