Cerita Bersambung

Negarabatin (21)

Silih berganti yang menengok Uyung. Banyak juga yang memuji-muji Uyung sambil memberikan uang. “Uyung sudah Islam benar kalau sekarang karena sudah disunat. Ini upahnya,” kata minak-muari yang menengoknya.

Ada juga yang berkata, “Tidak menangis kan? Nah, heibat.”

Untuk beberapa hari ini Uyung dimanja benar. Setelah sunat diberi makan gulai paha ayam besar bulat tidak dipotong-potong. Tak habis oleh Uyung. Tapi, ada saja, entah adiknya, entah temannya yang menghabiskan makanan Uyung.

Bersamaan dengan itu, ada yang berjalan memberitahu minak-muari member kabar Jahri sekeluarga sudah bediom dan Uyung sudah dikhitan.

“Oleh karena itu, kita diharapkan Pakbatin Jahri sekeluarga ke rumah. Ya, hendak bedua ngakan menyan walau sedikit. Selepas Isya,” begitu biasanya anak-anak atau siapa yang menjadi utusan keliling memberi tahu orang-orang hendak ngakan menyan.

Biasanya, jawaban yang diundang, “Ya, insya Allah kalau tidak ada halangan.”

Setelah mahgrib sudah mulai betetanjaran[1]. Menggelar tikar. Nasi, gulai, kue, air untuk cuci tangan, piring untuk makan, dan air putih dibariskan di atas tikar. Gulai terdiri dari ikan, rending, ikan, nangka campur retak isi[2], sambal, dan lainnya sudah siap.  Kuenya ada lemang, cucor, tat, kembang goyang, dan lain-lain. Ada pula kerupuk dan lalapannya. Semua sudah siap.

Bakda Isya, yang diundang sudah berdatangan. Tidak lama ada yang nangguh[3] mengatakan tujuan undangan ngakan menyan. Ada juga yang nimbal[4]. Inti pembicaraan, mohon kepada Allah Swt  agar sahibul hajat, yaitu yang menunggu rumah baru sehat, selamat, danmurah rezeki. Begitu pula yang baru dikhitan semoga bertambah baik, bertambah alim, dan menyenangkan semua orang.

Barulah ada yang mengimami zikr dan doa. Undangan dan minak-muari yang berkumpul mengaminkannya.

Di sudut rumah, ada yang membakar kemenyan. Dipotong sedikit-sedikit lalu dimasukkan di bara arang di atas batok kelapa atau tungku khusus. Wajar jika ada aroma dupa sepanjang zikir dan berdoa.

Selama berdoa makanan sudah ada di hadapan semua. Selama itu mungkin ada yang tidak khusuk karena melihat isi piring di depannya. Jangan-jangan doanya diganti pula seperti ini: Allahumma kerokno, wasup sudu dana, wa iwani ana, wa kemundukni, wa mebangik unyin ana, na bagianku de ana…[5]

Waduh, bagaimana bisa khusuk jika yang dilihat dan diingat nama-nama gulai dan makanan semua.

Aih sudah, jangan main-main. Semuanya yang datang memberikan doa untuk Jahri sekeluarga dan Uyung yang baru dikhitan geh. Temon sehuwon[6]. Allahuma amiin…

Setelah membaca zikir dan doa, barulah semuanya makan. Sudah makan minum, ada yang mengedarkan ceret, “Aga kahwa api teh?[7]

Ada yang ngupi, ada yang ngeteh.

Sesudah ngobrol-ngobrol, sebebalak awak, ada yang duluan nangguh regah[8]. Auga yang belakangan pulang. Biasanya orang dekat. Menjelang tengah malam setelah nangguh semua yang pulang. Yang menginap sudah menggelar tikar dan kasur dan menyiapkan selimut untuk tidur.

>> BERSAMBUNG


[1] Menyusun hidangan makan berjejer mememanjang.

[2] kacang merah.

[3] menyampaikan sesuatu, berbicara dengan tatacara, tatabahasa, kosakata yang baik, santun, dan estetis.

[4] menjawab tangguh, tetap dengan tatacara, tatabahasa, kosakata yang baik, santun, dan estetis.

[5] Ya Allah, kerat (daging) itu, ada sop sendoklah itu, ada ikannya itu, ada sayur nangka, wa enak semua itu, nah bagianku itu…

[6] Benar sunggung-sungguh.

[7] Mau kopi atau teh?

[8] pamit pulang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top