Cerita Bersambung

Negarabatin (20)

Bersyukur kepada Yang Mahakuasa diberi-Nya berkah rumah yang baru. Hari sudah dipilih yang bagus menurut kalender Hijriah. Dimulai sejak Subuh, Jahri sebagai kepala keluarga diikuti istri, anak-anak, yaitu Uyung dan adik perempuannya, Tamong-Kajjong Uyung, orang Minan Nalom bersama tetangga rumah berjalan dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Tidak banyak yang dibawa Jahri sekeluarga saat pindahan.

Pindah rumah tersebut membawa tempat tidur, alat memasak, lampu, makanan, sajadah, dan Alquran. Alquran dan sajadah dibawa kepala keluarga yaitu menandakan ia kepala keluarga atau imam di keluarganya. Bawaan lainnya yang diangkat minak-muari dan tetangga adalah pertanda satu keluarga yang bediom hendak memulai kehidupan yang baru. Bawaan tersebut diberikan kepada kepala keluarga sebagai modal melanjutkan kehidupan di tempat yang baru.

Sebelum hari H bediom, Uyung yang sudah kelas dua SD dikhitan. Jenno Mantri Sunat, Tamong Muni yang datang.

Memang sudah dikatakan Uyung pada bak-nya, Jahri. Ia ingin sunat.

“Malu. Teman-teman sudah sunat semua,” ujar Uyung.

“Iya, Nak.  Nanti sunat saktu kita pindah rumah. Sabar ya, Nak,” Jahri menenangkan anaknya. “Tapi jangan menangis kalau sunat ya.”

“Sakit tidak,” Uyun bertanya.

Takut pula dia.

“Tidak sakit, Yung. Kan ada obatnya.”

“Benar ya Bak, tidak sakit?”

“Benarlah!”

“Ya, kalau begitu. Saya tidak menangis kalau sunat.

Jadilah sekarang Uyung sunat. Tadi pagi-pagi sekali, Uyung sudah mandi. Supaya kulitnya tidak alot, begitu kata mereka. Beberapa hari ada pula yang mengatakan Uyung agar dia menarik-narik kulit nenet[1]-nya agar terbuka kulupnya. Agar mudah memotongnya, begitu kata yang lain pula. Agar kulitnya tidak lengket saat hendak digunting. Entah, banyak sekali nasehat orang-orang kepada Uyung yang hendak disunat.

Kini, Uyung tidur terlentang di kasur. Celananya sudah dibuka. Tamong Muni sudah menyiapkan alat-alat sunat dan obat-obatan. Bak-mak, tamong, dan minak-muari sudah berkeliling hendak melihat Uyung sunat. Malu juga Uyung ditonton. Ditutupnya nenet-nya dengan tangannya.

Namun kata Tamong Muni, “Kasko culuk. Dang liyom-liyom rik rabai-rabai , Mong. Kik bakas musti mebani.[2]

Tidak bisa tidak dilepaskan Uyung tangannya dari menutupi nenet-nya.

“Sudah siap ya Yung? Sekarang, suntik dulu ya!” kata Mantri Muni.

Aduh, entah tak tentu rasa sakitnya ketika nenet Uyung kena suntik, entah lima entah tujuh kali keliling nenet-nya. Sakit. Tapi, Uyung tidak berani menangis karena sudah berjanji dengan orangtuanya tidak akan menangis.

Obat bius yang disuntikkan mantri. Setelah disuntik, digoyang-goyang mantra nenet Uyung. Seperti dipuntir-puntir dulu. Disentil pakai jarinya.

“Sakit?” Tamong Muni bertanya pada Uyung.

Uyung geleng kepala. Mulailah mantra bekerja. Memotong kulit di ujung nenet Uyung. Sudah jelas keluar darah. Tapi, langsung diberi obat dan dilap dengan kain kasa, barulah nenet-nya dijahit.

Sekali dicoba Uyung melihat nenet-nya yang sedang disunat. Tapi, ia ngeri sendiri. Jadi, ketika disunat ditutupnya matanya tak berani melihat.

Hanya sebentar.

“Nah, sudah, Yung. Hebat… enak kan sunat? Tapi, meskipun begitu, tidak boleh jika hendak sunat dua kali, Yung,” kata Mantri Muni.

Tertawa semua yang ada di situ.

>> BERSAMBUNG


[1] kemaluan anak lelaki

[2] “Lepaskan tangan. Jangan malu-malu, jangan takut-takut, Mong. Lelaki harus berani!”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top