Cerita Bersambung

Negarabatin (19)

Gunung Pesagi di belakang rumahku. Maksudku dekat dari Negarabatin. Boleh dibilang Negarabatin berada di kaki gunung tertinggi di Provinsi Lampung, yaitu 2.262 meter dari permukaan laut. Tempatnya di pegunungan membuat Negarabatin daerah hujan. Jelas dingin. Jika hujan, lebih baik tidur merapatkan selimut. Jika cuaca basah begini memang mebangik pedom, mebangik mengan mebangik muneh mising. Mak guai kintu mengan, mising pediom,[1]ai bagaimana pula.
Alangkah dinginnya kala dini hari. Lebih dingin lagi pada saat musim kemarau. Siapa yang berani jika tidak memakai jaket. Lebih nikmat lagi jika tidur berselimut tebal. Sampai pukiul delapan pagi, Negarabatin masih berembun. Terkadang embunnya sampai jam sembilan, jam sepuluh. Ketika bangun pagi-pagi, keluar uap dari mulut, ketika bicara atau kadang-kadang memang sengaja dihembuskan agar keluar uapnya. Agaknya ada keasyikan tersendiri mengeluarkan uap dari mulut tersebut.

Coba sentuh air di bak mandi. Dingin benar seperti es. Rasanya takut hendak mandi. “Kidang dang kik mak imul[2],” begitu pesan orang Negarabatin. Jika tidak mandi, badan terasa tidak enak karena kedinginan-kedinginan terus, apalagi musim penghujan. Makanya mandilah. Awal menyiramkan air ke tubuh, alang dinginnya. Tapi guyuran air kedua, ketiga, dan seterusnya akan semakin nikmat di badan. Ketika mandi, keluarlah semua uap badan terkena air yang diguyur di badan.

Minyak goreng jelas beku kala pagi. Warung terpaksa memanaskan drum atau kaleng minyak makan terlebih dahulu ketika ada yang membeli. Kebetulan memang belum zamannya pula, tidak perlu kulkas untuk menyimpan makanan atau hendak membuat es. Sebentar saja air rebus sudah dingin. Tak ubahnya dengan es pula jika sudah malam, apalagi saat pagi-pagi.

Krui memang ibu kota Kewedanaan Krui. Pusat pemerintahan di sanalah. Namun, Belanda membuat pesanggrahan di Negarabatin Liwa, tempat mereka perai[3]. Ya, Negarabatin memang cocok untuk tempat untuk berlibur dan bersantai dengan bermalas-malasan, mengan, mising, pedom. Memang dingin tempatnya. Setelah Indonesia merdeka, pesanggrahan menjadi  dinas camat atau pejabat tentara dan polisi.

Oh iya, bor tadi dibangun orang Belanda. Bangunan Belanda lainnya, yaitu sekolah kami, SDN 1 Negarabatin, tangsi atau kantor polisi lengkap dengan sel dan perumahan kepolisian, yang kemudian menjad Kantor Polisi Sektor (Polsek) Balik Bukit sekarang, dua-tiga bangunan di sebelah kiri-kanannya, termasuk rumah dinas camat, selain yang di pesanggrahan. Hanya dua rumah dari rumahku.

Di sudut Lapangan Merdeka ada kuburan orang bule[4] di dekat atau di bawah sedikit dari pesanggrahan. Begitu juga di sebelah tangsi, ada orang Barat yang dimakamkan di situ. Di sana memang mesiak[5]. Berbagai cerita mistis datang dari sini. Kami anak-anak tentu saja sering ketakutan saja jika melewati tempat-tempat ini. Apalagi sangat malam-malam sepi dan dingin.

Ya, aku setangsi sekarang. Temanku anak-anak orang besar di Negarabatin. Tapi, jangan kalian bilang aku sombong dan sok. Aku suka berkawan dengan siapa saja. Hanya saja, memang aku pemalu dan pendiam ditambah pula tidak banyak ulah dan lagak.

***

Begitulah. Satu hari Minggu, Jahri sekeluarga bediom. Pindah rumah dari uncuk ke Tangsi. Sebelumnya barang-barang dan perabotan rumah sudah duluan dibawa ke rumah yang baru. Banyak minak-muari[6] dan tetangga Jahri yang lama dan yang baru membantu mengangkat barang-barang.

>> BERSAMBUNG


[1] enak tidur, enak makan, enak pula berak. Tak ada kerja hanya makan, berak, tidur…

[2] Tapi, jangan sampai tidak mandi.

[3] libur, liburan.

[4] orang Eropa, tidak tahu orang Inggris atau Belanda.

[5] angker, mistis.

[6] sanak saudara, karib kerabat.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top