Negarabatin (42)
Bangun pagi ketika mentari mulai menyinari kubu dan Pematang Liyu. Kakinya belum juga pulih dari rasa pegal. Tapi kiri-kanan, depan-belakang sudah terang semua. Walaupun sudah bangun, dibiarkan Pakbalak Sakwan saja Uyung masih bergolek di tempat tidur. Tak lama, Uyung bangun.
“Sudah bangun, Yung,” sapa Pakbalak.
“Sudah, Lak.”
“Masih capek ya?”
Agung mengangguk.
“Tidur lagi saja,” kata Pakbalak.
“Nggak, Lak. Saya mau melihat kahwa.”
“Nanti kalau sudah siang sedikit. Sekarang masih basah, terkena embun. Masih dingin,” ujar Pakbalak.
Dari ruang belakang gubuk, terdengar Inabalak berkata, “Do, makan dulu. Ajak Uyung makan.”
“Yuu… Nah, ayo makan. Itu Inabalakmu sudah memanggil,” kata Pakbalak.
Mereka makan bersama. Memang sudah kebiasaan orang Negarabatin, belum bekerja jika belum mengan balak[1] terlebih dahulu.
“Ayo, nambah,” ujar Inabalak.
“Dikenyangkan, Yung. Setelah itu kita ngunduh,” ujar Pakbalak.
Tapi tidak demikian. Seusai makan, nyupi pai, ngudut pai… Tidak bisa jika tidak ngupi dan ngudut setelah makan.
***
Waw, kata hati Uyung, melihat kebun kopi luas Pakbalak. Buahnya lebat-lebat, merah-merah. Kebun kopi Tamong Hakim dan bak-maknya di Selipas, Tebakandis, Heru, dan Seranggas memang lebat. Tapi lebih lebat lagi buah kopi di kebun Pakbalak Sakwan ini.
Pantas saja Pakbalak memilih berkebun di pematang kalau begitu. Sebenarnya wajar karena lahan yang dibuka di pematang dari pullan tuha[2]. Berbeda dengan Seranggas, Kidupan, Sebidak, Tebakandis, Selipas, Pantau, Heru atau Uncuk yang sudah sering dibuka. Suburnya pullan ngura[3] jelas kalah dengan pullah tuha.
“Ini bawa bakulmu. Untuk ngunduh. Hasilnhya tarok di sini,” ujar Pakbalak.
Lebat-lebat, merah-merah. Mau mulai dari mana, Uyung bingung.
“Ngunduh dari mana saja, Yung,” kata Pakbalak lagi.
Pertama-tama dicari Uyung batang kopi yang ia lihat paling lebat dan buah kopi sudah hampir masak semua. Tangannya tidak cukup besar untuk menarik sekaligus tumpukan besar buah kopi. Terpaksa, ia putil sedikit-sedikit. Jelas, lamban sekali kerja Uyung. Satu pohon saja lama sekali. Sudah hampir sejam baru Uyung pindah ke batang kopi sebelahnya. Begitu terus sampai beberapa pohon kopi.
Sudah hampir zuhur, didengarnya Pakbalak berteriak dari jauh, “Yung, berhenti dulu.”
“Yu,” Uyung membalas memekik.
“Ke sapu….” pekik Pakbalak lagi.
Istirahat siang dulu. Di gubuksudah ada rebusan ubi kayu. Uyung kecil minum air putih, tidak ngupi. Melihat Pakbalak makan ubi, ngupi, ngudut sebenarnya Uyung cemburu ingin ngupi dan ngudut pula.
“Ngupi saja, Yung. Tapi ngudut nanti saja jika sudah tahu mencari uang sendiri,” ucap Pakbalak seperti bisa membaca pikiran Uyung.
Kepada Inabalak, Pakbalak berkata, “Buatkan Uyung kupi. Tapi jangan terlalu banyak kopinya, gulanya saja yang banyak.”
“Ya, Do…” sambut Inabalak sambil berjalan ke belakang membuat kopi.
Sambil istirah, Pakbalak bertanya, “Mana unduhanmu, Yung?”
>> BERSAMBUNG
[1] makan besar; tidak sekadar sarapan, tetapi makan sampai kenyang.
[2] hutan tua, hutan yang belum pernah dibuka untuk lahan pertanian atau dalam waktu yang lama tidak dibuka menjadi lahan pertanian.
[3] hutan muda, sering dibuka untuk bercocok-tanah.