Cerita Bersambung

Negarabatin (4)

“Hei, apalagi tak mandi,” omel ina.

“Ya, Ina,” sahut Jahri sambil mengambil handuk yang tergantung di sampiran jemuran sembari bergegas duwai[1] di sawah Sidi di Setiwang.

Sekiira tujuh menit perjalanan dari rumah. Bersicepat dia berjalan pergi, bersicepat mandi, bersicepat bersalin, bersicepat dia pulang. Beberapa kali disapa di jalan, Jahri hanya menyahut singkat-singkat. Bagaimana caranya agar cepat tiba di rumah.

Hampir saja jatuh kala kaki tersantuk balok di pintu. Tak dipedulikannya. Di kamar ia melihat uyung  sedang menetek dengan Zanaha.

“Kapan sampai, Udo[2]?” Zanaha menyapa Jahri.

“Baru sampai. Ini baru mandi,” jawab Jahri.

Didekatinya anak-istrinya. Dikecupnya kening istrinya. Diusap-usapnya pipi gemuk putih anaknya.

“Lelaki, seperti keinginan Udo,” mata Zanaha berbinar-binar.

“Laki-laki atau perempuan sama saja. Itu titipan Tuhan kepada kita,” Jahri sekadar memberi hiburan kepada istrinya.

“Iya, Do,” Zanaha tersenyum.

Mulut uyung sudah terlepas dari tetek Zanaha.

“Sudah kenyang kamu, Nak?” Zanaha mengusap kepala upi.

“Tidur… Baringkan,” ujar Jahri.

Sejak hari ini rumah panggung yang biasanya sepi sudah ramai oleh tangisan uyung. Sanak-famili yang tahu anak Jahri sudah lahir mulai berdatangan satu per satu menengok upi. Ada saja bawaan mereka seperti baju bayi, sabun untuk mencuci, dan berbagai keperluan upi dan ina-nya. Semuanya seperti bergembira karena kedatangan penghuni baru yang baru lahir di pekon mereka.

Hari ketiga ada ngakan menyan[3] kecil di rumah. Memohon benar upi, mak-bak-nya, dan sanak-famili semuanya sehat, dimurahkan rezeki, umur panjang, serta hati dalam keadaan kelapangan. Semoga hidup uyung beruntung, jadi orang besar, tidak membuat kesusahan dan kemaluan.

Hampir seminggu Jahri di Negarabatin. Makkung habis kangennya kepada anak-istrinya. Tapia pa daya. Ia mesti muloh mit Ulok Krui. Di pekon yang lain, berbeda pula kecamatannya, yang dekat laut, sejauh sekitar 40 km dari Negarabatin, Jahri mencari penghidupan. Walau dia masih ingin lama di pekon-nya sendiri di Negarabatin tidak bisa tidak ia mesti berangkat pula ke tempatnya bekerja.

Apa boleh buat. Dalam hatinya, hanya doa semoga anak-istrinya selalu sehat. Pekerjaan di Ulok Krui lancar pula. Tiada lain bekerja kalau bukan untuk kehidupan anak-istri.

***  

Ya benar, uyung yang lahir di Negarabatin pertengahan tahun 1970 itu aku. Kemudian menyusul adik-adikku lahir yang nomor dua sampai nomor lima. Kami lima bersaudara. Dua laki-laki, tiga perempuan.

Mak-ku Zanaha, gadis manis dulu – begitu kata mereka – dari pekon sebelah. Soal cantik yang benarlah. Kelihatan masih ada sisa-sisa kecantikan sampai kini. Anaknya cantik-cantik. Yang laki ganteng-ganteng. Nah, soal ganteng, aku dan adikku kalah ganteng dengan Bak-ku. Ya, sudah nasibku. Hahaiii…

Mmemang orang Negarabatin yang sering mandi di Way Setiwang cantik-cantik dan tampan-tampan. Konon, karena dulu di Setiwang itu terdapat pancor pitu[4], yaitu tempat muli peteri[5]  dan bidadari mandi. Entahlah kebenaran hal tersebut, tetapi yang pasti muli-muli[6] dan meranai-meranai[7] yang sering membasuh mukanya di Setiwang, apalagi jika mandi memang lebih cantik atau ganteng. Rupanya air Setiwang ini dapat mengubah penampakan kulit menjadi lebih bersih-bercahaya. Entahlah…

>> BERSAMBUNG


[1] pergi ke pangkalan mandi di sawah atau di telaga.

[2] Kakak, Abang, panggilan untuk anak tertua laki-laki

[3] Berdoa, syukuran kecil dengan mengundang tetangga dan sanak-famili. Secara harfiah, ngakan menyan berarti membakar kemenyan, tetapi sesuai ajaran Islam, kegiatannya berupa zikir dan doa yang dipimpin imam, dan setelah itu menyantap makanan dan minuman yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Kini,  meskipun namanya tetap ngakan menyan, sering tidak disertai pembakaran dupa.

[4] pancuran tujuh.

[5] putri raja

[6] muli: gadis, dara

[7] meranai: bujang, perjaka

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top