Cerita Bersambung

Negarabatin (37)

Jika minan atau mamak-nya Uyung diketahui Kajjong Usanah tidak salat, sudah tentu mendapatkan omelan. Kajjong ini sangat streng dalam soal-soal agama. Jangan main-main. Bisalah Kajjong jadi ustazah, tetapi ia tidak mau. Lebih ia bekerja.

***

Bila Tamong Muhari sering menunggu kebun atau pekon saja, Kajjong Usanah yang pergi ke sana ke mari menjual jeruk dan hasil pertanian lainnya. Sering sendirian, sering pula bersama adik-adik sepupu Uyung yang lain.

Jong, kamu mau tidak ikut ke Karang?” Kajjong Usanah bertanya kepada Uyung.

Tentu saja Uyung senang diajak jalan-jalan, langsung menyahut, “Mau, Jong.”

Tapi, Uyung masih takut-takut jika tidak diizinkan orangtuanya.

Jong, dibolehi Bak-Mak tidak ya ikut Kajjong?” ujar Uyung sangat khawatir.

“Oo… nanti saya bilang ke Mak-Bak-mu, Jong. Percaya saja… tidak mungkin tak diizinkan mereka,” kata Kajjong Usamah mengusap kepala Uyung.

Gembira hati Uyung.

Benar, dikatakan Kajjong Usanah kepada Jahri dan Zanaha bahwa ia hendak mengajak serta Uyung ke Tanjungkarang.

“Ya, Mak. Bawalah Uyung. Agar ia punya pengalaman dan cerita tentang Tanjungkarang, kota tempat yang ramai,” kata Jahri.

“Kapan berangkat?” Zanaha bertanya.

“Besok pagi,” kata Kajjong Usanah.

“Iya, Mak. Nanti saya siapkan pakaian yang mau dibawa Uyung,” sahut Zanaha lagi.

Bila sudah Kajjong Usanah yang bicara, Jahri dan Zanaha tidak bisa menanan atau menidakkannya.
Hanya pesanny kepada Uyung, “Yung, kalau ikut Kajjong-mu ikut perkataan ya. Ikuti kata Kajjong-mu. Jangan jauh-jauh dari Kajjong-mu. Tanjungkarang itu kota. Tidak seperti di sini, di sana, orang ramai, mobil banyak. Berbeda dengan di sini, sepi. Mobil juga jarang-jarang. Jika hendak menyeberang jalan besar, lihat kiri-kanan. Atau, jika tidak berani, minta tolong saja kepada Kajjong atau minta tolong kepada yang lain. Tapi, yang kenal, jika tidak kenal, jangan. Tidak semua orang kota baik. Tidak usah jalan-jalan jika tidak bersama Kajjong atau puari yang di Karang, nanti tersesat….”

Mau bagaimana jawaban Uyung kalau bukan, “Ya, Bak. Ya, Mak.”

Entah, apa lagi pesan Mak-Bak, tidak terlalu dihiraukan Uyung karena sudah girang hatinya. Hendak ke ibu kota Provinsi Lampung.

Tahun 1970-an sampai 1980-an kondisi jalan Negarabatin-Tanjungkarang sangat buruk. Panjang jalan 207 km sangat jauh. Mana jalannya jelek pula. Berangkay pukul tujuh pagi baru tiba di Tanjungkarang sore sekali atau malah malam. Sembilan sampai dua belas jam perjalanan mobil. Lama sekali. Panas sekali pantat karena kelamaan duduk di bangku mobil.

Keesokan paginya sekira jam tujuh berangkatlah Kajjong Usanah dan Uyung ke Tanjungkarang naik bus Purnama Liwa. Ini pertama kali Uyung berjalan jauh. Sebelumnya paling jauh hanya sampai laut di Krui atau ke Pekon Lumbok, Kutabatu, dan Banding di tepi Danau Ranau. Ke kota belum pernah sama sekali.

Uyung pamit kepada bak-mak, tamong-kajjong, dan minan yang di rumah Negarabatin. Diulang mereka kembali pesan agar Uyung baik-baik saja dalam perjalanan, saat tiba di tempat tujuan, dan kembali ke pekon.

Jalan masih berembun ketika bus mulai berangkat dari Terminal Negarabatin. Melewati Sabahbrak, Sebarus, Pekontengah, Negeriagung, Sungi, Gunungsugeh, Kutaagung, Watos, Penataran, dan Sekuting. Semua pekon tersebut masih Kecamatan Balik Bukit. Lalu masuk Kecamatan Belalau melewati pekon-pekon Teratas, Kutabesi, Kembahang, Pekonbalak, Kenali, Simpangluas, Bakhu, dan Sekincau. Malaju kembali ke Kecamatan Sumberjaya seperti Pekon Fajarbulan dan Sumberjaya. Dari Sumberjaya, barulah masuk Bukit Kemuning.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top