Cerita Bersambung

Negarabatin (7)

Entah apa-apa ramuan yang diminta Uyuk Ukun untuk obat Uyung, bergegas dicarikan Menah. Diserahkan kepada Uyuk Ukun. Sambil tangannya mengolah bahan-bahan tersebut menjadi ramuan, mulutnya komat-kamit merapalkan memmang[1]: Pahpuhpeh… pah puh peh…  sitan belis tindak sunyin. Alam neram mak gegoh. Dija layin rang keti. Inji tuyuk kahut dang tigegehela…

“Minta air putih,” ujar Uyuk Ukun.

Dikira akan dipakai untuk ramuan. Ternyata diminum Uyuk Ukun. Haus rupanya. Terlihat memang sekujur tubuh Uyuk Ukun kuyup dengan keringat. Mukanya merah seperti sehabis berkelahi dengan … entahlah, saihalus[2].

Keadaan masih tegang. Belum ada yang berani bertanya sampai Uyuk Ukun sendiri  yang berbicara, “Sudah. Ini ada yang selalu mengajak Uyung bermain. Sebenarnya tidak apa-apa, hanya karena senangnya saihalus pada Uyung. Tapi, Uyung yang ketakutan. Kita yang melihatnya yang sangat khawatir karenanya. Tapi sekarang, saihalus sudah pergi dari sini. Kekalau Uyung kembali tenang, tidak lagi rewel dan meraung-raung lagi…”

“Jadi, sekarang Uyung tidak diganggu lagi…” Zanaha tidak sabar.

“Semoga…. Ini balurkan obat ini ke jika ia mulai gelisah tak wajar sambil membaca Fatihah, Kulhu, dan salawat. Tapi, kalau sedang pintar cukup tiga kali saja, pagi, sore, dan malam. Kalau bacaan sesering mungkin lebih bagus,” pesan Uyuk Ukun.

Untunglah sejak diobati Uyuk Ukun, Uyung menjadi tenang. Beberapa kali seperti hendak kumat, Zanaha dan Jahri bergantian membalurkan obat dari Uyuk Ukun di tubuh Uyung sambil membacakan apa yang diajarkan Uyuk Ukun.

***

Uyung tumbuh bertambah besar, mulai tengkurap, merangkak, belajar bicara, dan berjalan. Syukurlah.

Sebenarnya Uyung tidak rewel, tetapi badannya ringkih benar. Tidak bisa terkena hujan sedikit sudah pilek pula. Mudah pula terjangkit batuk. Kulitnya terkena apa saja yang kotor menjadi koreng. Mungkin karena anak tertua, semuanya sayang sekali dengan Uyung, sehingga ia mudah sakit. Tapi memang benar, jika Uyung sakit, semuanya hibuk. Semua sangat peduli kepada Uyung.

Anak tertua sayang. Tuah kahud[3] kakeknya, Tamong Hakim. Bagaimana pula tak begitu.

Sekali waktu Uyung terkena keridasan balak[4] di ketiaknya. Entah apa nama penyakitnya. Zaman itu Puskesmas, mantra kesehatan, apalagi dokter masih jarang. Jadi, Uyuk Ukun juga yang mengobatinya. Entah apa obatnya… hanya ada satu tetumbuhan yang disebut cintawali[5], seperti diceritakan orang-orang kepadaku, untuk mengobati Uyung.

Entah, berbagai ulah, berbagai pula akibatnya. Begitulah walaupun anak kecil.

***

Tempat tinggal Uyung ini rumah panggung. Ada lima sampai tujuh mata tangga jika hendak naik rumah. Ketika Uyung belum bisa berjalan, sudah dibikin dinding pembatas di muka tangga agar Uyung tidak jatuh. Tapi Uyung bertambah besar. Namanya anak-anak seunang pula bermain naik-turun tangga. Cerita orang-orang, ada sekali Uyung menggelinding jatuh di tangga. Menangis sebentar. Tapi tak kan berhenti. Naik-turun tangga lagi. Kadang-kadang memanggil pula teman-temannya bermain di tangga. Rupanya enak pula duduk di tangga.

Tapi kalau hujan-hujanan seperti anak-anak lain, Uyung langsung dilarang. Main air di tempat yang tergenang bagi anak-anak pekon sepertinya asyik. Bagi Uyung juga. Tapi jika diketahui bak-mak atau tamong, langsung dilarang. Alang sayangnya seisi rumah kepada Uyung. Tapi mungkin karena itulah, tubuh Uyung jadi meringkih. Mudah sakit. Kata yang lain, karena terlalu banyak tidak bolehnya. Tapi itu karena sayangnya orangtuanya kepada Uyung.

Nah, bagaimana pula, Uyung anak laki-laki tertua Jahri, umpu tertua laki-kaki Tamong Hakim pula. Banyak harapan yang tertumpu pada Uyung ketika besar kelak.

Itu, barangkali.  Namun, dalam perjalanan kehidupan nantinya, cerita sering tak seperti yang kita kehendaki.  Jalan tersebut tak selalu enak dilewati.


[1] mantera

[2] makhluk kasatmata

[3] cucu tersayang

[4] korengan besar

[5] brotowali

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top