Negarabatin (23)
Tangsi tempat rumah-rumah jelma balak[1]. Boleh dibilang, kawasan elite kecamatan dan perwakilan pemerintahan kabupaten. Begitu kata mereka. Di sana rumah-rumah dan kantor Wakil Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Liwa, camat, polisi dan kepala polisi (Kapolsek), tentara dan komandan tentara (Danramil), dan pegawai negeri. Sebenarnya ada juga pegawai negeri di tempat lain, tetapi yang banyak di Tangsi.
Setangsi, seuncuk, dan seterminal banyak yang bersekolah di SDN 1 yang tempatnya di depan Tugu Merdeka, ada pula yang SDN 3 yang berlokasi di Renglaya Lawok. Setamanjaya masuk sekolah yang dekat di SDN 3. Nah, SDN 2 di Pekonkudan, lebih sering kekurangan murid.
Aku katakan hal ini hanya ingin bewarah sedikit mengenai kelakuan kami anak sekolah yang sering membuat pusing orangtua.
Entah pula kenapa setangsi ini kok pelagak-lagak[2], pepungah-pungah[3], dan pecukik cukik[4]. Yang anak laki-laki. Tapi yang anak perempuannya pesikop-sikop[5], pekimut-kimut[6], rik pesimah-simah[7]. Ahai… yang belakangan ini bohongku saja. Yang benar se-Negarabatin memang ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Bukan setangsi saja!
Namanya anak laki-laki. Kecuali aku, memang sering tawuran, berkelahi atau adu jotos. Bukan pula agar dikatakan orang berani. Cuma suka saja. Hobi, kata mereka. Jangan salah sedikit mulai panas-panasan. Bila sudah lama aman-tenteram, mulailah mencari-cari alasan.
“Apa liat-liat?”
Bila sudah demikian, memang sengaja hendak mencari gara-gara. Apa pun jawaban ya salah. Lebih baik diam saja. Tapi kalau anak yang memang ingi – maksudnya ingin benar adu jotos – disahutnya, “Apa liat-liat, apa liat-liat… saya punya mata, kenapa?”
“Nah kamu…”
“Mau apa?”
“Kepengen ya?”
“Iya, ayo…!”
Maksudnya kepengen itu yaitu mengaja berkelahi. Bila sudah begitu ada juga yang tukang kipas supaya tambah panas. Tidak berhenti jika tidak bel berbunyi masuk kelas dan guru di depan kelas.
“Saya tunggu di kebun kahwa,” kata yang satu.
“Ya, saya tunggu. Tapi satu lawan satu…” sahut yang satu lagi.
Kenyataannya jarang sekali yang tarung satu lawan satu. Mestilah masing-masing mengajak teman, mengajak kakaknya pula yang kebetulan satu sekolah. Favorit tempat bertarung adalah kebun kopi belakang rumah Zeman. Kadang-kadang di sawah Sidi. Tidak mau kalau terang-terangan di pasar atau di Lapangan Merdeka.
Tidak berani pula kalau berantam di sekolah. Tentulah yang diketahui guru. Jika tidak sengsara terkena teting[8] atau mendapatkan tendangan, ya malulah. Guru kami pesegik-segik. Ada Pak Irwan, Pak Johan, Pak Baswan, Pak Ubai, Pak Hanafiu, Pak Sarjani. Mereka sudah biasa saja neting, menendang, menempeleng atau memukul anak yang nakal. Kik mitit, mati bangik pititan ni Ibu Rokanah.[9]
Sekali waktu, Irwan dan Iskandar ribut. Bertengkat dilanjutkan dengan adu jotos. Barangkali karena sudah bosan Pak Irsan marah atau memukul anak yang berantam, kami sekelas dikulkan Pak Irsan di halaman belakang sekolah.
“Kalian berdua duduk di sini. Berhadap-hadapan. Irwan, pegang bahu Iskandar. B. egitu pula Iskandar, pegang bahu Irwan. Begini…,” Pak Irsan memberikan pengarahan.
Jadilah mereka berdua berpegangan bahu seperti berpelukan. “Berpelukan,” seperti kata Teletabis. Tapi waktu itu belum ada Teletabis.
Kami diminta Pak Irsan mengelilingi mereka berdua. Entah hendak diapakan mereka berdua ini, kami menunggu.
>> BERSAMBUNG
[1] orang besar, pejabat
[2] suka berlagak, sok-sokan
[3] angkuh, sombong
[4] nakal, suka menggangu
[5] cantik-cantik, manis-manis
[6] murah senyum
[7] tidak pelit
[8] dipukul dengan tangan
[9] Kalau menjewer, alang enaknya jeweran Ibu Rokanah.