Cerita Bersambung

Negarabatin (29)

Kuteliti pohon aren. Oh, ini buah anau. Yang tisebak gagang buahnya yang belum tua. Jika sudah tua sudah menjadi kolang-kaling, tangkainya sudah kering tak bernira. Apalagi jika buahnya sudah tua sekali.

Begini rupanya pohon aren. Daunnya benyak berguna untuk berbagai macam ketika musim penayuhan[1] atau ada yang sunat. Batang anau yang muda dapat pula tikabing[2]. Kabing ini gulai spesial bagi kami yang dimasak pada acara-acara special. Batang anau yang tua yang tidak tidak seberapa menghasilkan biasanya ditebang; diganti dengan pohon anau yang baru. Sabuk[3]-nya dapat pula menjadi atap kubu atau rumah.

***  

Warga Negarabatin biasa ngebun kahwa. Tanaman ini panennya setahu sekali. Kahwa ditanam paling cepat empat baru berbuah. Lama merawatnya sampai pohonnya berbuah. Jika kuliah, kata mereka, lima tahun baru lulus. Tapi, ngebun kahwa lima tahun itu ngagung[4]. Tapi, kebun kopi inilah andalan orang dulu. Berladang sekadarnya saja. Cukup untuk sayur-mayur pagi-sore.

Untuk yang memiliki banyak bidang tanah, banyak yang digarap mamang. Mereka biasanya pendatang, bukan orang Negarabatin. Sistemnya bagi hasil. Ada pula yang lebih enak. Misalnya, mamang mengerjakan tanah sampai jangka dua tahun. Terserah pada mamang yang mengerjakan tanah hendak menanam apa. Dalam dua tahun, jika mamang rajin dan cakap, ia bisa mengdapatkan penghasilan yang lumayan besar dari bercocok-tanam. Mamang biasanya menanam tanaman muda seperti cabai, kol, kentang, macam-macam sayuran. Dua tahun, mamang harus mulai menanam kopi. Sampai pohon kopi mulai besar dan mulai berbuah, barulah berbagi hasil buah kopi.  Sampai beberapa tahun masih bagi hasil sampai tanah dikembalikan mamang kepada pemilik tanah.

Tapi ada pula tanah yang dikerjakan sendiri oleh pemiliknya. Biasanya dari hutan dibuka terlebih dulu.

Ketika ada rencana ngusi[5] hendak membuat ladang yang baru, dibicarakan terlebih dahulu dengan seisi rumah. Kapan harinya, tanggal berapa,  bulan berapa, kita hendak ngusi. Semua alat hendak dibawa ke hutan yang hendak dibuka. Ada doa-doanya yang tidak bisa diabaikan agar nanti ladang yang tikusi nanti memberikan rezeki yang baik kepada pemiliknya. Pullan yang hendak tikusi harus tibebali[6] terlebih dahulu. Ngebebali ini permisi kepada penunggu hutan. Membersihkan hutan dari yang gain atau makhluk halus agar pemilik lahan damai atau tidak bersengketa dengan yang lebih dahulu menghuni lahan dan tidak saling mengganggu.

Jika sudah tibebali, mulai menentukan hendak ngusi dari arah mana. Dimulai dari tamong atau bak yang menebangkankan candung kawik[7]-nya di semak-semak atau rerumputan. Sebelum menabang pohon besar, rumput dan kayu-kayu kecil di bawahnya dibersihkan sampai ujung ketika pohon besar roboh. Oleh karena itu, bila pohon-pohon besar sudah tumbang selain pohon yang dijaga tidak ikut ditebang, di bawah-bawahnya sudah bersih pula dari rumput. AMA

>> BERSAMBUNG


[1] Rangkaian pesta pernikahan.

[2] kabing: umbut muda batang aren untuk sayur.

[3] ijuk

[4] Panen raya.

[5] membuka hutan untuk lahan pertanian.

[6] bebali: upacara memohon izin kepada penunggu hutan atau lahan agar pekerjaan membuka lahan dan bertani tidak mendapat halangan atau gangguan.

[7] golok berkait di ujungnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top