Cerita Bersambung

Negarabatin (5)

Kembali ke mak, “Mak ini kalau  nyetil kayak gadis India,” kata Wan, adikku yang laki-laki baru-baru ini waktu kami kumpul ketika sudah tua.

Kami tertawa semua. Untung tidak didengar mak. Walaupun didengar mak sebenarnya tidak apa-apa.

Nah, Bak-ku Jahri seperti tamong-kajjong[1], tuyuk[2], dan tuyuk turing[3]-ku, semuanya turun temurun lahir di Negarabatin. Memang orang Negarabatin, artinya.

***

Sebelumnya kuceritakan, aku aku lahit kala bak-ku masih di Ulok Krui. Sebenarnya, tidak lama setelah menikah, bak membawa serta mak ikut ke Ulok Krui. Tapi, sebulan sebelum melahirkan, mak diminta mertua perempuannya, kajjong-ku pulang ke Negarabatin. “Kalau mak-mu ini tidak mak dipulangkan ke Negarabatin, kamu lahir di Krui,” begitu cerita mak.

Tapi kisahnya berbeda. Aku dilahirkan di Negarabatin. Bak juga juga mungkin sekira dua bulan sejak aku lahir tidak kembali-kembali ke tempatnya bekerja di Ulok Krui. “Tidak dikatakan Bak-mu bahwa ia sudah pindah bekerja di Negarabatin. Tahu-tahu ia sudah bekerja di sini. Bak-mu tidak cerita-cerita,” kata Mak.

Sudah ah, cerita bak-mak-ku. Jangan terlalu banyak. Sekarang saya mau mulai berkisah. Sebatas yang kuingat.

#3
UYUNG KECIL, UYUNG BESAR

Entah kenapa, sampai tamat SMP aku masih saja dipanggil Bak, Uyung. Walau sudah dikatakan Hakim, tamong-ku, “Umpu[4] saya sudah ada namanya, kenapa  masih saja dipanggil uyung-uyung?”, tetap saja bak memanggilku Uyung.

Iya, aku cucu tertuanya, yang paling disayanginya. Namaku dari tamong walaupun mak-bak-ku kurang begitu suka nama pemberian tamong. Tapi ya, sudahlah namaku Uyung. Walau sudah besar tetap Uyung.

Namanya masih anak kecil, tak banyak yang kuingat. Tak banyak pula yang bisa kukisahkan.

Seperti diceritakan orang-orang, ketika masih upi, merawat aku agak ruwet. Mak, tamong, rik kajjong-ku – sebelum bak menetap kembali di Negarabatin – bermalam-malam tak sulit tidur. Bagaimana hendak tidur enak jika uyung, aku sepanjang malam menangis saja. Diobati sekiranya masuk angin, masih saja menangis. Barangkali ada yang sakit karena digigit nyamuk, atau digigit semut, tidak pula. Uyung tetap saja menangis-nangis.

“Kenapa Tamong itu,” tanya Hakim.

“Entah… ini matanya selalu melihat ke atas,” sahut Zanaha.

Menah muncul dari dapur membawa parutan obat.

“Coba balurkan di perut Uyung,” ujarnya kepada Zanaha.

Dikerjakan Zanaha api yang disuruh mertua perempuannya. Siapa tahu Uyung sembuh. Beberapa saat, Uyung tak juga diam.

Apa pula penyebabnya.

“Mengapa, Tamong?” Hakim menyentuh kening Uyung.

“Mengapa kok menangis terus… Seperti ketakutan tamong ini. Apalagi kalau melihat ke atas,” ujar Hakim lagi.

“Ah, ngomong jangan asal,” sembur Menah.

“Hai, saya bicara sebenarnya,” Hakim agak kesal.

“Diobati dulu supaya sembuh,” kata Menah.

“Kan sudah diobati, tetapi masih saja menangis. Mau bagaimana lagi?” Hakim tak sabar.

>> BERSAMBUNG


[1] Kakek-nenek. Agak unik pemanggilannya. Cucu laki-laki akan memanggil kekeknya yang juga laki-laki dengan pangilan ‘tamong’. Sebaliknya, kakek akan memanggil cucu laki-laki dengan ‘tamong’. Hal ini berlaku untuk cucu perempuan yang akan memanggil neneknya (perempuan) dengan tamong. Dan sebaliknya, nenek memanggil cucu perempuannya dengan ‘tamong’.  Panggilan ‘kajjong’ bila antara cucu dan kakek-neneknya berbeda jenis kelamin. Jadi, cucu laki-laki akan memanggil ‘kajjong’ kepada neneknya. Sebaliknya, si nenek akan memanggil cucu laki-lakinya dengan ‘kajjong’. Dan, cucu perempuan akan memanggil kakeknya dengan ‘kajjong’. Sebaliknya, kakek memanggil cucu perempuannya sama, “kajjong” juga.

[2] buyut

[3] nenek moyang

[4] cucu

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top