Cerita Bersambung

Negarabatin (30)

Biasanya, ngusi ini saat kemarau. Jika hendak nyuwah[1] tidak lagi susah karena rumput dan pohon-pohon cepat kering terkena matahari. Dua tiga hari setelah ngusi sudah mulai nyuwah. Tapi dibersihkan terlebih dahulu sekitar ladang yang baru agar ladang atau hutan di sebelah kiri-kanan depan-belakang tidak ikut terbakar.

Ladang yang baru sekarang sudah siap ditanami. Sudanh dibuatkan pula kubu tempat berteduh jika hujan atau untuk istirahat. Tamong Hakim dan Kajjong Menah lebih sering minap di ladang ketimbang ke pekon. Paling saat Jumatan, Tamong Hakim ke pekon. Kadang-kadang jika perai sekolah, aku juga ikut minap di ladang.

Minap di ladang sepi. Bagaimana tidak sepi jika sebelah ladang, hutan. Tapi, seru pula karena musiknya seperti katak, wer-wer, nyamuk, burung hantu, dan berbagai suara binatang lain selain radio yang menyiarkan acara Manjau Dibingi[2] dari RRI Tanjungkarang.

Kala sore-sore atau tengah malam sering Tamong nyuhu[3], “Huuu…” Biasanya suhu-nya Tamong akan mendapat jawaban dari yang lain, “Huuu….”

“Kenapa, Mong. Kok nyuhu-nyuhu begitu,” kutanya ketika aku ikut tamong minap di ladang.

“Bertanya. Among Mimi dan yang lainnya minap di ladang atau tidak,” sahut Tamong Hakim.

O, nyuhu berbalas nyuhu itu silaturrahmi sesame orang ladang seperti mengatakan, “Hadiiir”.  Tapi karena jarak antara ladang yang satu ke ladang yang lain jauh komunikasinya menggunakan, “Huuu….”

***

Ceritanya, ladang sudah sudah siap,  tinggal menunggu hujan. Jika sudah ada tanda musim penghujan datang, mulailah berencana hendak menanam apa di ladang yang baru buka.  Biasanya dua tahun pertama ladang ditanami tanaman muda. Bisa pula padi ladang di sela-sela nya ada pula tanaman lain seperti mentimun, tomat, bayam, rampai[4], dan sayuran lainnya.

“Besok kita menanam padi,” kata Jahri kepadaku dan adik-adikku.

Keesokan harinya, hari Minggu kami semua serumah duma[5]. Semuainya mulai dari bibit padi, alat-alat bercocok tanam, dan bekal sudah dibawa ke ladang. Sampai di ladang langsung berkumpul di salah satu sudut ladang. Berdoa terlebih dahulu. Kemudian mulai menanam. Jahri dan Zanaha memegang kayu yang sudah dilancipkan di bagian bawahnya. Itu tugal namanya.

Iya, menanam padi titugalko.

Setiap tugal ditancapkan ke tanah, membuat lubang di tanah yang terkena tugal.  Baris-baris lubangnya teratur ukurannnya sama dan jarak antarlubang sekitar 30 cm.

Kami anak-anak dan tamong-kajjong barbaris di belakang lubang-lubang yang sudah dibuat Jahri dan Zanaha memegang undom[6] atau cumbung[7] yang berisi bibit padi. Beberapa butir padi dipegang di ujung jari-jari kemudian dimasukkan ke lubang. Bisa sudah diisi bibit padi, kaki bergeser menginjak lubang agar lubang tertutup.

Begitu kegiatan kami sekeluarga dari pagi sampai sore mendekati malam diselingi istirahat ngupi, makan, dan salat. Sehari pekerjaan menanam padi untungnya selesai. Jika belum selesai harus dilanjutkan keesokan harinya tidak boleh terlalu lama, nanti besar tumbuhnya padi tidak sama.

Dari hari ke hari, minggu ke minggu, sampai beberapa bulan, padi bertambah besar, batangnya mulai berisi, bulir padi mulai muncul, dari hijau sampai padi menguning. Sambil menunggu padi siap dipanen, pemilik ladang mengoret membersihkan rumput-rumput yan tumbuh di antara batang-batang padi.

>> BERSAMBUNG


[1] membakar lahan

[2] Acara di Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungkarang berbahasa Lampung berisi lagu-lagu Lampung dan saling sapa di antara pendengar.

[3] menghimbau, memanggil dari kejauhan

[4] sejenis tanaman rambat, yang disayur daunnya.

[5] ke ladang.

[6] batok kelapa

[7] mangkok

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top