Pustaka

Tunah, Menyelami Perlakuan Buruk pada Perempuan

TUNAH adalah korban. Ia potret perempuan yang ‘dipaksa’ pasrah menerima keadaan yang tidak memihak padanya. Nasib yang membawanya ke jeruji besi untuk sebuah tindakan membela diri. Dia sendirian tanpa pembelaan, tanpa upaya memahami apa sesungguhnya yang terjadi, dan tanpa usaha untuk memberikan keadilan yang hakiki — dari sesiapa pun, termasuk dari suaminya, orang terdekat dengan dirinya.

….

Aduh, lelet sekali saya menyelesaikan Tunah, novel perdana Dewi Hendrawati Tresnaningtyas. Novel setebal 230 halaman ini diterbitkan CV Future Business Machine Solusindo/www.joeragan-artikel.com, Mei 2021 saya terima Sabtu, 22/5/2021. Tapi, baru malam ini, Kamis, 27/5/2021 selesai saya baca. Hampir seminggu.

Tentu, ini bukan salah novelnya. Sayanya saja yang //adu tuha// sehingga susah fokus. Dewi menulis sangat datar setiap adegan bab demi bab nyaris tanpa perasaan. Meskipun peristiwa itu sesungguhnya bisa mengharu-biru, mengaduk-aduk hati, dan mungkin menguras airmata pembaca dari tokoh-tokohnya, Dewi menulis dengan ‘santai’ bangets. Saya sebagai pembaca nyaris tidak diberi kesempatan untuk ikut larut dalam kisah, emosi, bahkan bila perlu tertawa-menangis bersama sosok-sosok yang dikisahkan.

Untunglah, Dewi yang alumni Surat Kabar Mahasiswa Teknokra ini berhasil memunculkan kejutan di akhir cerita.

Ah, Tunah yang manis, Tunah yang baik, kenapa diperlakukan seperti ini.

Sebuah novel yang cantik-menarik! Sangat rekomended untuk dibaca sesiapa pun. Kita dapat menyelami perikehidupan dan perlakuan kurang baik masyarakat terhadap perempuan.

Pertanyaan setelah ini, tidakkah ada kesempatan bagi Tunah untuk memperjuangkan kebenaran dan menjauhkan ‘salah sangka’ orang terhadap dirinya. Barangkali saja, Dewi Tresnaningtyas, akan menjawabnya dalam karya-karya selanjutnya.

Selamat dan sukses ya Dewi. Lanjut ke yang kedua, … dst.

Tabik! []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top