Cerita Bersambung

Negarabatin (38)

Dari Negarabatin sampai Sumberjaya rasanya masih dingin. Seperti Uyung dan Kajjong Usanah, rata-rata penumpang satu bus mengenakan jaket. Masuk Bukit Kemuning suhu mulai terasa panas. Sepanjang Negarabatin-Bukit Kemuning sangat jarang menemui jalan yang lurus. Jalan seperti ular melingkar-lingkar mengikuti lereng perbukitan di wilayah Pegunungan Bukit Barisan Selatan. Bus yang membawa penumpang meraung-raung miring ke kiri miring ke kanan, terguncang-guncang, kadang terloncat-loncat pula karena jalan raya yang buruk. Aspal jalan sudah banyak yang pecah, malahan sudah hilang menjadi jalan tanah.

Jika kemarau agak mending. Tapi saat penghujang, bisa dibayangkan kondisi jalan raya. Ada beberapa tempat yang jalan besar berubah menjadi kubangan penuh lumpur. Ngelumpur sai ngelumpur[1]-lah mobil. Terpaksa pula penumpang turun mendorong bus. Atau, berjalan duluan menunggu bus keluar dari lumpur. Bukan sekali dua kali penumpang mobil terpaksa minap di jelan. Akibatnya, mobil berangkat pagi dari Negarabatin, sampai di Tanjungkarang pagi pula.

Jong, masih jauh ya?” Uyung bertanya, padahal baru sampai Batu Kebayan. 

“Ini baru keluar sedikit dari tempat kita,” kat Kajjong Usanah.

“O, jauh ya Jong!”

“Ya, Tuah. Tidur saja Kajjong.”

Tapi, bagaimana bisa tidur jika mobil berjalan tak pernah tenang. Miring kiri, miring kanan, tiba-tiba mengangkat penungpangnya ke atas ketika bertemu jalan yang berlubang-lubang. Untungnya sopir-sopir yang membawa bus sudah cakap membawa kendaraan mereka. Sudah biasa. Jika tak berpengalaman, sangat riskan. Tebing di sebelah kiri, lurah di sebelah kanan. Jika tidak hati-hati bisa-bisa menabrak tebing atau menggelinding masuk jurang yang dalam-dalam. Sangat mujur hal itu jarang terjadi.

Ajjong, saya capek. Belum sampai juga ya…,” suara Uyung lagi.

Baru masuk Sekincau. Bersabar-sabar hati Kajjong mesti membujuk Uyung agar tidak rewel saja di sepanjang jalan.

Di Fajarbulan, Uyung muntah-muntah. Huek… Huek…. Penuh muntahan baju dan celana Uyung. Kerjaan pula mengelap-ngelap, membersihkan badan Uyung dan bangku tempat Uyung duduk lalu mengganti pakaian Uyung. Disapukan minyak angin leher, tengkuk, dada, punggung, dan perut Uyung. Sekujur tubuhnya dibaluri minyak angin agar Uyung merasa hangat dan tidak muntah-muntah lagi. 

“Sebentar lagi kita berhenti di Sumberjaya. Kita istirahat dulu. Makan di rumah makan,” kata Kajjong Usanah kepada Uyung.

“Kalau mau muntah lagi, bilang ya. Itu ada plastiknya agar muntahannya tidak tabur,” ucap Kajjong Usanah lagi.

Perjalanan dari Negarabatin sampai Bukitkemuning alangkah beratnya. Tidak kurang dari tujuh jam lamanya. Jika berangkat dari Negarabatin pukul tujuh pagi, baru sampai di Bukitkemuning pukul dua siang. Lama dan meletihkan.

Namun, setelah Bukitkemuning sampai Kutabumi, semuanya masih di Kabupaten Lampung Utara, jalan sudah bagus. Bertambah bagus di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Selatan, masuk ke Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung[2].

Negarabatin negeri antah barantah. Jauh dari ibu kota provinsi. Jauh dari keramaian. Oleh sebab itu wajar jika jarang dikunjungi.  

***

Sore-sore di tahun 1979 untuk pertama kalinya Uyung berkunjung ke Tanjungkarang. Sudah ada Terminal Rajabasa, tetapi bus Purnama Liwa yang ditumpangi Uyung bersama Kajjong Usanah masih dapat mengantarkan penumpangnya sampai di Lambanni Pakbatin Yusri di Jalan Sekala Brak, Pakiskawat, Tanjungkarang. Namun, beberapa tahun setelah iti, bus-bus atau angkutan umum dari luar kota dilarang masuk, harus berhenti di Terminal Rajabasa. Dari Terminal Rajabasa naik angkutan kota (angkot).

>> BERSAMBUNG


[1] mobil kepater di lumpur

[2] Nama ibu kota Provinsi Lampung masih Tanjungkarang-Telukbetung karena memang terbentuk dari dua kota kembar, yaitu Tanjungkarang dan Telukbetung. Berubah namanya menjadi Kotamadya Bandar Lampung pada 1983.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top