Apalah yang Bisa Kita Sombongkan?
PUASA Ramadan datang setiap tahun seperti cermin bening yang memantulkan wajah kita apa adanya. Di hadapan lapar dan dahaga, runtuhlah rasa tinggi hati yang selama ini kita pelihara diam-diam. Kita yang merasa kuat, tiba-tiba lemah oleh haus. Kita yang merasa paling benar, tersentak oleh kesalahan-kesalahan kecil yang berulang. Kita yang merasa paling baik, diuji oleh niat yang sering tak lurus. Ramadan seakan berbisik: apalah yang bisa kita sombongkan, jika menahan seteguk air saja kita tak mampu tanpa pertolongan-Nya?
Kesombongan sering tumbuh dari ilusi kendali. Kita mengira keberhasilan adalah hasil murni kerja keras kita, jabatan adalah buah kecerdasan kita, dan pujian adalah bukti keunggulan kita. Padahal, denyut jantung saja bukan kuasa kita. Nafas yang kita hirup setiap detik bukan hasil usaha kita. Ramadan meruntuhkan ilusi itu. Saat azan Magrib belum berkumandang, kita tak berani menyentuh makanan meski meja telah terhidang. Ada hukum yang lebih tinggi dari hasrat kita. Ada kekuasaan yang jauh melampaui rencana-rencana kita. Di situlah puasa menghancurkan rasa angkuh: kita dihadapkan pada kelemahan diri dan kebesaran Allah Swt.
Puasa juga mengajarkan kita tunduk pada Sunnatullah—hukum-hukum Allah yang mengatur semesta. Siang dan malam berganti tanpa bisa kita percepat. Waktu berbuka datang sesuai ketetapan, bukan sesuai keinginan. Tubuh memiliki batas; jika dipaksa melampaui, ia akan rapuh. Semua itu adalah pelajaran tentang keteraturan ilahi. Orang yang berpuasa belajar menerima bahwa hidup tidak selalu tunduk pada ambisi pribadi. Ada ketentuan yang harus dihormati, ada proses yang harus dijalani. Tunduk pada Sunnatullah berarti menyadari posisi kita sebagai hamba, bukan penguasa.
Sombong pada akhirnya menghancurkan diri. Ia membuat hati keras, sulit menerima nasihat, dan enggan mengakui salah. Kesombongan merusak relasi—karena orang angkuh selalu ingin menang sendiri. Ia juga merusak amal—karena kebaikan yang dilakukan demi merasa lebih tinggi kehilangan nilainya di sisi Allah. Bahkan dalam ibadah, kesombongan bisa menyusup halus: merasa lebih suci karena rajin, merasa lebih paham karena banyak membaca. Tanpa disadari, kita terjatuh pada jebakan yang sama: mengagungkan diri, bukan mengagungkan Tuhan.
Lalu, bagaimana menghindari sikap angkuh? Pertama, dengan sering mengingat asal-usul kita: dari tanah, dari setetes air yang hina. Kedua, menyadari bahwa semua kelebihan adalah titipan, bukan kepemilikan abadi. Jabatan bisa lepas, harta bisa habis, kesehatan bisa hilang. Ketiga, membiasakan diri menerima kritik dan meminta maaf. Orang yang mampu berkata “saya salah” sedang menumbuhkan kerendahan hati. Keempat, memperbanyak syukur. Hati yang sibuk bersyukur tidak sempat membusungkan dada.
Semestinya kita hidup di dunia dengan kesadaran bahwa kita hanyalah musafir. Dunia bukan panggung untuk memamerkan kehebatan, melainkan ladang untuk menanam kebaikan. Hidup tanpa kesombongan bukan berarti rendah diri, tetapi menempatkan diri secara proporsional: bekerja keras tanpa merasa paling hebat, berilmu tanpa meremehkan, beribadah tanpa menghakimi. Ramadan melatih kita untuk itu—menjadi hamba yang tenang, yang tahu batas dirinya.
Pada akhirnya, jika lapar saja membuat kita tak berdaya, jika seteguk air saja begitu berharga, apalah yang bisa kita sombongkan? []