Cerita Bersambung

Negarabatin (28)

#9
SAPSADA[1] BERBUNYI SORE

Kehidupan kami seperti kebanyakan orang Negarabatin, yaitu hidup dari bercocok tanam. Pekerjaan tamong-kajjong, bak-mak yaitu bedarak, ngebun kahwa, dan nyabah. Sebenarnya ada satu pekerjaan lain, nyebak. Tapi, pekerjaan ini dimintakan Tamong Hakim kepada mamang[2] saja. Bak juga tidak mau nyebak.

“Biarkan Mang Dul yang nyebak anau-anau[3] itu. Tamong tak sanggup hendak naik turun batang anau itu. Biarlah itu rezekinya Mang Dul. Sering dibaginya memis[4] dan gulanya,” ujar Tamong ketika kutanya mengapa Tamong tidak mau nyebak.

Kala ke ladang, sering kutengarai beberapa batang anau. Tinggi-tinggi. Ada tangga dari bambu besar tinggi sekali. Mungkin 10 meter – 20 meter tingginya. Dengan tangga bambu inilah Mang Dul naik anau pagi-sore. Beberapa kali aku melihat Mang Dul naik anau. Di pinggangnya ada golok tajam dalam sarung kayunya. Di belakangnya ada paruh[5] kosong. Tangan memegang tangga bambu, kaki bergantian naik di tangga yang satu per satu mata tangga ke atas. Sampai di atas ia mengambil paruh dari cabang buah anau yang sudah penuh dengan memis. Di potongnya sedi kit tangkai yang ada buahnya tadi agar memis-nya lebih lancar keluar. Golok dimasukkan lagi ke sarungnya. Setelah itu tangkai tersebut dimasukkannya ke mulut paruh. Jika sudah baik posisi paruh itu menggantung, Mang Dul turun membawa paruh yang sudah penuh nira.

Pindah batang, begitu juga naik mengganti paruh yang baru dan turun membawa paruh yang sudah penuh memis.

Sampai di sapu, memis dari beberapa paruh  dimasukkan ke kuali besar yang diletakkan di tungku. Jika sudah siap, tungki dikasih jeruwan[6], mulai memasak memis.  Beberapa lama  memis mulai mengental dan berubah warna menjadi merah kecoklat-coklatan. Jika sudah cukup kental, mulai memindahkan memis yang sudah menjadi gula suluh[7] ke cetakannya. Lumayan tinggi harga gula suluh di pasar.

Kadang-kadang ingin pula makan lelabu memis[8].

“Pergi sana, Mong. Minta memis dengan Mang Dul,” kata Tamong Hakim kepadaku.

Enak pula nasi campur memis. Tapi, kalau hendak minta memis, mesti cepat-cepat ketika Mang Dul yang baru turun dari anau. Jika tidak, sudah diolahnya menjadi gula merah.

Kutanya, “Mang, mengapa kok cepat-cepat dimasak memisnya?”

“Memis tak bisa lama-lama dibiarkan tidak diolah. Nanti basi, memis menjadi lesom,” ujar Mang Dul.

Nah, sebenarnya lesom enak juga menjadi campuran ikan digulai.

O iya, dapat pula buat kekalik[9]. Cara membuatnya, memis yang kental hampir siap menjadi gula untuk dicetak, diambil sejumput dari kuali ketika masih panas-panasnya, masukkan ke air dingin, air putih yang sudah dimasak tapi dingin yang lebih baik. Di  air dingin, memis akan mengumpal beku, seperti kenyal-kenyal, beri tusukan dari lidi atau bambu. Bila sudah, jadilah ia kekalik itu. Gegulaan enak dikecup-kecup.

Penasaran juga aku dengan pohon anau ini. Pernah beberapa kali kucoba menaikinya. Kalau terlalu tinggi tidak berani. Nyari yang tidak terlalu tinggi. Gemetaran sekali sebenarnya. Tapi, aku ingin tahu. Melihat dari atas pohon anau yang sangat jangkung, terasa sensasinya. Terasa betapa kecilnya diri disbanding kebesaran alam semesta.  Banyak yang bisa dilihat dari atas. Ladang, kebun, sawah, hutan, sungai, gunung, gubuk, rumah, kampung sebelah… dst.

>> BERSAMBUNG


[1] nama burung, saya tidak tahu nama Indonesianya.

[2] orang yang bekerja pada orang lain (dulu: tuan tanah).

[3] anau: enau, aren.

[4] air nira.

[5] wadah air atau nira terbuat dari bambu.

[6] kayu bakar.

[7] gula merah, gula aren

[8] nasi dicampur nira.

[9] gula-gula dari nira.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top