Cerita Bersambung

Negarabatin (9)

Hari pertama sekolah, aku diantar  Bak. Hanya sebentar karena pihak sekolah meminta orang tua siswa datang ke sekolah datang pada hari pertama sekolah.  Keesokan harinya sudah dilepas bak-mak, “Sudah sana berangkat sekolah sendiri. Anak laki-laki.  Dekat pula… masa tidak berani,” kata Mak ketika aku minta antar ke selolah keesokan harinya.

Teng teng teng… Bunyi bel keras sekali. Bagaimana tidak keras kalau belnya dari besi besar segi empat yang kosong bagian tengahnya. Kuingat lonceng ini terletak di kantor guru di sebelah kelas enam tergantung.

Hari pertama sekolah, kami semua kelas I sampai kelas VI berbaris di halaman sekolah. Biasanya, Senin  upacara bendera. Tapi, karena hari pertama sekolah, kami hanya dibariskan saja. Di belakang kami orang tua kami yang kelas satu semua. Ada pengarahan dari kepala sekolah. Bermacam-macam hal yang ada kaitannya dengan kami semua yang baru masuk SD. Aku memang mulanya bersekolah, teman-temanku yang lain ada yang sudah sekolah Taman Kanak-kanak. Makanya aku pertama kali memakai seragam sekolah.

Setelah upacara langsung masuk kelas satu. Kelas berdengung seperti bunyi tawon. Entah apa yang dibicarakan teman-teman sekalas masing-masing. Ramai sekali. Sangat ribut. Namun, seketika terdiam semua sekelas ketika terdengar bunyi sepatu masuk kelas. Tuk, tuk, tuk… langsung tertib mungkin bercamput takut.

Selamat pagi, anak-anak,” seorang lelaki berbicara dari belakang meja guru.

Tapi kami diam saja. Tak tahu apa jawabannya. Mungkin sudah ada yang bisa berbicara bahasa Indonesia, tetapi mungkin pula tidak tahu bagaimana harus menjawab ketika ada yang mengucapkan ‘Selamat pagi’.

Untung Pak Ubai, begitu nama wali kelas kami di kelas satu, engerti benar mengapa kami tak membalas salamnya. Pak Ubai, seno gelarni wali kelas sekam di kelas sai.

Jadi, reji diya. Jak tanno neram mulai belajar bahasa Indonesia. Kak guru ngucakko ‘Selamat pagi, anak-anak’, murid-murid nimbal jama ‘Selamat pagi, Pak’ kik guruni bakas. Kik guruni bebai, keti nimbal, ‘Selamat pagi, Bu’[1],” ujarnya.

“Tanno, cuba nyak nagu keti[2], ‘Selamat pagi, anak-anak’,” kata Pak Ubai lagi.
“Selamat pagi, Pak,” sedikit anak yang bersuara.

“Belum banyak yang bersuara. Coba lagi, jawab bersamaan dan kuat: Selamat pagi, anak-anak,” guru kelas satu memang mesti mengajar sabar, perlahan-lahan, dan berulang-ulang.

“Selamat pagi, Paaak…!” Sekarang kami sekelas menjawab semua keras-keras.

“Nah, begitu. Bagus… Jadi, sekarang kalian semua sudah kelas satu Sekolah Dasar Negeri 1 Negarabatin. Hari ini kita belum belajar. Kita kenal-kenalan dahulu saja. Coba kamu… siapa nama yang disebelahmu yang satu meja?” Pak Ubai menunjuk salah seorang temanku.

Yang ditunjuk takut-takut, hanya menggelengkan kepala, tidak tahu.

“Nah betul banyak yang belum tahu sesama satu kelas. Kalau saya ada yang sudah kenal?”

Aku mestilah kenal pada Pak Ubai. Sering bertemu karena rumahnya di sebelah rumahku. Tapi, aku diam saja. Sanak lunik[3]! Malu bercampur tidak berani.

Pak Ubai mulai memperkenalkan dirinya, “Nama saya Zubairi. Panggil saja Pak Ubai. Saya wali kelas kalian kelas satu. Rumah saya di Uncuk. Jika kebetulan lewat mampirlah di rumah. Kalau bertemu kita bertegur-sapa. Nah, sekarang kita mulai kenal-kenalan. Menyebutkan nama, nama orang tua, tinggal di mana, dan apa cita-cita kalian… Siapa yang tahu apa arti ‘cita-cita’?”

Tak ada yang tunjuk tangan.

>> BERSAMBUNG


[1] “Jadi, begini. Sejak hari ini kita mulai belajar berbahasa Indonesia. Jika guru mengucapkan ‘Selamat pagi, anak-anak, murid-murid mejawab, ‘Selamat pagi, Pak’ jika gurunya laki-laki. Kalau gurunya perempuan, kalian menjawab, ‘Selamat pagi, Bu’.”

[2] Sekarang, coba saya menyapa kalian

[3] anak kecil

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top