Lupa Bersyukur
TERLALU sering kita mengeluh ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan. Sedikit saja rencana meleset, kita segera mencari kambing hitam. Orang lain dianggap penyebab kegagalan. Lingkungan disalahkan. Keadaan dituduh tidak berpihak. Bahkan tak jarang, tanpa sadar kita menutup pintu untuk bercermin dan bertanya: apa yang perlu aku perbaiki dari diriku sendiri?
Kebiasaan menggerutu, gemar menyalahkan, dan enggan berintrospeksi itulah sesungguhnya tanda hati yang sedang jauh dari rasa syukur. Padahal boleh jadi yang kurang bukanlah nikmat, melainkan kesadaran kita atas nikmat itu sendiri. Kita bukan kekurangan karunia, kita hanya lupa bersyukur.
Ramadan hadir setiap tahun bukan sekadar untuk mengubah jadwal makan dan tidur kita, melainkan untuk menata ulang cara kita memandang hidup. Puasa adalah latihan kesadaran. Saat perut kosong dan tenggorokan kering, kita diingatkan bahwa selama ini kita terlalu sering menikmati tanpa benar-benar menyadari. Segelas air yang biasanya kita minum tanpa pikir panjang, tiba-tiba terasa begitu berharga menjelang waktu berbuka. Sepiring nasi yang dulu dianggap biasa saja, berubah menjadi anugerah yang ditunggu-tunggu.
Di situlah puasa mengajarkan sikap bersyukur yang paling sederhana. Mengucap syukur saat berbuka bukan hanya ritual lisan, tetapi letupan kesadaran: ternyata nikmat itu nyata dan dekat. Kita belajar bahwa syukur tidak memerlukan kemewahan. Cukup dengan sebutir kurma dan seteguk air, hati bisa terasa penuh.
Menyadari nikmat adalah inti dari puasa Ramadan. Ketika kita menahan lapar, kita diingatkan pada saudara-saudara kita yang mungkin menahan lapar bukan karena pilihan ibadah, tetapi karena keadaan. Puasa membuka mata bahwa kenyang setiap hari adalah karunia. Sehat untuk beraktivitas adalah karunia. Masih diberi umur untuk bertemu Ramadan adalah karunia yang tak semua orang dapatkan.
Ramadan juga melatih kita untuk tidak mengeluh. Menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga magrib adalah bentuk pengendalian diri. Jika lapar saja bisa kita tahan, seharusnya keluhan pun bisa kita kendalikan. Puasa mengajarkan kesabaran: bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi, dan tidak semua ketidaknyamanan harus diributkan.
Lebih dari itu, puasa mendorong kita menggunakan nikmat untuk kebaikan. Ramadan identik dengan sedekah, berbagi takjil, membantu yang kekurangan, memperbanyak ibadah. Harta yang kita miliki menjadi lebih bermakna ketika dibagikan. Waktu yang kita punya menjadi lebih berharga ketika diisi dengan amal. Syukur menemukan wujud nyatanya dalam tindakan.
Dan satu pelajaran penting lainnya: Ramadan mengajarkan kita untuk membandingkan ke bawah, bukan ke atas. Saat kita merasakan lapar, kita lebih mudah berempati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan. Hati menjadi lebih lembut. Kita tidak lagi sibuk melihat siapa yang lebih kaya atau lebih sukses, tetapi lebih peka terhadap siapa yang membutuhkan uluran tangan.
Lupa bersyukur membuat hidup terasa sempit, bahkan di tengah kelimpahan. Ramadan datang untuk meluaskan hati. Ia mengajari kita bahwa nikmat tidak selalu harus besar untuk disadari. Kadang, cukup dengan seteguk air saat azan magrib berkumandang, kita memahami satu hal penting: selama ini Allah telah memberi begitu banyak, dan kitalah yang terlalu sering lupa menghitungnya.[]