Negarabatin (41)
#11
TERSESAT DI PEMATANG
Tidak hanya di Seranggas, Selipas, Pantau, Heru, Tebakandis, Sebidak, Kidupan, Uncuk atau repong-repong yang dekat orang Negarabatin ngebun kahwa. Seperti yang lain-lainnya berkebun di pematang-pematang di hutan Bukit Barisan Selatan, Pakbalak dan Pakngah berkebun kopi pula di Pematang Liyu. Pematang Liyu termasuk pematang yang paling dekat disbanding pematang-pematang lain seperti Pematang Limau Kunci.
Uyung penasaran pula ingin ikut Pakbalak Sakwan ke pematang.
“Saya ikut ya, Lak,” kata Uyung.
“Boleh kalau tahan,” ujar Pakbalak.
Agak khawatir sebenarnya Pakbalak Sakwan mengajak serta Uyung, tetapi Uyung ingin sekali. Ya, tak bisa tidak.
Mak-bak Uyung tak pula bisa menghalanginya.
“Yu, Yung,” ujar Zanaha dengan berat hati.
Jadilah Uyung naik ke pematang. Pada hari keberangkatan ke pematang, pagi-pagi sekali, rombongan naik mobil dari Way Mengaku ke Pekonbalak. Dari Pekonbalak, turun singgah terlebih dahulu sebuah rumah mirip warung untuk membeli kebutuhan yang perlu dibawa untuk beberapa hari di pematang.
Selang bebelapa lama, Pakbalak Sakwan berbicara, “Ayo, kita berangkat.”
Serombongan mulai berjalan melewati jalan setapak yang hanya bisa dilewati orang. Dalam rombongan Pakbalak Sakwan ada Pakbalak sendiri, Inabalak istri Pakbalak yang menggendong bayi, sepupu Uyung, dan Uyung. Ada pula rombongan lain yang tidak terlalu jauh dari rombongan Pakbalak Sakwan.
Namanya juga naik pematang tentu saja jalan sering menanjak. Sesekali menurun. Berbelok-belok dan banyak simpangannya. Tidak seperti awalnya yang riang-gembira, tambah lama tambah lemas rasanya badan Uyung. Jauh dari pekon pematang ini. Berangkat pagi-pagi sampai-sampai di pemagtang sore-sore sudah hampir Magrib. Alangkah capainya.
Malam di pematang, betapa sepi. Yang ada hanya bunyi wir-wir, jangkrik, kodok, burung hantu, dan bermacam binatang. Di gubuk, hanya ada lampu minyak sebagai penerang. Melongok ke luar gubuk, kelam pekat. Sesekali ada sinar terbang dari kunang-kunang. Tapi, kunang-kunang hanya manambah rasa takut saja. Konon kata warahan, kunang-kunang ini kuku hantu. Hiii… takut. Tapi Uyung tak kan berani bicara dengan Pakbalak. Nanti dibilang penakut.
Aroma buah kopi harum sekali. Tapi, kelam pekat, tidak ada yang terlihat selain yang terkena sinar lampu minyak dalam gubuk atau bintang-bintang kecil jika menengadah ke atas langit membuat Uyung merasa kesepian bercampur ketakutan. Pakbalak Sakwan, Inabalak, Bahrein, adik sepupunya memang bersama Uyung, tetapi tetap saja perasaan sepi melingkupi Uyung. Untungnya Uyung cepat tertidur karena kelelahan setelah berjalan seharian.
>> BERSAMBUNG