Jangan Mengulang-ulang Taktik yang Sama
Oleh Gufron Aziz Fuadi
DALAM buku The Art of War, Sun Tzu mengatakan: “Taktik Anda seharusnya bervariasi sesuai keadaan dan berubah sesuai kondisi, medan perang itu seperti air yang beradaptasi terhadap permukaan berbentuk apapun saat mengalir dipermukaan tersebut. Jangan biarkan musuh mengetahui taktikmu. Jangan mengulangi taktik yang sama. Taktikmu seharusnya tidak mempunyai bentuk atau pola yang tetap. Taktik yang terbaik adalah ketika setiap orang dapat melihat langkah yang kamu ambil, tapi ketika kemenangan didapat, tidak seorang pun yang mengerti bagaimana kamu dapat menang…”.
Mengapa Sun Tzu berpesan seperti itu?
Karena bila strategi dan taktik kita terus berulang dan dengan pola yang sama maka pihak lain akan mudah membaca dan mengantisipasinya.
Disamping itu, strategi dan taktik yang sama tidak selalu tepat dengan situasi dan kondisi yang berbeda.
Contohnya, dulu ada partai yang sukses dengan taktik direct selling untuk mengenalkan dan mengkampanyekan partai dari rumah ke rumah. Kampanye murah meriah ini, karena dilakukan oleh kadernya dengan ikhlas, cukup sukses meningkatkan elektabilitas partai sehingga menambah kursi cukup lumayan.
Pada pemilu berikutnya model direct selling ini juga dilakukan oleh partai lain dengan pelaksana profesional (berbayar) dan menambahkan sesuatu yang tidak ada pada partai pertama, yaitu cendera mata baik uang maupun barang. Sehingga efektivitas taktik ini semakin berkurang dan terus berkurang pada kompetisi berikut berikutnya.
Sebab, dalam setiap kesuksesan akan selalu ada pihak lain yang melakukan 3N: niteni, nirokke dan nambahi. Memperhatikan/mempelajari, meniru dan menambahkan sesuatu yang kurang.
Segala sesuatu pasti akan ada kadaluwarsanya. Ketika kita terus tenggelam dalam sumur romantika kesuksesan masa lalu, kita akan segera tertinggal oleh orang yang terus berkreasi dan berinovasi. Karena kehidupan di alam nyata (bukan dalam sumur) selalu menghadapi tantangan yang mendorong untuk terus berkembang.
Dalam perang Ahzab, secara teori nabi dan kaum muslimin di Madinah yang berpenduduk sekitar 3,500 jiwa dengan hanya 900 pasukan perang tidak akan mungkin mampu bertahan apalagi mengalahkan pasukan sekutu Arab yang berjumlah 10.000 pasukan plus ratusan pasukan pengkhianat Yahudi bani Quraidzah di Madinah, yang bersekutu dengan Quraisy. Sehingga persekutuan ini sangat mencekam bagi kaum muslimin sebagaimana digambarkan Allah dalam surat Al Ahzab, 10:
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.”
Akan tetapi kreatifitas dan inovasi dua orang sahabat, Salman al-Farisi dan Nu’aim bin Mas’ud dapat memberikan jalan keluar dan mengatasi jalan buntu sehingga pasukan sekutu tercabik cabik.
Salman mengusulkan pertahanan dengan cara baru, membuat parit (khandak) yang tidak bisa dilompati oleh kuda (lebar 6 m, dalam 3 m), sebuah strategi pertahanan baru yang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab, sehingga pasukan sekutu tidak bisa berbuat banyak. Ini ide kreatif diawal perang.
Dan perang Ahzab ini diakhiri dengan ide kreatif Nu’man bin Mas’ud, seorang laki-laki dari bani Ghaftan yang baru masuk Islam saat perang ini berlangsung.
Setelah mualaf, Nu’aim berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!”
Kemudian Rasulullah memberikan beberapa arahan, bahwa perang itu tipu daya, al harbu khud’ah.
Setelah itu, Nu’aim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak terlibat dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.
“Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini. Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu’aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.
Setelah itu, Nu’aim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama. Nu’aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab. Kepada Quraisy pun disarankan Yahudi bani Quraidzah menyerahkan beberapa tokohnya sebagai jaminan persekutuan.
Begitu pun kepada kabilahnya, bani Ghaftan.
Sehingga akhirnya dengan tipu daya yang dilancarkan oleh Nu’aim, persekutuan Arab dan Yahudi hancur berantakan dan kalah. Yahudi bani Quraidzah terusir dari Madinah, Quraisy dan Arab lainnya tidak lagi punya nyali untuk menyerang Madinah sampai akhirnya mereka tunduk kepada Islam.
Mungkin brainstorming perlu sering dilakukan. Karena brainstorming melatih otak manusia untuk memicu munculnya ide dan kemudian meletakkan ide-ide tersebut di atas kertas. Biarkan ide bermunculan, seaneh apapun, karena justru seringkali ide non konvensional inilah yang memberi jawaban terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Bukankah praktik brainstorming pertama kali dilakukan oleh perusahaan sepatu yang hampir bangkrut, kemudian terselamatkan dari brainstorming dengan munculnya ide nyleneh, membuat sepatu dari mata kutjing?
Wallahua’lam bi shawab. []