Negarabatin (16)
Yang tidak asyiknya, aku beberapa kali mendapatkannya pula. Sara[1] rasanya. Merah-merah bercampur biru lebam tangan dan kakiku. Tidak bisa protes. Wak Bakri ini otoriter. Padahal, dalam hatiku, apa benarlah salahku. Aku hanya mendapat bagian dari yang lain saja.
Oleh karena itu, berbagai pula ulah anak ngaji. Ada yang pamit ngaji di rumah, tetapi tidak sampai ke surau. Entah sembunyi di mana. Entah karena ketakutan, entah pula karena bermalasan… Bisa dipahami kalam musim 17-an – waktu ngaji sudah sore, bukan lagi malam – banyak pula yang berbelok ke lapangan tidak sampai surau. Menonton sepak bola.
***
Sebenarnya aku termasuk terlambat ketimbang kawan-kawan yang seletingan karena tidak langsung mengaji di surau. Mestinya setelah mengaji dengan tamong-ku, aku lanjutkan kajianku saja. Tapi, kata mamak yang duluan mengajar aku ngaji, coba dari awal dahulu. Mulai lagi dari awal alif bat ta…. Untung tidak lama, tidak sampai tammat Amma, aku sudah ngaji Quran. Di tes Wak Bakri terlebih dahulu, siapa-siapa yang sudah lancar membaca Amma, di dinaikkan ke Quran. Tapi, tetap saja aku di belakang, teman-temanku sudah juzz ke sekian, aku baru mau mulai Surat Al Fatihah dan Al Baqarah.
Ya baiklah, tak apalah. Mungkin saja aku agak bengol[2], tidak seperti saat ngaji Amma yang lancar tak ada yang salah, ketika ngaji Quran, aku lebih sering dimarah-marahi Wak Bakri. ‘Kenapa kok bacaanku salah melulu,’ kata hatiku. Karena itu, bacaanku susah sekali maju dari baris dan halamannya tidak seperti yang lain yang boleh dua-tiga halaman sekali baca.
“Kenapa kok begitu. Ulang…,” kata Wak Bakri kepadaku.
“Buka begitu, coba lagi bacaannya…,” kata Wak Bakri lagi.
Wak Bakri ini bikin kesal saja. Kenapa yang lain tak salah-salah, giliranku salah melulu. Sering aku bertanya dalam hati ketika mengaji dengan Wak Bakri. Kalau begini, aku berhenti saja ngaji kepada Wak Bakri. Wak Bakri pilih-pilih orang. Mengapa ia baik dengan yang lain, kok denganku tidak. Padahal, yang saya dengar, Jahri, bak-ku dahulu ketika masih kanak-kanak dan menjadi murid ngaji Wak Bakri, termasuk santri kesayangannya. Bakku sangat faseh membaca Quran. Tapi, giliran anaknya, artinya cucu Wak Bakri, kok tidak. Apakah Wak Bakri ini benci kepadaku. Tapi, apa pula salahku. Ah, barangkali saja, itu perasaanku saja. Tapi, tetap sajak aku tak merasa nyaman ngaji dengan Wak Bakri.
Tapi bagaimana pun, aku tetap mengenang, mengingat, menaruh hormat, dan mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ustaz Haji Ahmad Bakri. Ia adalah guru besar bagiku dan tentu bagi teman-temanku yang mengaji dengannya dan menimba ilmu agama, yang sadar tidak sadar menjadi dasar dan pondasi kami, anak-anak Negarabatin dalam beragama dan menjalani kehidupan yang penuh onak dan duri.
Kata orang-orang, sebandel-bandelnya anak atau sejahat-jahatnya ulun Negarabatin, ia bisa ngaji atau membaca Alquran. Dengan sangu[3] itu, akan lebih mudah meluruskan kembali jalan mereka yang tergelincir ke jalan sesat.
Kembali lagi, sudah beberapa temanku khatam Quran. Hapalan surat-surat pendek di juzz 30. Kemudian dibuatkan sekunyit[4], dibacakan doa bersama, dan dibagi-bagikan kepada kami. Kalau sudah tamat, anak mengaji lagi, tetapi ngaji jurak[5]. Qurannya dibalik, anak yang sudah khatam membacanya secara terbalik.
Sesekali Wak Bakri yang membaca Alquran. Kami semua satu surau yang menyimak. Ada pula mantan santri WakBakri yang sudah berhasil di tempat lain kebetulan mulang pekon[6] diminta Wak Bakri membaca Alquran di Surau. Kami semua diminta Wak Bakri menyimak agar kami bisa belajar bagaimana cara membaca Quran yang bagus dan benar. Kalau ada yang salah baca, tetap saja ditegur dan minta dibenarkan bacaannya.
>> BERSAMBUNG
[1] lara, sengsara
[2] (bukan) bodoh, agak sulit menangkap pelajaran
[3] bekal
[4] nasi kuning
[5] ngaji terbalik, Alquran dibaca secara terbalik dari depan.
[6] pulang kampung