Cerita Bersambung

Negarabatin (6)

Zanaha yang bingung entah apa yang hendak dikerjakan melihat anaknya menangis-nangis, diam sebentar… menangis lagi, begitu terus… hanya melihat mertua perempuan dan mertua laki-lakinya bertengkar. Bagaimana caranya supaya Uyung diam. Apa benar sakitmu, Yung, katanya membenak.

Besok malamnya begitu lagi. Uyung berteriak-teriak menangis terus. Upi menangis memang itu yang dia bisa. Lapar menangis. Kencing menangis. Berak menangis. Digigit serangga menangis. Tetapi jika kenyang dan tidak rasa di badannya yang tidak enak, upi tidur lagi. Atu, main-main tertawa-tawa, apa ada yang mengajaknya berbicaranya.

Sejak bayi merah, mak-mak atau orang Negarabatin sudah mengajar bayi berbicara. Begini mengajak upi bicara: arro… abbu… atta… angging… Lama-lama upi mulai menirukan kata dari mengajar: rro… buu… tta… ngging…. Entah, apa cara mengeja begitu. Yang jelas oleh karena itu, orang Negarabatin sangat paseh bercakap-cakap atau betetangguh[1]. Termasuk merayu muli atau nyambai[2], mereka sangat paham. Ya, sastra atau berbicara yang baik memang sudah dibiasakan dalam kehidupan masyarakat Negarabatin. Memang kehidupan Negarabatin sesungguhnya penuh dengan yang hal-hal yang menyenangkan.

Tetapi apa benar penyebab Uyung kok rewel saja. Apalagi jika malam. Tidak tahan Zanaha, dipeasankannya Jahri di Ulok Krui agar segera pulang kampung. Jahri yang mendengar anaknya rewel saja, bersegera ke Negarabatin.

Uyung langsung tertawa-tawa ketika bak-nya datang. Agaknya hatinya senang sekali. Terlebih saat digendong Jahri.

 “Arro… abbu… atta… angging…,” kata Jahri kepada Uyung.

Mata Uyung tak lepas dari Jahri, Terkadang mereka berdua beranak seperti ngobrol. Dinyanyikan pula oleh Jahri beberapa lagu anak-anak. Uyung tertawa-tawa.

“Ah, karena kangen dengan bak-nya saja,” kata Menah.

Mungki n sudah tersampaikan rindunya, perutnya juga sudah kenyang menyusu pada mak-nya, Uyung tidur. Semoga Uyung tenang, harap orang yang tinggal di rumah panggung ini.

Namun, Uyung tenang hanya sebentar. Pukul sembilan malam, Uyung mulai menangis-nangis lagi, memekik-mekik… Seperti beberapa malam sebelumnya matanya menatap  nanar ke atas. Seperti ada yang dilihatnya. Ia seperti ketakutan.

“Kenapa benar kamu, Yung?” tanya Zanaha seperti hendak mewek.

“Sini saya yang menggendong Uyung. Coba Udo baca-baca Alquran,” kata Zanaha lagi.

Tanpa banyak bicara lagi, Jahri langsung membaca Surat Al Fatihah, surat-surat pendek  Alquran, dan Ayat Kursi. Memang ada dampaknya, Uyung menjadi tenang. Tidur lagi. Tapi tidak lama, rewel lagi. Dibacakan Jahri Surat Yassin. Syukur Uyung bisa tenang sampai pagi.

Memang ribet Uyung. Beberapa malam tenang. Menangis, tertawa, nenen, kecing,  berak seperti kebanyakan upi. Wajar dan biasa. Memang itulah jika upi belum  bisa berbicara, baru bisa menyepak-nyepak dan meninju-ninju.  Senanglah hati Zanaha, Jahri, Menah, Hakim, dan … oh iya ada satu lagi orang penghuni rumah panggung, yaitu adek perempuan satu-satunya Jahri. Nalom namanya. Dia minan-nya Uyung.

Tapi, hanya beberapa malam, Uyung sudah membuat kerepotan baru. Meraung-raung, menangis tak menentu. Meskipun sudah dibacakan macam-macam, tetap saja. Bingung semua penghuni rumah panggung. Apalagi yang akan diperbuat agar Uyung kembali tenang.

Tetangga sampai datang.

“Coba panggil dulu Uyuk Ukun. Barangkali ada yang ingin berkawan dengan Uyung ini,” ujarnya.

Uyuk Ukun datang. Diraba Uyuk kening dan pipi Uyung, diusapnya perut Uyung, dipegang dada Uyung sembali mulutnya komat-kamit entah apa yang dirapalkan Uyuk Ukun. Semuanya tegang.

Diam dari komat-kamit, Uyuk Ukun berbicara kepada Menah, “Coba cari berelai jerangau[3], kunjer[4], jahik[5]….“

>> BERSAMBUNG


[1] Dari kata “tangguh” yang menjadi “nangguh”, berarti kemampuan untuk menyampaikan sesuatu (pesan, amanat, pamit, permisi, dll) dengan bahasa Lampung yang terbaik dalam kosakata dan kalimat.

[2] Acara berbalas-pantun dan menari dalam pesta penikahan adat Lampung.

[3] sejenis tetumbuhan untuk ramuan pengobatan tradisional  

[4] kunyit

[5] jahe

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top