Cerita Bersambung

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (34)

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis

Saat dibuka sesi dialog seusai kuliah umum Mendikbud Wardiman, mahasiswa PFISIP  langsung mempertanyakan atau lebih tepatnya menggugat  status persiapan fakultas mereka.  

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdikbud Bambang Suhendro yang diminta Wardiman menjelaskan masalah ini justru membuat mahasiswa PFISIP bertambah geregetan. Dia mengatakan pemerintah tidak bisa memastikan peralihan jurusan di FISIP menjadi fakultas. Sebab, hal ini berkaitan dengan anggaran, organisasi pemerintah, bahkan perlu meminta izin dari Menteri Pendayaan Aparatur Negara (Menpan).

“Cukup banyak pengelola perguruan tinggi meminta jurusan menjadi fakultas. Proposal pengajuan itu bertumpuk di meja saya. Jadi, bukan saja FISIP Unila,” kata Bambang Suhendro.

Sungguh bikin gemas!

Setelah melantik Alhusniduki Hamim sebagai Rektor Universitas Lampung dan memberikan kuliah umum, di GSG, Selasa pagi, 10 Mei 1994, Mendikbud Wardiman Djojonegoro menaiki kendaraan dan beriringan dengan Sang Rektor. Agenda selanjutnya adalah mengunjungi STMN Bandar Lampung yang letaknya persis bersebelahan dengan PFISIP Unila dibatasi jalan menuju Kelurahan Kampungbaru. Kendaraan Pak Menteri pun bergerak dari GSG, melewati Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Gedung E FISIP…

Tapi, ada kejutan karena di depan ternyata di depan, ternyata kerumunan mahasiswa membentuk formasi duduk di tengah jalan sengaja menunggu Pak Menteri. Tak lama kemudian kendaraan Wardiman dan rombongan terkepung dari depan, belakang, kiri dan kanan. Tak bisa tidak, Wardiman, Alhusniduki, dan rombong turun. Mereka jelas tak paham masalahnya. Sementara mahasiswa berorasi bergantian. Di saat bersamaan keluar berbagai poster  dan spanduk yang dipegang para mahasiswa bertuliskan, “Emaak.., FISIP mau lahir”, “9 tahun 10 bulan,  lama bangeet…”, “Pak Mendikbud, Kami Sudah Menunggu 9 Tahun”, “9 tahun, bossaan gak u”, “Kapan kami berdiri?”, “4 x 4 =- 16 Sempat dan Sempatkan Dialog Doong!”, “Mendikbud Datang Harapan Kami”, dan banyak lagi.

Para mahasiswa, ada yang mengenakan jaket almamater, dang tidak terus meneriakkan berbagai yel-yel dan berorasi bergantian. Intinya, antara lain, meminta Mendikbud agar mengusahakan dan mempercepat terlaksananya proses pengalihan status fakultas dari persiapan menjadi definitif.

“Pengalihan status dari Persiapan FISIP menjadi fakultas resmi diharapkan terealisasi paling lambat September 1994, bertepatan dengan Dies Natalis Unila ke-29. Apabila sampai batas waktu tersebut belum juga terwujud, maka mahasiswa FISIP Unila akan menuntut lagi: dialog dengan pihak terkait, baik diminta maupun tidak,” kata Yudha Budi Abadi, juru bicara mahasiswa.

“Upaya tersebut bukanlah destruktif, melainkan usaha bersama-sama untuk mengusahakan dan mempercepat terlaksananya proses pengalihan fakultas definitif,” tegas Yudha lagi.

“Kami sudah mengupayakan dan mendesak pimpinan universitas untuk mensegerakan proses pendefinitifan fakultas kami, FISIP. Dari rektorat telah menegaskan telah melaporkan hal ini ke pusat. Namun, belum juga ada kabar yang menggembirakan mengenai upaya ini. Apa kendalanya, Pak Menteri, sehingga status Persiapan FISIP belum juga menjadi fakultas definitif,” timpal Saipul.

Puluhan mahasiswa lain yang tergabung dalam Komite Penyadaran dan Pengembalian Hak-Hak Mahasiswa mendukung tuntutan mahasiswa FISIP ini. Syafarudin pun membacakan surat pernyataan mereka, “Kami menyambut baik usaha pemerintah menerapkan link and match. Di satu sisi link and match jangan hanya melahirkan lulusan yang terampil, tetapi kebijakan ini harus juga melihat akar budaya masyarakat. Maka, kami menuntut pemerintah memikirkan muatan-muatan humanis relegius dan wawasan kebangsaan yang luas sehingga mahasiswa sadar akan kedudukan, peran, kewajiban, dan hak-haknya. Konsep ini pun diharapkan bukan pada bidang eksak saja, melainkan dipikirkan pula agar mahasiswa non eksak juga dilibatkan.”

Syafar lalu meneruskan, “Kami meminta Mendikbud menginstruksikan kepada rektor di seluruh Indonesia agar tidak mudah melarang seorang pembicara dari luar untuk berdiskusi di kampus. Karena cekal (cegah-tangkal)  bukanlah tradisi akademik,  malainkan bentuk kecemasan berlebih dan kekalahan kampus beragumentasi.”

Mahasiswa makin panas. Teriak-teriakan bertambah banyak. Muka Pak merah padam, Pak Mendikbud tampak berkeringat.

“Tenang-tenang. Gantian bicaranya…” kata Pak Duki.

“Coba kalian duduk dengan baik,” Wardiman berupaya meredam keriuhan mahasiswa.

Mahasiswa yang semula panas, lalu duduk dan diam.

“Kalau ada apa-apa, kemukakan langsung ke Pusat. Jangan dipendam sendiri,” ujar Wardiman.

Dia meminta Rektor menjelaskan persoalan yang dituntut mahasiswa.

“Tuntutan mahasiswa FISIP Unila agar fakultas mereka segera didefinitifkan, sudah kita upayakan dan diteruskan ke Pusat, Pak Menteri. Kita tetap akan mengusahakannya…,” lapor Alhusniduki.

Mahasiswa yang tidak puas dengan penjelasan rektor riuh lagi. Tapi, kemudian diminta tenang kembali.

 “Kalau kalian menginginkan Persiapan FISIP menjadi fakultas definitif akan diupayakan oleh perguruan,” kata Mendikbud.

Meski tak terlalu jelas, mahasiswa menjadi lega dan mulai tenang.

“Terima kasih, Pak Menteri. Kami menunggu secepatnya agar pengalihan status Persiapan FISIP diganti fakultas definitif,” sambut mahasiswa.

Lalu, mahasiswa yang membentuk formasi lingkaran perlahan merenggang. Jalan menuju gerbang STM terbuka. Mendikbud menuju gedung STM disambut drum band siswa sekolah tersebut.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top