Negarabatin (27)

Kami yang baru saja datang kaget. Berlari kencang kami semua. Ada pula yang sampai jatuh-jatuh dan masuk sawah karena kesandung. Basah semua bajunya. Tapi, segera bangun lari lagi. Entahlah kalau sampai bisa ditangkap Wan Jehar.

Besok-besok mencari sawah lain mau gebuk. Jika tidak mengintip-ngintip dan menunggu-nunggu pemilik sawah tidak di tempat, aman… nah riang sekali anak-anak langsung membuka baju dan semua pakaian, loncat ke sawah. Asyiik… gebuk.

Sekali waktu ketahuan puan sedang gebuk. Tapi tetap saja anak-anak lebih sigap daripada orang tua, mana bisa kami tertangkap pemilik sawah. Tapi, aduh… ada pakaian beberapa teman kami yang diambil dan disembunyikan Wan Jehar. Kasihan pula. Teman kami itu tidak bisa kabur. Menyerah mau diapakan saja oleh Wan Jehar. Ketimbang dimarahi orangtua di rumah karena seragam sekolah hilang, lebih baik diberanikan diri saja menghadapi Wan Jehar.

โ€œAmpun, Tuk. Saya ngaku salah,โ€ kata temanku.

Cerita temanku, memang tidak dicambuk Wan Jehar. Hanya diomel-omeli saja. Kemudian Wan Jeha meminta temanku dan kami semua berjanji tidak akan gebuk lagi di sawah jika ada tamanan padi. Tapi, jika tidak ada padinya, tidak apa-apa tidak dilarangnya.

Tapi tak urung, di rumah temanku kena damprat orangtuanya. Rupanya Wan Jehar sudah berbicara dengan orang di rumahnya. Ah, memang sudah nasib temanku itu. Ya, tak apa-apa… besok-besok gebuk luwot. Namanya anak-anak tak juga kunjung jera. Enak sih!

Entah pula kok enak langui di sawah. Padahal di Negarabatin banyak bidok[1]  seperti di Tebakandis, Sabah Pasuk, Sabah Renoh, Sabah Berak (eiit… kamu mesti tahu membaca ketika melafalkan kata Lampung ya. Sudah jelas kamu bukan orang Lampung jika tidak bisa membaca โ€˜berakโ€™ tersebut, hahaaa…), dan di Renglaya Lawok atau Kubuperahu. Banyak juga halian[2] seperti Halian Rubok, Wai Sindalapai, dan Wai Ais.

Sebenarnya ada Ham Tebiu. Tapi, siapa yang berani berenang di situ. Ham ini angker sekali. Ada penunggunya, kata mereka. Sudah beberapa orang yang hilang atau tenggelam di situ. Kami anak-anak, jangankan berenang di situ, sekadar lewat  saja di jalan โ€“ tempatnya memang di pinggir jalan dari Negarabatin hendak menuju Way Mengaku โ€“ banyak yang ketakutan. Ada pohon besar di pinggir jalan dekat Ham Tebiu. Konon, di pohon itulah, penunggunya bersembunyi. Itulah sebabnyak Ham Tebiu serem sekali. Jangan kan di tengah malam, siang hari yang panas saja jika di dekat situ, panas dingin rasanya badan. Walaupuan cuaca panas, di situ malah terasa dingin. Sering keluar keringat dingin kala di tempat itu.

Ah, tapi entah pula.

Akibat langui-langui itu, aku hampir saja tenggelam di Wai Ais. Perasaanku seperti ada yang menarik kakiku. Tapi, untung benafr aku bisa mengibaskan tangan-kakiku kuat-kuat sehingga aku bisa muncul keluar dari air. Tak ada yang tahu. Kuceritakan kepada teman-teman. Tapi, mereka hanya tertawa-tawa saja.

Tapi, tidak lama setelah itu, ternyata ada yang meninggal di Wai Ais itu. Tenggelam. Karena kejadian itu, kami tidak berani lagi langui di Wai Ais.


[1] bendungan buatan

[2] kali, sungai kecil