Human

Demonstrasi, Toleransi, dan Bukan Cinta Sejati

Oleh Irma Novita

SAYA memiliki teman akrab di SMA. Sat tiba memilih perguruan tinggi pun kami sepakat sama. Entah benar atau tidak ilmu membaca karakter bahwa berdasarkan binatang yang disukai, saya memilih kuda laut yang memiliki arti “orang yang memikirkan orang lain terlebih dahulu kemudian diri sendiri.”

Minat kami sama, Jurusan Ilmu Komunikasi. Tapi, ketika saya tahu bahwa dia memilih jurusan itu, sementara jika kami memilih jurusan yang sama peluang yang lulus hanya satu, akhirnya saya mencari-cari jurusan apa yang masih satu fakultas dengannya, pilihan saya akhirnya jatuh ke Ilmu Pemerintahan.

Kami mengikuti PMDK, yaitu seleksi melalui jalur prestasi. Dari nilai rapor, kami sama-sama optimis, dan dari kegiatan ekstrakulikuler, teman saya aktif di bela diri sementara saya PMR. Namun, saat pengumuman kelulusan terbit, ternyata si teman yang yakin dengan pilihannya tidak lulus. Saya yang asal pilih malah lulus.

Meski bahagia bisa kuliah di PTN, sedih juga karena tidak dapat kuliah bersama teman akrab saya. Akan tetapi, pada akhirnya dijalani karena selain ada sepupu yang sudah lebih dulu kuliah di Unila meskipun berbeda jurusan. Ada juga para kakak tingkat lainnya yang perhatian dan selalu membantu para mahasiswa baru.

Kuliah di Unila adalah pertama kali saya keluar dari provinsi tempat lahir saya dan pertama kali juga tinggal jauh dari keluarga. Orang-orang di kampung halaman menyebut saya pemberani karena selain perempuan juga sebagai anak bungsu yang kuliah menyebrang lautan.

Mungkin jika Jembatan Selat Sunda jadi dibangun, orang-orang tidak menganggap jarak antara Lampung-Banten jauh. Namun, sampai tulisan ini dibuat, itu masih wacana. (Bahasa ini seperti bahasa diberita-berita ya? Ini memang ada kaitannya dengan pilihan organisasi yang saya ikuti di kampus yaitu Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Teknokra).

***

Tahun 2000 adalah masa Reformasi. Demonstrasi, mahasiswa turun ke jalan masih masif. Tak ingat persis apa tuntutannya waktu itu, kami para mahasiswa baru, diajak demonstrasi dari kampus hijau (sebutan Unila) menuju gedung DPRD Lampung. Kami berjalan kaki dibatasi tali rapia pada sisi kanan dan kiri barisan. Paling depan barisan, pimpinan barisan yang biasanya terdiri dari ketua organisasi di kampus dari atas mobil pick up  meneriakan yel yel dan tuntutan.

Kami pengunjuk rasa sesekali menyapa pengguna jalan raya lainnya, meminta maklum karena menggunakan hampir setengah badan jalan. Barisan pun beberapa kali berhenti untuk memberi waktu pendemo beristirahat dan minum agar tenaga pulih kembali. Untungnya demonstrasi yang saya ikuti waktu itu tidak ada kerusuhan sampai memakan korban seperti demonstrasi lainnya.

***

Di angkatan kuliah, teman-teman saya memiliki latar belakang yang beragam termasuk agama, tetapi kami kompak dalam urusan kuliah dan organisasi. Jika teman yang bukan beragama Islam ini mengundang acara di rumahnya, mereka menyiapkan makanan dari luar yang terjamin kehalalannya.

Saya juga memiliki teman dekat asal Jakarta yang beragama Kristen. Kami sering mengerjakan tugas bersama bergiliran, kadang di kostannya kadang di kostan saya. Saat tiba waktu shalat saya tetap shalat di kamarnya setelah saya memastikan kamarnya memenuhi syarat sah shalat, sementara mukena dan sajadah memang selalu ada di tas saya mengingat aktifitas saya yang lebih banyak di luar kostan.

***

Meskipun di Unila ada pohon yang dinamai Beringin Cinta, karena kerindangannya tak jarang dipakai mahasiswa-mahasiswi memadu kasih; kisah cinta saya tidak berawal di sana, tetapi di fakultas. Jika yang lain mencari gebetan  karena fisik dan kebetulan di FISIP terkenal dengan perempuannya yang berpakaian seksi, dibanding fakultas lain apalagi fakultas MIPA saat itu. Namun, ada juga yang jatuh cinta karena kekaguman pada kemampuan seseorang. Biasanya kalau mahasiswa baru akan kagum pada sosok kakak tingkat seorang aktivis organisasi kampus, pintar berbicara di depan umum, dan akrab dengan mahasiswa baru.

Begitu pun rasa cinta saya berawal dari situ. Saya mendekatinya dengan meminjam buku kuliah sampai ke kontrakannya. Alangkah kecewanya saya ketika yang menyerahkan buku itu adik perempuannya, padahal saya berharap bisa bertemu dengan kakak tingkat yang saya incar. Belakangan saya paham bahwa laki-laki yang saya kagumi itu sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis karena kebetulan dia Ketua Rohis di fakultas.

Tak hanya mengalami kekecewaan, rupanya saya pun mengecewakan orang lain, yaitu seorang kakak tingkat yang berasal dari provinsi yang sama dengan saya. Belakangan saya tahu bahwa dia menaruh hati pada saya. Pantaslah sebelumnya dia mengajak saya mengikuti organisasi kampus yang sama dengannya, menawarkan mengantar pulang saat ada kegiatan organisasi yang sampai larut malam, hingga suatu saat di kala kegiatan diskusi “merumput” di halaman kampus yang merupakan hal lumrah di FISIP, melalui kawan yang duduk di sebelahnya dia meminjam notes saya.

Selesai kegiatan diskusi, dia mengembalikan notes itu yang langsung saya masukkan ke dalam tas. Ternyata di salah satu lembarannya ada coretan pensil sketsa wajah saya, tertera inisial namanya dan tanggal dibuat sketsa itu. Dari berorganisasi di Rohis fakultas, saya mengetahui dan mencoba untuk tidak berpacaran. Dia pun mengerti. Cinta sejati saya rupanya bukan tertulis di bangku kuliah.

Keberadaan saya di FISIP Unila memang bukan berawal dari pilihan yang matang, bahkan boleh dibilang karena tertukar, tetapi saya bersyukur dapat menjalani masa kuliah di FISIP Unila. Ini tak lepas dari restu keluarga terutama Ibu (karena ayah sudah tiada). Saya berusaha menjalankan amanah agama dan amanah keluarga, meskipun tidak ada yang melihat aktivitas yang saya lakukan sehari-harinya. []

——
Irma Novita, tercatat menjadi mahasiswi FISIP Unila tahun 2000.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top