Islam itu Washathan
Oleh Gufron Aziz Fuadi
DULU kami pernah bergabung dengan lembaga donor dakwah dari Saudi, International Islamic Relief Organization. Dalam suatu kesempatan di Puncak Bogor tamu dari Saudi ini, untuk refreshing, mengajak main sepakbola. Kami dibagi dua tim dan dia masuk tim yang menjadi lawan tim kami sekaligus menjadi wasit.
Awalnya tim kami unggul 2-0, sementara hari sudah menjelang maghrib dan belum ada tanda tanda wasit bakal meniup peluit panjang. Akhirnya saya berbisik kepada kawan satu tim, kasih dia gol biar dia senang dan permainan selesai…
Benar saja, setelah wasit melesakkan gol penyeimbang 2-2, wasit langsung meniup peluit panjang tanda permainan berakhir. Hahaha…, meledaklah tawa kami semua. Benar benar refreshing!
Kalau saja ini pertandingan tarkam, mungkin wasit ini sudah dikejar-kejar dan dipukuli…
Dari kisah ini saya hanya ingin mengatakan bahwa bersikap adil dan seimbang itu susah. Jangankan untuk orang lain, adil untuk diri sendiri aja berat. Sehingga kebanyakan kita tidak memiliki postur tubuh yang ideal, karena kita tidak bisa seimbang dalam mengkonsumsi makanan, olahraga dan aktivitas lainnya.
Islam adalah agama yang sempurna yang memberi panduan seimbang antara pemenuhan kebutuhan jasad, ruh dan pikiran.
Salah satu karakteristik agama Islam adalah at tawaazun (seimbang).
Islam mengajarkan, pa pun jika sudah tidak seimbang atau berat sebelah, maka akan menyusahkan dan membawa kerusakan
Salah satu keseimbangan yang dituntut adalah seimbang antara bersikap lemah lembut (ar rifq) dan tegas (asy syadid).
Surat Al-Baqarah ayat 143 merupakan salah satu teks keagamaan yang secara gamblang menunjukkan moderasi itu. Di sana Allah berfirman:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan agar kamu menjadi syuhada terhadap/buat manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi syahid (saksi) terhadap/buat kamu.”
Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya. Orang bijak berkata: “Sebaik-baik segala sesuatu adalah yang di pertengahan”.
Dengan kata lain, yang baik berada pada posisi antara dua ekstrem.
“Keberanian” adalah pertengahan antara sifat ceroboh dan takut; “Kedermawanan” adalah pertengahan antara sifat boros dan kikir; “Kesucian” adalah pertengahan antara kedurhakaan yang diakibatkan oleh dorongang nafsu yang menggebu dan impotensi.
Al-Qur’an pun dalam berbagai ayatnya mengisyaratkan tentang baiknya yang di tengah. Misalnya:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra ayat 29).
Atau:
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’ ayat 110).
Dari sini kata wasath berkembang maknanya menjadi “tengah”.
Selanjutnya, orang yang menghadapi dua pihak berseteru dituntut untuk menjadi wasith (wasit), yakni berada pada posisi tengah, dalam arti berlaku adil. Maka dari sini lahir lagi makna ketiga bagi wasath, yaitu “adil”. Yang terbaik, tengah, dan adil, itulah tiga makna popular dari wasath.
Rasulullah Saw adalah orang yang sangat adil. Begitu adil nya untuk dirinya sendiri, beliau hanya tercatat dua kali sakit, termasuk sakit menjelang wafatnya. Ini karena beliau adil dan seimbang dalam makannya dalam aktivitas fisiknya dan ibadahnya.
Bila kita mempelajari sirah nabawiyah, kita akan mengetahui bahwa Rasulullah Saw adalah juga pemimpin yang seimbang dalam kelembutan dan ketegasan.
Kelembutannya, membuat beliau mudah menyantuni orang lain termasuk orang Yahudi miskin dan buta yang setiap hari mencaci maki beliau. Dan ketegasannya, membuat beliau tidak segan untuk melakukan peperangan dan menegakkan hukuman berat sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Sebagai muslim kita harus paham bahwa lemah lembut dan tegas itu mesti seimbang.
Kapan mesti lembut, kapan mesti tegas. Keduanya mendapat porsi yang benar, seimbang, dan pantas.
Begitulah seharusnya seorang muslim dalam menyikapi apa yang dialami Islam dan kaum muslimin dari pihak yang memusuhi mereka.
Lembut tidak pada tempat dan waktunya adalah zalim.
Keras tidak pada tempat dan waktunya juga dzalim.
Dan, zalim itu bukan akhlak seorang muslim.
Menggambarkan rasulullah saw sebagai sosok yang lemah lembut saja, tanpa menjelaskan sifat dan sikap tegas dan kerasnya, tentu saja iti fitnah dan mendzalimi beliau.
Sebab, khairul umur awsathuha – sebaik baiknya perkara adalah yang pertengahan.
Lantas bagaimana dengan klaim orang orang yang mengaku sebagai kelompok yang paling washathan?
Ya, ukur saja dengan standar di atas…
Wallahul muwafiq Ilaa aqwaamith thariq. []