Cerita Bersambung

Negarabatin (10)

“Cita-cita itu, kalian hendak menjadi atau ingin menjadi apa jika besar nanti. Seperti jadi dokter, jadi insinyur, jadi guru, pilot, atau apa…,” jelas Pak Ubai.

Begitulah kami maju satu per satu. Bermacam-macam gaya teman-temanku memperkenalkan diri.

“Saya Hendra. Ayah saya camat… Kalau saya besar, saya ingin menjadi polisi. Kalian jangan main-main, saya tembak nanti,” ujar seorang kawanku.

Sama dengan temanku yang lain, “Nama saya Benny. Ayah saya polisi. Saya sering memperhatikan ayah saya memakai seragam. Ada pestol di sarungnya yang diselipkan di ikat pinggang sebelah kanannya.  Gagah sekali… Saya pernah melihat ayah saya menembak. Door… semua ketakutan. Saya ingin seperti Ayah saya.”

Gelarku[1] Aspiani…” Tapi macet temanku tidak tahu apa kelanjutannya.

“Terus…,” Pak Ubai bertanya.

Aspiani diam saja.

“Kamu memanggilnya bagaimana? Ani?”

Terbahak kami sekelas. Aspiani jelas lelaki. Ani biasanya nama perempuan. Merah muka Aspiani. Tapi, ia tak berani protes.

“Aspi, Pak,” jawab Aspiani.

“Oo… terus, apa cita-citamu?” tanya Pak Ubai lagi.

Aspiani diam lagi.

“Jadi dokter, guru, insinyur, presiden, petani, tentara atau api…?”

Induh[2]…”

“Ya, sudah. Belum tahu cita-citanya. Duduk.”

Giliranku… Dari tadi aku berpikir mau jadi apa kalau sudah besar nanti. Aku hanya ingat kata-kata-kata bak, mak, tamong, kajjong,  mamak, dan minan-ku. Mereka tidak bertanya mau jadi apa kalau besar. Cuma bilang, ‘Mau bersekolah di mana? Nah, bersungguh-sungguhlah belajar jika sudah sekolah. Rajin belajar supaya pintar. Banyak uang….’

“Nama saya Uyung….”

Nah, tertawa pula satu kelas. Kenapa pula?

Uyung itu panggilan semua anak laki-laki. Kamu kan punya nama sebenarnya. Siapa nama yang diberikan orang tuamu?” tanya Pak Ubai.

Aku bingung. Jadi diam saja.

“Coba saya lihat,” ujar Pak Ubai sembil membuka buku di depannya.

“Namamu Zulkarnain.”

Oh, kataku dalam hati, gelarku Zulkarnain. Tapi namaku dari tamong-ku, bukan dari bak dan mak.

“Kamu mau jadi apa?” Pak Ubai bertanya.

“Ikut tamong saja,” kataku.

“Jadi ngebun[3], nyabah[4], dan nyebak[5]?” bertanya lagi Pak Ubai.

Aku hanya mengangguk.

Demikianlah semua kebagian memperkenalkan diri. Maju pula Nettit. Kata Netti, ia hendak berdagang saja. Ati mau jadi guru. Mamak ingin jadi insinyur. Ada Ijal, Yosi, Jaya, Kifli, Polok, Yestri, Gadis, Riswan, Risna… sekelas ramai sekali sampai-sampai ada temanku yang tidak kebagian bangku. terpaksa duduk bersama. Sebangku diduduki dua anak.

Entah mengapa orang tua berebut memasukka anaknya ke SDN 1 Negarabatin. Padahal, ada SD negeri di Negarabatin sejak 1970-an, yaitu SDN 1, SDN 2, dan SDN 3. Mungkin karena Negarabatin ini ibu kota Kecamatan Balik Bukit. Walaupun ibu kota kecamatan, tiga SDN boleh dibilang banyak juga jika membandingkan jumlah penduduk di pekonku ini. 

Di antara tiga SD, ada SD yang kekurangan murid. Nah, ceritanya beberapa hari kami bersekolah, ada guru yang masuk kelas kami menjelaskan ada teman kami yang diminta SDN 2 Negarabatin. Intinya, dipindahkan ke SDN 2. Ada tak kurang dari 16 siswa dipindahkan ke SDN 2.

>> BERSAMBUNG


[1] Nama saya…

[2] entah

[3] berkebun

[4] bersawah

[5] menyadap nira dari pohon aren untuk dibuat gula merah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top