Penulis-Penulis Instan
Oleh Udo Z Karzi
DI TENGAH riuhnya iklan pelatihan menulis yang menjanjikan “jadi penulis dalam tujuh hari”, “terbit buku tanpa ribet”, atau “langsung best seller”, kita sedang menyaksikan sebuah gejala yang ganjil sekaligus mengkhawatirkan: lahirnya penulis-penulis instan yang melompati satu tahapan paling mendasar dalam dunia kepenulisan—membaca. Iklan-iklan semacam itu tidak hanya menjual keterampilan, tetapi juga menjual ilusi: bahwa menulis adalah perkara teknik cepat, bukan proses panjang yang menuntut ketekunan intelektual dan kedalaman pengalaman membaca.
Fenomena ini, jika kita telusuri lebih jauh, bukan sekadar persoalan metode belajar menulis, melainkan bagian dari krisis literasi yang lebih luas. Kita hidup di zaman ketika membaca dianggap sebagai kegiatan yang lambat, sunyi, dan tidak “menjual”. Sebaliknya, menulis—terutama yang bisa segera dipublikasikan dan dipamerkan di media sosial—menjadi aktivitas yang lebih glamor. Maka lahirlah paradoks: orang ingin menjadi penulis, tetapi enggan menjadi pembaca.
Kecenderungan ini tentu problematis. Saya kerap menekankan bahwa kepengarangan bukanlah sekadar produksi teks, melainkan hasil dari pergulatan panjang dengan bacaan, realitas, dan bahasa. Menulis, dalam kerangka pikir ini, adalah proses yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi membaca yang kuat. Tanpa membaca, seorang penulis hanya akan mengulang klise, meniru gaya tanpa pemahaman, dan pada akhirnya menghasilkan karya yang dangkal.
Iklan-iklan pelatihan menulis instan cenderung mengabaikan dimensi ini. Mereka lebih menekankan “output”—berapa halaman yang bisa ditulis, berapa cepat buku bisa terbit—tanpa membicarakan “input” yang jauh lebih penting: apa yang dibaca, seberapa luas wawasan, dan sejauh mana penulis memahami konteks sosial-budaya dari tulisannya. Dalam logika industri semacam ini, menulis direduksi menjadi keterampilan teknis, bukan aktivitas intelektual.
Padahal, sejarah sastra—baik di tingkat nasional maupun lokal seperti di Lampung—menunjukkan bahwa hampir semua penulis besar adalah pembaca yang rakus. Mereka tidak hanya membaca karya sastra, tetapi juga esai, sejarah, filsafat, bahkan teks-teks yang tampaknya jauh dari dunia kepenulisan. Membaca memberi mereka perspektif, kedalaman, dan kepekaan. Tanpa itu, tulisan akan kehilangan daya gugah.
Masalahnya, budaya instan yang dipromosikan oleh iklan-iklan tersebut justru mendorong orang untuk melewati tahap membaca. Peserta pelatihan diajarkan bagaimana “menulis cepat”, “menentukan tema yang laku”, atau “mengikuti tren pasar”. Semua itu mungkin berguna dalam konteks tertentu, tetapi menjadi berbahaya ketika menggantikan proses pembentukan intelektual yang seharusnya menjadi fondasi seorang penulis.
Lebih jauh lagi, fenomena ini berkontribusi pada banjirnya teks yang miskin gagasan. Kita melihat semakin banyak buku terbit setiap tahun, tetapi tidak sebanding dengan kualitasnya. Banyak di antaranya terasa repetitif, dangkal, dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Ini bukan semata-mata kesalahan individu penulis, melainkan hasil dari ekosistem yang lebih menghargai kuantitas daripada kualitas.
Dalam konteks ini, kritik atas fenomena penulis instan menjadi relevan. Saya sering mengingatkan bahwa sastra dan tulisan tidak boleh terjebak dalam euforia produksi semata. Ada tanggung jawab intelektual yang melekat pada setiap teks yang dihasilkan. Penulis bukan sekadar “produsen kata”, melainkan juga pengolah makna. Dan makna tidak lahir dari kekosongan; ia lahir dari perjumpaan intens dengan berbagai bacaan.
Kita juga perlu melihat bagaimana iklan-iklan tersebut membentuk persepsi generasi muda tentang kepenulisan. Ketika mereka terus-menerus disuguhi narasi bahwa menulis bisa dilakukan tanpa membaca, maka yang terbentuk adalah mentalitas shortcut. Mereka mungkin bisa menulis satu-dua buku, tetapi tanpa fondasi yang kuat, sulit bagi mereka untuk berkembang menjadi penulis yang matang.
Di sisi lain, tidak bisa dimungkiri bahwa pelatihan menulis memiliki peran penting. Banyak orang yang terbantu untuk memulai menulis melalui kelas-kelas semacam itu. Namun, persoalannya adalah bagaimana pelatihan tersebut dirancang. Apakah ia mendorong peserta untuk menjadi pembaca yang lebih baik, atau justru mengabaikan aspek itu demi hasil instan?
Idealnya, pelatihan menulis harus menempatkan membaca sebagai bagian integral dari proses. Peserta tidak hanya diajarkan teknik menulis, tetapi juga diajak untuk membaca secara kritis, memahami berbagai gaya penulisan, dan mengenali tradisi yang melatarbelakangi sebuah karya. Dengan demikian, menulis menjadi proses yang reflektif, bukan sekadar reproduktif.
Kembali ke persoalan iklan, kita perlu bersikap lebih kritis sebagai konsumen. Tidak semua yang dijanjikan bisa diwujudkan, dan tidak semua metode cocok untuk semua orang. Menjadi penulis bukanlah proses yang bisa disederhanakan menjadi rumus cepat. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan—yang paling penting—kecintaan pada membaca.
Jika tidak, kita akan terus menghasilkan penulis-penulis instan yang cepat muncul dan cepat pula hilang. Mereka mungkin sempat meramaikan pasar, tetapi tidak meninggalkan jejak yang berarti. Sebaliknya, penulis yang tumbuh dari tradisi membaca yang kuat mungkin bergerak lebih lambat, tetapi karyanya memiliki daya tahan.
Pada akhirnya, esai ini bukanlah penolakan terhadap pelatihan menulis, melainkan ajakan untuk mengembalikan keseimbangan antara membaca dan menulis. Kita tidak bisa terus-menerus merayakan produksi tanpa memperhatikan konsumsi intelektual. Sebab, dalam pemikiran saya, menulis yang baik selalu berakar pada membaca yang serius.
Tanpa itu, kita hanya akan menjadi penulis-penulis instan—yang pandai merangkai kata, tetapi miskin makna. []
____
Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, menulis dan mengeditori sejumlah buku