Cerita Bersambung

Negarabatin (3)

“Laki-laki….”

“Perempuan….”

Ah, paling beberapa hari lagi, pikir Zanaha. Makanya ia baru memesankan Jahri tadi. Mudah-mudahan besok Jahri datang, doanya. Sambil mengingat-ingat tahun-tahun sebelum mereka berdua berumah tangga, Zanaha mencoba berbaring, menutup mata, dan menenangkan hati. Tapi, tidak mudah. Suara air hujan yang mengenai seng, terkadang bunyi atap yang seperti hendak diterbangkan angin, dan bunyi tetesan atap bocor ke kaleng penampungnya membuat suasana mencekam.

Dia ketakutan, tetapi ditahannya saja. Kalau ada Jahri, mestilah ia bisa memeluk suaminya. Tapi, Jahri tidak di rumah. Suami jauh mencari rezeki di laut.

Sedang memikirkan suaminya dan badannya sendiri, tiba-tiba perutnya melilit sakit. Mulanya tidak seberapa. Namun sakitnya terus bertambah-tambah. Ditahannya saja. Ketika tak mampu ditahannya lagi, Zanaha memekik-mekik, “Maak, Maak… sakiiik!”

Tidak langsung didengar ibu mertuanya karena suaranya kalah dengan hujan lebat dan ributnya bunyi seng.  Ia coba bangun dari kasur, tetapi Zanaha tak berdaya. Ia hanya bisa memekik-mekik kesakitan. Setelah kesekian kalinya, barulah didengar mertuanya. Dua mertuanya perempaun-laki datang semua.

“Kenapa?” tanya mertua perempuannya.

Zanaha tak menjawab. Ia hanya memegang perut. Melihat keadaan Zanaha, mertua perempuannya langsung melihat ke bawah perut Zanaha. Sudah basah.

“Lekas panggil dukun. Cepat,” ujar Menah kepada suaminya, Hakim.

Nah, terpaksa di tengah hujan deras, mertua laki-laki Zanaha ini langsung berjalan menjemput Ajjong Rakimah.

Hampir delapan  jam sejak pukul delapan malam, Zanaha berjuang sendirian tidak didampingi Jahri, suaminya. Hanya dibantu Ajjong Rakimah dan ditunggui mertua perempuan-lakinya. Ada adik perempuan satu-satunya  dari Jahri, tetapi masih anak-anak. Jahrti anak tertua.  Hanya mereka berdua anak mertuanya. Jadi ramai yang di rumah. Mana cuaca buruk pula mempersulit keadaan.

Sengsara benar.

Begitulah, hari Jumat sejam sebelum azan Subuh, upi[1] ini lahir. Iya, laki-laki. Lahir di rumah panggung yang hampir roboh.

Keesokan harinya, Jahri datang dari Ulok Krui.

“Anakmu sudah lahir. Lelali…,” kata beberapa orang yang bersua Jahri di jalan pulang dari terminal.

“Sehat semua bayi dan ibunya,” begitu ujar yang lain pula.

Menyesal ia tidak di Negarabatin kala istrinya di antara hidup-mati hendak melahirkan uyung[2]. Terbahyang olehnya, Zanaha istrinya memekik dan menderita sakit lebih dari delapan jam di tengah malam sepi saat hujan deras disertai angin kencang di rumah yang hampir roboh. Begitu yang ia dengar.

Penghuni rumah panggung ini memang tidak ramai. Hanya ada ama[3], ina[4], ading bebai[5] satu-satunya yang masih anak-anak, dan Zanaha istrinya. Lima orang termasuk Jahri kalau ia pulang kampung. Ah iya… sekarang jadi enam karena ada yang baru tiba. Yaitu, uyung yang baru lahir semalam.

Sampai di rumah, nafasnya memburu karena berjalan setengah berlari ingin secepatnya sampai. Keringat mengucur, mukanya merah sekali – memang dari dulu orang Negarabatin ini merah kalau kepanasan, baru putih kalau kedinginan. Tak sabar lagi Jahri langsung hendak masuk  kamar yang ada anak-istrinya di dalamnya.

Tapi, ina-nya melarang, “Ei,  bebersih dulu. Mandi dulu kamu. Kasihan anak-istrimu membaui busuk badanmu.”

Urung Jahri ke kamar. Duduk terbengut di ruang tengah.

>>  BERSAMBUNG


[1] bayi

[2] panggilan untuk bayi/anak laki-laki

[3] ayah, bapak

[4] ibu, emak

[5] adik perempuan

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top