Kolom

Sebab, Saya tak Terlalu Sabar

LAMA saya mikir… Saya lebih baik baca buku saja atau majalah atau koran. Soalnya saya susah sabar. Kalau kesel, tidak suka dengan saya baca, tinggal saya tinggal pergi buku atau bacaan itu. Buku tuh gak protes.

Kalau saya marah karena bukunya gak bikin saya hepi, bukunya bisa saya banting keras-keras. Buku tuh gak kan bisa bales ke saya.

Sering banget, lagi baca buku, ee… tiba-tiba saya ngantuk, bukunya jatuh. Mungkin sakit. Tapi, dia tuh tak pernah mengaduh. Kalau itu orang, gimanalah orang yang sedang ngobrol trus ditinggal molor. Dicuekin. Tapi, buku cuma diam. Suka-suka yang bacalah.

Buku bisa saja saya pukul, injak-injak, kesiram kopi panas, disobek-sobek… Tetap saja buku cuma bisa pasrah.

Saya lebih suka baca buku cetak ketimbang membaca — buku sekali pun — di hape, laptop atau komputer. Takut saya tak sabaran lalu membanting hape atau marah-marah ke komputer kemudian menendangnya.

Benar, saya lebih suka membaca buku ketimbang menonton sinetron yang ceritanya dipanjang-panjangin meskipun penuh kebetulan dan sering tidak masuk akal — membuat saya mengoceh sendiri dan membuat sebel penonton lain.  

Ternyata, saya lebih suka membaca buku. Sebab, saya tak terlalu sabar mendengar pidato-pidato, ceramah-ceramah, dan oceh-ocehan tak karu-karuan di luar nalar, jauh dari kebenaran, dan sama sekali tak berdasar. Rasanya, pengin saya banting-banting kayak buku yang gak saya sukai, orang yang bisanya ngomong doang tanpa ngerti apa yang dia omongin.

Tabik. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top