Human

Mabuk Literasi: Antara Riuhnya Panggung dan Sunyinya Membaca

Kopi dan buku pun sunyi. | LensPulse/Pixabay

Oleh Udo Z Karzi

ADA semacam euforia yang sulit dijelaskan dalam lanskap gerakan literasi kita hari ini. Ia seperti pesta yang tak pernah sepi—ramai, meriah, penuh sorak, dan seolah-olah memberi kesan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Kata “literasi” diucapkan di mana-mana, dipasang di baliho, dijadikan nama program, bahkan dijadikan identitas kolektif. Namun, di tengah segala keramaian itu, kita mungkin sedang mengalami sesuatu yang jarang disadari: mabuk literasi.

Mabuk, dalam pengertian ini, bukan sekadar kegembiraan, melainkan kehilangan kendali. Kita merasa sedang bergerak, tetapi tidak tahu ke mana arah langkah. Kita sibuk melakukan banyak hal, tetapi tidak lagi yakin apa tujuan utamanya. Gerakan literasi pun tampak demikian—semakin ramai, tetapi semakin tidak menentu arah dan maunya.

Literasi yang semestinya berakar pada keberaksaraan—kemampuan membaca dan menulis—perlahan bergeser menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak lagi berpusat pada teks, pada keheningan membaca, pada kedalaman memahami. Sebaliknya, ia berubah menjadi perayaan kelisanan: bicara dan dengar, tampil dan ditonton, bersuara dan disoraki.

Di sinilah mabuk itu bermula.

Gerakan literasi yang mestinya menguatkan baca-tulis justru semakin larut dalam riuhnya panggung. Kita menyaksikan bagaimana kegiatan literasi lebih sering diisi dengan acara mendongeng, pelatihan public speaking, lomba pidato, membaca keras, hingga stand-up comedy. Semua kegiatan ini, tanpa ragu, dipromosikan sebagai bagian dari literasi.

Padahal, jika ditarik ke akar maknanya, literasi tidak pernah dimaksudkan sebagai panggung performatif. Ia adalah proses sunyi yang menuntut ketekunan. Membaca bukanlah tontonan. Ia tidak menghasilkan tepuk tangan. Ia bahkan sering kali terasa membosankan. Namun, justru dalam kebosanan itulah, pikiran dilatih untuk bertahan, untuk menyelami, untuk memahami.

Sebaliknya, panggung menawarkan sesuatu yang berbeda: instan, menarik, dan penuh apresiasi. Orang yang berbicara dengan lancar akan langsung mendapat pengakuan. Orang yang tampil percaya diri akan segera dipuji. Dalam logika seperti ini, tidak mengherankan jika gerakan literasi tergoda untuk berpindah dari ruang baca ke ruang panggung.

Perpustakaan daerah dan taman bacaan masyarakat menjadi contoh yang paling nyata. Lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi rumah bagi para pembaca justru bertransformasi menjadi penyelenggara acara. Mereka bangga ketika berhasil mengundang pendongeng, pencerita, atau tokoh-tokoh yang piawai berbicara. Mereka menggelar lomba membaca keras, pidato, hingga berbagai pelatihan yang menonjolkan kemampuan orasi.

Semua ini tidak salah, tetapi menjadi problematis ketika dijadikan inti dari literasi. Ketika keberhasilan diukur dari seberapa meriah acara, bukan dari seberapa banyak orang membaca. Ketika dokumentasi kegiatan lebih penting daripada proses yang terjadi di dalam diri peserta.

Dalam suasana mabuk seperti ini, kita kehilangan kepekaan untuk membedakan antara esensi dan aksesoris. Kita mengira sedang membangun budaya literasi, padahal yang kita bangun hanyalah budaya tampil.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Dari euforia ini lahir pula fenomena penulis-penulis instan. Mereka hadir dari proyek-proyek lomba dan pelatihan menulis yang menjanjikan hasil cepat. Dalam waktu singkat, seseorang bisa menjadi “penulis”, memiliki buku, bahkan mendapat panggung untuk berbicara tentang karyanya.

Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan: dari mana sumber tulisan itu? Apakah ia lahir dari proses membaca yang panjang? Apakah ia merupakan hasil pergulatan dengan berbagai gagasan?

Sering kali jawabannya tidak.

Menulis direduksi menjadi keterampilan teknis: bagaimana membuat pembuka yang menarik, bagaimana menyusun paragraf, bagaimana menutup tulisan dengan kuat. Semua itu penting, tetapi tanpa fondasi membaca, ia hanya menjadi kerangka kosong. Tulisan yang dihasilkan mungkin terlihat baik secara bentuk, tetapi miskin secara isi.

Menulis tanpa membaca pada dasarnya adalah bentuk lain dari “ngo-ceh” dalam bentuk tulisan. Ia tidak memberi nilai tambah, tidak membuka wawasan, bahkan bisa menjadi beban bagi pembaca. Alih-alih memperkaya, ia justru menambah kebisingan dalam ruang literasi.

Di titik ini, mabuk literasi mencapai puncaknya: kita berbicara banyak tentang tulisan, tetapi sedikit sekali membaca; kita menghasilkan banyak karya, tetapi minim kedalaman; kita merayakan penulis, tetapi melupakan pembaca.

Padahal, jika kita kembali ke fondasi yang paling dasar, tugas utama manusia telah ditegaskan sejak awal: membaca. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw. adalah Iqra’—bacalah. Perintah ini bukan sekadar simbolik, melainkan penegasan bahwa peradaban dimulai dari membaca.

Membaca di sini bukan sekadar aktivitas melafalkan huruf, melainkan proses memahami, merenungkan, dan mengolah makna. Ia membutuhkan waktu yang panjang, kesabaran, dan kerendahan hati untuk belajar. Dari proses itulah kemudian lahir kemampuan menulis yang sejati.

Dengan demikian, menulis seharusnya menjadi puncak dari proses membaca, bukan titik awal. Ia adalah hasil, bukan tujuan instan. Ketika seseorang menulis tanpa melalui proses membaca yang memadai, maka yang dihasilkan tidak lebih dari sekadar rangkaian kata yang kosong.

Kita perlu jujur bahwa literasi tidak bisa dibangun dengan cara instan. Ia tidak bisa dihasilkan dari satu-dua pelatihan, dari satu lomba, atau dari satu proyek penerbitan bersama. Literasi adalah proses jangka panjang yang membutuhkan ekosistem yang sehat: akses terhadap buku, kebiasaan membaca, ruang diskusi, dan budaya berpikir kritis.

Dalam konteks ini, perpustakaan dan taman bacaan perlu kembali ke fungsi dasarnya. Mereka harus menjadi ruang yang mendorong orang untuk membaca, bukan sekadar tempat menyelenggarakan acara. Program literasi harus diarahkan untuk membangun kebiasaan, bukan sekadar menciptakan keramaian.

Kita juga perlu mengubah cara kita memandang keberhasilan. Literasi tidak diukur dari jumlah kegiatan, tetapi dari perubahan perilaku. Apakah orang menjadi lebih sering membaca? Apakah mereka mulai menikmati proses memahami teks? Apakah mereka mampu menulis dengan lebih dalam dan reflektif?

Jika jawabannya tidak, maka mungkin kita memang sedang mabuk.

Mabuk oleh istilah, oleh kegiatan, oleh panggung, oleh tepuk tangan. Mabuk yang membuat kita merasa sudah sampai, padahal baru saja tersesat.

Maka, satu-satunya cara untuk sadar adalah kembali ke kesunyian. Kembali membuka buku, membaca dengan tekun, memberi waktu bagi pikiran untuk bekerja. Tidak ada sorak sorai di sana, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting: pemahaman.

Dan dari pemahaman itulah, jika memang perlu, tulisan akan lahir—bukan sebagai hasil proyek, tetapi sebagai kebutuhan. Bukan sebagai ambisi tampil, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab intelektual.

Program-program literasi perlu dirancang ulang agar benar-benar mendorong orang untuk membaca secara berkelanjutan. Misalnya, dengan membangun komunitas baca, menyediakan pendampingan membaca, atau menciptakan ruang diskusi yang berbasis pada teks yang telah dibaca bersama. Menulis pun harus ditempatkan sebagai kelanjutan dari proses tersebut, bukan sebagai tujuan instan.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap literasi. Literasi bukanlah kegiatan sesaat yang bisa selesai dalam satu acara. Ia adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Ia tidak selalu tampak menarik, tetapi justru di situlah letak nilainya.

Jika kita terus terjebak dalam euforia kegiatan tanpa substansi, maka gerakan literasi hanya akan menjadi proyek tanpa jiwa. Ia mungkin terlihat hidup, tetapi sebenarnya kosong. Sebaliknya, jika kita berani kembali ke akar—membaca dengan tekun, menulis dengan jujur—maka literasi akan kembali menemukan maknanya.

Pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan bukanlah seberapa banyak kegiatan literasi yang telah kita lakukan, melainkan seberapa banyak kita benar-benar membaca. Sebab, dari membaca itulah segala sesuatu bermula. Dan tanpa membaca, literasi hanyalah kata yang kehilangan makna. []

___________
Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, tinggal di Bandar Lampung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top